Villains, I'M Yours Psychopath Love

Villains, I'M Yours Psychopath Love
Hike Membakar Xavier



Melihat Hike terus menatap lurus pada bagian bawahnya, Xavier menyunggingkan senyum iblisnya yang menawan.


"Sepertinya akan ada hal aneh yang akan dilakukan oleh wanita ini jika aku terus saja berdiam diri. Meskipun aku sangat ingin mengetahu apa yang akan dilakukan olehnya, namun sebaiknya aku hentikan saja sampai disini." Sedetik, tepat sebelum Xavier mulai berbicara, kain handuknya sudah melayang dengan cepat ke udara.


"Kyaaa… hahahahaha aku berhasil membuka handuknya!" Teriak Hike dengan begitu semangat sembari menutup matanya karena malu.


Rasa penasaran memang mengalahkan segalanya, terlebih karena ia merasa sedang berada dalam dunia game dan mimpi, dia menjadi sedikit kehilangan kewarasannya.


"Luar biasa… dia ngaceng!!!" Setelah membuka matanya perlahan-lahan, Hike segera mengatakan itu dengan tidak tahu malunya.


"Keren sekali… game juga bisa begitu? Tapi kenapa aku tidak tahu malu sekali?" Hike bertanya pada dirinya sendiri namun matanya benar-benar menikmati pemandangan itu dengan heboh.


Dia memegang kedua pipinya sendiri yang memerah panas dengan kepala yang sudah mengeluarkan asap mengepul.


Xavier yang membeku dan membantu dalam mode shocknya benar-benar tidak bisa terima karena saat ini dia tengah dipermainkan oleh seorang gadis muda.


Dia memang punya kepercayaan diri yang besar jika ingin memperlihatkan senjata bahagianya kepada semua wanita, namun Hike baru saja tertawa melihat barangnya tersebut. Sebuah pelecehan yang membuat rahang Xavier mengeras dan penuh murka.


"Ah… rasanya legah sekali sudah melihat semua yang ada pada tubuh Xavier. Jika seandainya ini di dunia nyata, aku mungkin sudah melakukan hal yang sangat memalukan." Hike merebahkan diri di atas ranjang tak sadar kalau lukanya kembali terbuka.


"Rasanya kesedihan ku sudah hilang semua. Bertemu dengan Xavier, meski semua ini hanya game dan mimpi indahku saja. Tapi aku benar-benar puas." Lanjutnya lagi yang mulai menutup matanya perlahan-lahan kehabisan energi dan mulai merasakan kantuk yang cukup berat.


"Sial… wanita ini sepertinya sengaja untuk melakukan ini padaku. Dia juga dengan cerobohnya terlentang seperti itu." Xavier segera berjalan perlahan dan menindih tubuh Hike.


"Berani sekali kamu… sudah melakukan hal itu tapi kau tidak ingin bertanggungjawab dan sekarang kau ingin tidur?" Suara dingin Xavier langsung merasuk masuk kedalam tulang Hike.


Hike membelalak kaget dan tak menyangka kalau saat ini wajah Xavier sudah berada sangat dekat dengannya dan tubuh beratnya sudah berada di atasnya.


"Apa ini? Bukankah harusnya dia masih belum bisa bergerak?" Batin Hike mulai merasa takut dengan apa yang sudah terjadi.


"Lihatlah… sekarang sepertinya kau sudah menyadari apa yang sudah kau lakukan. Apa kau pikir karakter game akan bisa melakukan ini?" Dia menggesekkan batang bahagianya ke paha Hike, hingga membuat tubuh wanita itu bergetar hebat.


"Oh sial… tidak mungkin semua ini hanyalah karakter game. Tubuhku berekasi dengan sentuhannya. Jika ini mimpi, aku ingin segera bangun. Rasanya akan sangat memalukan jika aku sampai harus mimpi basah karena hal ini." Hike segera membuang wajahnya dan menutup matanya dengan sangat erat.


"Kalau ini mimpi… masa iya sekarang aku lagi mimpi basah!" Gumam Hike dengan tubuh yang masih bergetar hebat. Suaranya lirih dan sedikit serak, namun dapat di dengar dengan jelas oleh Xavier.


Xavier tertawa mendengar apa yang dikatakan olehnya, namun melihat reaksinya yang sangat besar itu membuat Xavier, semakin tidak tahan untuk mempermainkan dirinya. 


Deru napas Xavier yang hangat semakin membuat Hike takut. Dia langsung berusaha mencari cara untuk melepaskan diri dari Xavier, namun tenaga laki-laki itu cukup kuat.


"Xavier.. to.. tolong hentikan…" pinta Hike, berharap kalau pria itu mendengarkannya.


Xavier yang sudah mengecup lembut leher Hike, sudah tidak bisa menghentikan aksinya. Tidak setelah pancingan yang sudah dilayangkan oleh Hike kepadanya.


"Kau sangat sensitif sekali. Bahkan dengan sentuhan kecil seperti ini sudah membuatmu bergetar dengan hebatnya." Sentuhan Xavier kembali membuat Hike terlonjak.


Napasnya kini sudah tidak beraturan. Xavier memang sudah sangat berpengalaman dalam memahami semua hal tentang tubuh wanita sehingga sangat mudah baginya untuk mengendalikan tubuh Hike.


"Akhh… to.. tolong hentikan! Maafkan aku, aku tidak akan melakukan hal itu lagi padamu. Ampuni aku kali ini saja…" Xavier yang menggigit bagian atas dada Hike membuatnya memelas agar pria itu menghentikan aksinya.


Xavier yang melihatnya memelas seperti itu malah semakin membuat gairahnya mencapai maksimal. Dia tidak membiarkan Hike untuk berbicara lebih lanjut dengan menutup mulut hike menggunakan bibirnya.


Permainan Xavier yang baru pertama kali dirasakan oleh Hike membuatnya tak mampu mengendalikan tubuhnya. Moralnya kini sudah berada dititik terendah. Dia sudah berusaha untuk beronta beberapa kali, namun Xavier dapat dengan mudah mengunci semua gerakannya.


"Ughhh…" gerakan agresif Xavier semakin membuat darah di dada kanan Hike mengalir deras. Hidung Xavier yang mencium bau darah segera melepas ciumannya pada Hike, yang sudah meringis sakit karena lukanya yang kembali terbuka.


"Sial… Aku lupa kalau kau adalah wanita yang sedang terluka." Xavier bangkit dari kasur dengan penuh amarah.


Dia segera mengambil handuknya dan melakukan panggilan dengan seseorang.


"Kerumahku sekarang juga jika kau masih ingin hidupmu baik-baik saja." Ancamnya pada seseorang di balik panggilanya.


"Apa? Apa kau tidak salah? Sekarang masih jam setengah tiga subuh. Bisakah aku datang di pagi hari? Biarkan aku beristirahat sejenak lagi." Pria itu tampak menolak dengan suaranya yang sangat menahan kantuk.


"Jika dalam waktu lima belas menit kau belum datang, kau akan menaggung sendiri akibatnya." Ucap Xavier lalu mengakhiri panggilan telponnya. 


Dengan kesal dia membiarkan Hike yang sedang meringis sakit, lalu masuk kedalam kamar mandi untuk meredamkan api yang sudah di bangkitkan oleh Hike.


"Asshh... Kenapa rasanya sakit sekali? Bukankah ini hanya mimpi? Tidak mungkin kan aku bisa merasakan sakit seperti ini." Perlahan-lahan dia kehilangan kesadarannya setelah berusaha menahan sakit pada dada kanannya.


Disaat yang bersamaan, seorang pria kembali mengguyur tubuhnya di bawah pancuran air. Berbeda dengan yang sebelumnya, kali ini menggunakan air dingin agar benar-benar bisa menyulutkan api dalam dirinya kembali padam.


"Apa seleraku sekarang semakin rendah? Dengan begitu mudahnya aku terbakar oleh seorang gadis berdada rata dan wajah yang jauh dari kesan cantik sepertinya." Xavier menjambak rambutnya sendiri memikirkan dia yang selama ini berdarah dingin bisa dengan mudah dibuat mendidih oleh seorang wanita yang belum pernah ditemui olehnya sebelumnya.