
"Tidak perlu meminta maaf."
Tuan Putri Vashti melangkah dengan menggandeng tangan sang Nona Muda yang akan sesegera mungkin menjadi adik iparnya. "Di mana kediaman Capillus itu? Apa masih terlalu jauh dari sini?"
"Tidak, Tuan Putri. Sebentar lagi akan segera sampai," jawab Nona Muda Cuini yang langsung berbelok, tepat di sana terlihat bangunan kayu yang memiliki daun bertabur-taburan, yang sengaja di tiup angin juga terbang sendirinya, akibat kekuatan dari kediaman Capilus. "Silakan, Tuan Putri."
"Ini ... kediaman Capillus?" Tuan Putri Vashti menatap Nona Muda Cuini. "Tempat tinggalmu?"
"Iya, Tuan Putri. A ... pa indah?"
Tuan Putri Vashti mengangguk. "Indah. Sangat indah, Cuini. Daun-daun itu ... terbang karena angin, bukan?"
Nona Muda Cuini tersenyum lebar. "Sebagian iya. Dan sebagainnya tidak, Tuan Putri. Karena kediaman Capillus ini biasa di gunakan untuk tempat meracik obat-obatan."
"Jangan ... jangan bilang, daun-daun berterbangan itu juga obat?" Tuan Putri Vashti berjinjit, mengapai salah satu daun yang berterbangan. Lantas mendekatkannya pada hidung "Tidak ada bau, Cuini."
Nona Muda Cuini mengangguk. "Iya, Tuan Putri. Daun-daun itu bermanfaat untuk pemulihan tambahan, bagi orang-orang yang meracik obat setiap hari pasti merasa kelelahan. Sehingga, Kakak menciptakan obat itu untuk di sebar luaskan pada para peracik obat."
Tuan Muda Lind itu ... benar-benar mengagumkan, batin Tuan Putri Vashti yang melangkah masuk perlahan di kediaman indah yang pada langkah pertamanya, tercium segala aroma dedaunan serta kebaikan hati yang tulus.
"Diberi nama apakah obat itu oleh Kakakmu?"
Nona Muda Cuini menjawab, "Remedios Capillus."
"Mengapa harus ada nama Capillus di belakangnya?"
Nona Muda Cuini mempersilakan Tuan Putri Vashti untuk duduk di atas gubuk kayu yang di bawahnya terdapat kolam yang berisi daun-daun obatan. "Sebab daun-daun ini hanya ada di kediaman Capillus saja, Tuan Putri. Remedios Capillus hanya berterbangan dan mengelilingi kediaman ini saja, memberi tenaga tambahan untuk para peracik obat yang bekerja di bawah naungan keluarga kami."
"Ya, Tuan Putri?"
Seulas senyum Tuan Putri Vashti tampakkan. "Jika aku bisa berkata jujur. Memiliki Kakak seperti Tuan Muda Lind adalah takdir yang baik dari Sang Alam untukmu, serta keluargamu."
"Anda benar, Tuan Putri. Namun jika saja aku bisa memiliki suami seperti Kakakku, mungkin aku akan merasa bahagia sepanjang masa hidupku," sahut Nona Muda Cuini.
"Hm ... seperti itu?" Tuan Putri Vashti menyelipkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Nona Muda Cuini. "Aku akan selalu mendo'akanmu, Cuini. Supaya kelak ... kau memiliki suami yang mencintai dan menyayangimu tanpa syarat. Bahkan rela hidup bersamamu tanpa peduli akan kasta dan segalanya."
Kedua pipi Nona Muda Cuini memerah. "Tu-tuan Putri. Terima kasih ... terima kasih atas berkatmu."
"Dan jika aku bisa meminta. Do'akan lah kebaikan untuk kehidupanku," imbuh Tuan Putri Vashti.
Netra Nona Muda Cuini mengerjap berkali-kali, terkejut rasanya akan permintaan Tuan Putri Vashti yang menginginkan berkah dari hamba ter-rendah ini. "Te-tentu saja, Tuan Putri. Sang Alam akan segera memberi anda kebahagiaan atas kebaikan yang anda lakukan selama ini."
Aku tidak yakin mengenai itu, Cuini ... batin Tuan Putri Vashti yang mengedarkan pandangannya pada sekeliling kolam yang milik aroma pekat obat-obatan.
"Tuan Putri Vashti."
Tuan Putri Vashti menengok.
"A-apa tentang ... sayembara itu benar?"
Tuan Putri Vashti mengangguk. "Benar."
"Ja-jadi anda ... akan menikah dengan Kakakku?" Nona Muda Cuini menatapi keelokan paras bidadari milik sang Tuan Putri Vashti dari arah samping. "Dan ... dan menjadi Kakak Iparku?"
"Hm. Seharusnya seperti itu." Tuan Putri Vashti menjeda dengan menampilkan senyumnya. "Jika kau tidak keberatan untuk menerimaku menjadi bagian dari keluargamu."