Vashti

Vashti
Pernikahan Megah Di Kerajaan Matahari Dan Kedatangan Tabib Senior II Legolas.



Kegelapan telah tenggelam oleh cahaya langit-langit yang membiru. Suara kicau burung serta bunga-bunga yang bermekaran lagi mulai terlihat semakin indah saat pagi menjelang.


Tuan Putri Vashti tidak melihat Nura. Mungkin pelayan itu tidak sanggup berdiri, sebab jelas semalam ia yang mencambuki Nura. Para pelayan kelas bawah mendatanginya untuk membantu mandi dan merias diri. Lantas seperti biasanya Tuan Putri Vashti menggunakan pakaian merah gelap dan langsung berkunjung ke kamar sang adik ipar--- Nona Muda Cuini.


"Selamat pagi, Cuini."


Cuini yang sedang mengepang surainya spontan langsung berdiri dan memberi salam. "Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian."


"Berapa kali aku berucap, berhenti bersikap formal pada Kakak iparmu ini." Tuan Vashti mendekat dengan mengembangkan senyuman ia menyentuh surai panjang Cuini. "Kau ingin ku kepang?"


"Bo-boleh, Tuan Putri."


Tangan Tuan Putri Vashti fokus mengepang surai panjang Cuini. Hingga tiada percakapan yang benar-benar sungguh membuat kecanggungan di antara Tuan Putri dan Nona Muda ini.


"Tanpa menggunakan riasan. Kau sangat cantik, Cuini." Tuan Putri Vashti memandang cermin. "Pria seperti apa yang akan menikahimu kelak?"


"A-ah, Tuan Putri Vashti juga cantik." Cuini tersenyum kecil. "Andai Kakak mendengar yang diucapkan Tuan Putri. Kakak pasti akan berucap seperti ini 'dia masih kecil, tidak ada pernikahan untuk gadis kecil.' kurang lebihnya seperti itu Tuan Putri."


Tuan Putri Vashti tersenyum tipis. "Padahal kau ini sudah menjadi gadis dewasa. Tidak ada gadis kecil yang memiliki tempat tidur sendiri."


"Tuan Putri benar! Kakak saja yang tidak mau aku terlihat seperti gadis yang sudah besar. Dia selalu saja menganggapku anak kecil," kesal Cuini.


Kepangan telah selesai. Tuan Putri Vashti menegakkan kepala Cuini supaya bisa melihat apakah ini cocok untuk paras adik ipar atau tidak.


"Itu tanda kekhwatiran, Cuini. Kakakmu sangat menyayangimu," ujar Tuan Putri Vashti.


Cuini tiba-tiba berujar, "Tuan Putri, Kakak bilang sepertinya Ayahandaku akan segera datang. Beliau mungkin akan membicarakan tentang ... pernikahan anda dan Kakak."



Tuan Putri Vashti berencana untuk menemui Tuan Muda Lind. Tetapi karena permintaan Ayahandanya untuk menghadiri pertunangan Ashana---yang ternyata adalah pernikahan. Sungguh membuat Tuan Putri Vashti kecewa. Semua orang-orang di sini memiliki aroma kebahagiaan, sebab nyatanya pernikahan dua kerajaan ini benar-benar di nanti oleh rakyat Negeri Bunga.


Sebab pentinggi dari Negeri Bunga berkata, bahwa kelak Tuan Putri Ashana dan Pangeran Saguna akan memiliki anak luar biasa. Entahlah kelebihan anak mereka nantinya apa, Tuan Putri Vashti tidak peduli. Lagi pula urusan ini adalah urusan Ayahandanya dan juga pentinggi Negeri Bunga.


"Ayahanda maafkan atas kelancanganku ini. Tetapi apakah aku diperbolehkan pamit untuk menyambut tamuku?" tanya Tuan Putri Vashti pelan.



Tuan Muda Lind tahu bahwa acara pernikahan megah di Kerajaan Matahari itu adalah pernikahan dari adik Tuan Putri Vashti Lucian. Jika memang akhirnya calon istri yang di pilihkan Ayahandanya tidak bisa menyambut kedatangan beliau pun Tuan Muda Lind tak apa.


Sebab bagian terpenting adalah keikhlasan Ayahanda dalam menerima Tuan Putri Vashti sebagai menantu beliau. Sebelum mentari terbit tadi, Ayahandanya--- Tabib Senior II Legolas, mengirimkan surat dari daun yang terbang. Beliau mengatakan akan tiba saat mentari setengah terbit di kepala.


"Kakak! Itu Ayahanda!"


Suara Cuini yang entah kapan datangnya membuat Tuan Muda Lind mengalihkan pandangan pada kuda hitam dengan rambut yang lebat, berhenti tepat di depannya.


"Cuini, Putriku." Ucapan pertama itu yang keluar dari bibir Ayahandanya. "Apa kau merindukan, Ayah?"


Cuini memeluk erat Legolas. "Tentu saja, Ayahanda! Sudah berminggu-minggu Ayahanda pergi, alasannya menjalankan tugas sebagai tabib senior II. Aku kesal sekali tidak bisa mengadukan semua yang di lakukan Kakak padaku!"


"Sudah-sudah. Memang apa yang Kakakmu lakukan?" Legolas mengecup singkat kening anaknya dan menatap. "Apa kau di siksa?"


"Tidak! Tapi kurang lebihnya, Kakak membentak---"


"Dia berjalan dengan ceroboh dan tanpa tata krama, Ayahanda." Tuan Muda Lind melirik adiknya. "Hingga dia beberapa kali menabrak Tuan Pendekar Moshe."


"Moshe?" ulang Legolas. Sesaat kemudian ia membatin, pria dari Negeri Tanah? Pandangan mata Legolas menatap serius pada Cuini. "Dengar Ayahanda bicara."


"Iya, aku mendengar."


"Jaga tata kramamu pada orang-orang dari Negeri luar, Cuini. Jangan ceroboh, dan jangan banyak bertingkah juga di Negeri Bunga ini," tutur Legolas.


Cuini mengangguk-angguk. "Baik, Ayahanda. Maafkan aku."


Legolas berbalik. Ia memeluk pinggang putrinya, dan di samping kanan berjalan lah putranya yang menatap lurus ke depan.


"Lind, bagaimana hubunganmu dengan Tuan Putri Vashti?"