
Mentari telah menjulang tinggi. Hari ini, terhitung sepuluh malam mendatang akan terjadi purnama ke- 11. Tuan Putri Vashti belum menyiapkan apa-apa untuk Tuan Muda Lind. Padahal dalam tradisi Negeri Bunga, seorang gadis yang akan menikah harus merangkai bunga pilihan untuk calon suami.
Ah, menyebalkan. Romantisme ini sedikit membuat Tuan Putri Vashti merasa ... canggung. Untuk apa memberi bunga? Jika setelah menikah mungkin akan terdengar wajar, tetapi ini terjadi sebelum menikah. Astaga, betapa malunya diri ini.
"Tuan Putri."
Suara itu terdengar dari Nura.
"Hamba telah menyiapkan beberapa krisan kuning, untuk anda rangkai," lanjut Nura.
"Harus sekarang, ya?"
Nura menatap. "Lalu Tuan Putri akan merangkai ini kapan, jika tidak sekarang?"
Angin menyapu surai panjang Tuan Putri Vashti. Bibir merah alaminya tersilip beberapa helai surai. "Nura, ini masih terhitung sepuluh malam dari purnama ke- 11. Kau ini terlalu tergesa-gesa."
"Tersisa sembilan malam. Karena malam ke sepuluh Tuan Putri telah sah menjadi istri Tuan Muda Lind," jelas Nura--- yang membuat Tuan Putri Vashti tercengang.
"Kau ini!" Tuan Putri Vashti menunjuk pada arah kanan. "Letakkan saja di sana. Aku akan merangkai jika aku ingin saja, kau jangan memaksaku, Nura!"
Nura menunduk. "Baiklah, Tuan Putri. Hamba undur diri."
Dua malam berlalu, tersisa tujuh malam untuk sampai pada purnama ke-11. Tuan Muda Lind semakin merasa berdebar-debar saat mendekati pernikahan. Apalagi sudah di mulai pada hari ini ia dan Tuan Putri Vashti tidak diizinkan bertemu. Kata Eliot itu tradisi Negeri Bunga, supaya pernikahan berjalan dengan lancar dan menumbuhkan rasa rindu pada setiap pasangan.
Tetapi mengenai gaun pernikahan. Anehnya, Tuan Putri Vashti ingin pakaian itu berwarna merah gelap. Bukankah itu seperti pakaian yang digunakan Tuan Putri sehari-hari? batin Tuan Muda Lind. Sempat ia bertanya pada Nura, ternyata ada alasan tersendiri. Nura bilang, pakaian merah gelap adalah pakaian pilihan dari Yang Mulia Ratu Floella sebelum beliau wafat.
Jadi bukankah ... itu semacam peninggalan? Dan Tuan Putri pasti merasa dekat jika menggunakan pakaian yang didasari warna merah gelap.
"Kakak!"
Suara keras Cuini menyandarkan Tuan Muda Lind. "Ada apa?"
"Soal ... pernikahan Kakak dan Tuan Putri." Cuini menatap serius. "Nanti setelah menikah kalian akan milih tempat tinggal di mana?"
Ah, iya. Aku belum memikirkan itu, batin Tuan Muda Lind. "Kakak menyetujui apapun keputusan Tuan Putri," jawabnya.
"Kalau Tuan Putri ingin tinggal di Kerajaan Krisan. Kakak tetap akan setuju dan meninggalkan Negeri Daun?"
Tuan Muda Lind terdiam sejenak. "Tentu saja," jawabnya.
Cuini tiba-tiba menunduk, ia memasang wajah sedih. Tatapannya fokus pada tangan yang menyatu. "Kakak ... tidak berencana tinggal di ... Kediaman Adiantum saja?"
"Sudah Kakak bilang, Cuini. Apapun keputusan Tuan Putri, Kakak akan menyetujuinya. Karena dia sudah menjadi istri Kakak, Cu. Kenyamanan dia adalah yang utama, Kakak tidak ingin menuntut sesuatu yang membuat dia sulit dan tidak nyaman," jelas Tuan Muda Lind.
"Ta-tapi ... Kakak akan meninggalkanku sendirian."
Mendengar ucapan lirih dari sang Adik. Tuan Muda Lind mengangkat tangan dan meletakkan pada kepala Cuini. Lantas diusap lembut lah di sana. "Bagaimana mungkin ... kamu berpikir bahwa Kakak akan meninggalkanmu?"
"A-ehm. Tidak-tidak, Kak!" Cuini menggeleng-gelengkan kepala. "Aku ... tidak pa-pa tinggal di Negeri Daun saja. Kasihan Ayahanda pasti akan sibuk, jika bukan aku yang membantu, lantas siapa lagi, kan?"
"Lalu kau tidak pa-pa jauh-jauh dari Kakakmu ini?"
Cuini terdiam sejenak. "Tidak pa-pa, asal Kakak tidak pernah melarangku berkunjung."
Lagi-lagi memang Negeri Bunga terlalu banyak peraturan. Hingga Tuan Putri Vashti tidak bisa menemui Tuan Muda Lind bahkan sang adik ipar Cuini juga. Benar-benar merepotkan.
"Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian."
Suara Eliot? batin Tuan Putri Vashti menunggu ucapan berikutnya apa yang akan keluar dari mulut pria itu.
"Hamba Eliot, datang menghadap atas perintah Yang Mulia Raja Vasant."
Tuan Putri Vashti yang semula merebahkan diri. Kini mengambil posisi duduk dan menatap Nura. "Minta Eliot masuk, dan kau tunggu lah di luar."
"Baik, Tuan Putri."
Setelah satu menit Nura keluar dari bilik kamar. Tuan Putri Vashti melihat Eliot masuk dari balik tirai putih yang menjadi pembatas.
"Bicara," pinta Tuan Putri Vashti.
Eliot terlihat seperti membawa gulung kayu. Untuk apakah itu? batinnya dengan mengerutkan kening. Lalu tidak lama, gulung itu di buka dengan tegak dan di dalamnya berisikan surat, informasi atau apa ia tak tahu.
"Hamba membawa pesan tertulis dari Yang Mulia Raja Vasant," ucap Eliot. "Sebab pada malam ini sampai dengan Purnama ke- 11 Yang Mulia Raja akan pergi ke Negeri Langit untuk melakukan pertemuan penting."
"Hah?" Tuan Putri Vashti merubah tatapannya menjadi datar. "Pertemuan penting?"
"Segala beralasan pertemuan penting, jika memang tidak ingin melihat pernikahan ini terjadi. Kenapa dia menyetujui pernikahanku?" lanjut Tuan Putri Vashti dengan bergumam.
Eliot berujar, "Tuan Putri Vashti tolong anda jangan menyalahpahami Yang Mulia Raja, sebab beliau tidak tahu jika ada pertemuan mendadak seperti ini."
"Apa isi pesan dalam gulungan itu?" tanya Tuan Putri Vashti tidak mengindahkan pembelaan Eliot untuk Ayahanda.
Dugh.
Gulungan itu jatuh. Padahal Tuan Putri Vashti melihat jelas Eliot telah membuka gulangan dan hendak membacakan untuk dirinya.
"Ampuni hamba, Tuan Putri. Hamba dengan sengaja membuka gulungan ini. Hamba lalai akan pesan Yang Mulia. Beliau mengatakan bahwa ini adalah surat khusus, yang hanya boleh di baca Tuan Putri sendiri," ucap Eliot dengan bersujud padanya.
Tuan Putri Vashti menghela napas. "Jangan ambil gulungan itu, biarkan saja jatuh pada tempatnya. Sekarang keluarlah, aku akan membacanya nanti."
Eliot keluar. Tuan Putri Vashti bangkit dari duduknya. Ia menyikap tirai dan menatap gulangan yang jatuh. Pesan dari Yang Mulia, ya? Biasanya beliau pergi tanpa bicara ataupun meninggalkan pesan. Tetapi sekarang ... ada apa dengan Yang Mulia? batinnya.