Vashti

Vashti
Pertemuan Tuan Putri Vashti dan Nona Muda Cuini



Terkagum? batin Tuan Muda Lind yang melihat Tuan Putri Vashti mulai melangkah maju diiringi bisik-bisik dari rakyat Negeri Daun. Namun anehnya, sang Tuan Putri sama sekali tidak merasa risih, pun terkesan baik-baik saja, seolah-olah ucapan rakyat hanyalah angin lalu.


Gaun indah merah gelap menyapu jalan di mana Tuan Putri Vashti melangkah, dari arah barat terlihat sang Adik berlari, sangat tidak tepat waktunya. Nona Muda Cuini pasti akan membuat sang Tuan Putri merasa tak nyaman.


"Kakak! Kakak!"


Pandangan Tuan Putri Vashti mengarah pada suara itu. Sekejap saja Nona Muda Cuini berlari memeluk Tuan Muda Lind di hadapannya, tanpa sungkan sama sekali.


"Cuini ... mana tata kramamu?" bisik Tuan Muda Lind memaksa melepas pelukan sang Adik. "Lepas. Sambut Tuan Putri."


Nona Muda Cuini melepas pelukan, dan menghadap pada Tuan Putri Vashti dengan tertunduk. "Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian. Hamba adalah Cuini."


Cuini? batin Tuan Putri Vashti dengan sedetik kemudian tersenyum. Tangannya terangkat meminta Nona Muda Cuini mendekat, lantas setelahnya di usap-usap lembut surai hitam panjang itu. "Kau manis sekali, Cuini. Ah, maksudku Nona Muda Cuini."


Spontanitas Nona Muda Cuini menggeleng. "Tidak-tidak. Tuan Putri Vashti tidak perlu memanggilku dengan nama depan Nona. Cuini pun sudah cukup."


"Baiklah." Pandangan sang Tuan Putri Vashti beralih menatap Nona Muda Cuini. "Tuan, tidakkah kau ingin mengajakku ke kediamanmu?"


Nona Muda Cuini menatap sang Kakak dengan mengedipkan sebelah matanya. Sedang Tuan Muda Lind dengan sedikit tertunduk menyambut. "Ham---aku akan mengajakmu ke kediaman Adiantum, Tuan Putri."


Tuan Putri Vashti mengangguk, dengan berjalan sendiri tanpa di tuntun oleh Eliot, ia menyusuri Negeri Daun ini yang di mana segala tempatnya tidak sedikit pun tercium aroma keburukan. Mungkin, hanya satu saja ; yaitu aroma kemarahan. Dirinya tahu, mungkin itu adalah kemarahan terpendam, bahwasanya lahir di Negeri terendah ini, terasa di perbudak. Padahal di Negeri tertinggi sekali pun tidak ada seorang tabib dan peracik obat yang memiliki kehebatan setera dengan orang-orang Negeri Daun.


Sebab mereka hanya beruntung terlahirkan di Negeri tertinggi, sedang lainnya merasa sedikit tidak beruntung terlahir di Negeri terendah.


Para pelayan kediaman Adiantum menyambut sang Tuan Putri dengan bersimpuh, berjajar rapi seakan menjadikan barisan itu tempat jalan menuju singgasana. Seperti biasa, ia hanya memasang senyum tipis untuk membalas kebaikan pelayan-pelayan.


"Ini ... tempat tinggalmu Tuan Muda Lind?"


Tuan Muda Lind menyusul mengambil duduk berseberangan. "Iya, Tuan Putri. Kediaman Adiantum adalah tempat tinggalku. Sekaligus tempat yang di buat oleh Ayahanda untuk menyambut orang-orang penting dari segala Negeri."


"Hm, seperti itu." Seulas senyum tipis Tuan Putri Vashti tunjukkan saat melihat Nona Muda Cuini, gadis remaja itu sangat manis, baju yang digunakan benar-benar mencerminkan wajahnya yang ceria. "Cuini, Tuan Muda Lind bilang bahwa kau ingin bertemu denganku."


"A-ah, itu ... benar, Tuan Putri. Hamba---"


"Jangan menyebut dirimu hamba," sanggah Tuan Putri Vashti.


Nona Muda Cuini bingung. Namun langsung menuruti saat melihat sang Kakak mengangguk. "A-aku hanya ingin bertemu dengan Tuan Putri."


"Bertemu saja kah? Padahal aku jauh-jauh ke mari ingin mengunjungimu. Tidakkah kau ingin menari bersama? Menjahit bersama? Atau sekedar berjalan-jalan menyusuri Negeri Daun ini?"


Tentu saja itu adalah hal yang diharapkan oleh Nona Muda Cuini yang langsung mengangguk dengan tangan yang bergerak-gerak kegirangan. "Aku mau, Tuan Putri! Eghmmm ... ma-maksudku jika Tuan Putri tidak keberatan aku bersedia."


"Aku tidak pernah keberatan jika yang meminta adalah kau. Adik dari calon suamiku," jawab Tuan Putri Vashti.