Vashti

Vashti
Kehidupan Tuan Putri Vashti



"Ampuni hamba, Tuan Putri."


Tangan Tuan Putri Vashti mengibas pertanda mengusir Eliot pergi dari hadapannya. Entah mengapa air mata yang telah di tahan-tahannya jatuh menetes di pipi. Sesak. Jika menjadi Raja membuat seorang Ayahanda tak lagi mengakui darah daging. Maka, lebih baik tak bertahta. Setiap detik di kehidupannya tak terasa bahagia, mungkin ada. Ada saat-saat bahagia di mana kelopak krisan memberinya perlindungan, terkadang-kadang sewaktu kecil pun tak segan mengajaknya bermain.


Orang-orang salah mengenai krisan kuning yang melingkar hanya sebatas perlindungan Ibundanya saja. Salah, baginya itu salah. Sebab krisan ini adalah jiwa Ibundanya, yang selalu hadir tanpa sekalipun ada marabahaya. Seperti saat ini, entah dari mana kelopak krisan kuning itu tiba-tiba saja menyapu pada pipinya yang basah.


"Ibunda ..."


"Jika melahirkan aku adalah petaka untukmu. Mengapa tidak kau bunuh saja aku?"


Tangan Tuan Putri Vashti terangkat, menutupi wajahnya. "Sebab sakit rasanya ... harus hidup tanpa kasih cintamu. Bahkan Ayahanda ... mengakuiku hanya sebatas di depan rakyat Negeri Bunga saja."


"Ayahanda pun membuat sayembara yang sama sekali tidak pernah aku setuju, Ibunda ..."



"Aku dengar Tuan Putri Ashana akan segera menikah dengan Pangeran dari Kerajaan Matahari."


Entah pelayan itu sengaja. Entah memang tak tahu bahwa kediaman Capillus sedang kedatangan Tuan Putri Vashti, sang Kakak tiri dari Tuan Putri Ashana. Paginya tidak buruk juga. Seperti biasa, kabar simpang siur ini akan menjadi nyata. Sebab ini bukan rumor semata, orang-orang biasa yang di bayar oleh Eliot pasti telah menjadikan pernikahan Tuan Putri Asha dan Pangeran entah siapa itu, untuk menjadi buah bibir baru.


Supaya, pernikahannya dengan Tuan Muda Lind dari Negeri Daun terendah tak terdengar lagi.


"Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian."


"Hamba Alie, atas permintaan Nona Muda Cuini akan melayani Tuan Putri Vashti dengan segala kehormatan," ujar Alie dengan bersimpuh.


Seulas senyum tipis Tuan Putri Vashti tunjukkan. "Alie, berdiri. Ucapkan rasa terima kasihku pada Cuini. Namun sebelum itu, apa aku bisa menikmati teh hijau herbal? Orang-orang berbicara bahwa itu sesuatu yang manjur untuk menenangkan diri."


"Hamba akan segera menyiapkan, Tuan Putri." Alie berdiri dan berjalan mundur hingga pintu kamar kembali tertutup.


Entah bagaimana cara membuatnya. Bahkan belum satu menit Alie pergi, seorang pelayan wanita masuk mengindahkan teh hijau berserta makanan ringan semacam kue yang di balut gula putih.


Apa ini juga kue yang di buat dengan bahan obat-obatan? batin Tuan Putri Vashti yang mulai pertama mencicip kue itu. "Ah, ini benar-benar nikmat. Aku menyukainya."


Tiba-tiba langkah kaki yang begitu nyaring terdengar. Namun sesaat hilang, ini aneh. Siapa? Dari arah pintu sembari menikmati kue putih itu Tuan Putri Vashti menatap. "Cuini!"


Jangan-jangan tadi dia berlari-larian? batin Tuan Putri Vashti yang mengayunkan tangannya meminta calon adik iparnya mendekat. "Lihat. Kau berkeringat, Cuini. Untuk apa kau berlari-larian seperti itu?"


"Hah? Tu-tuan Putri memiliki sihir tatapan? A-anda bisa melihatku---"


"Tidak. Suara langkah kakimu ini." Tuan Putri Vashti menunjuk kaki putih bersih Nona Muda Cuini. "Benar-benar nyaring. Kau tidak sadar?"


"A-ah, i-itu. Aku minta maaf, Tuan Putri." Nona Muda Cuini tiba-tiba menunduk. "Aku tidak memiliki tata krama yang baik. Tolong maafkan aku, Tuan Putri."