Vashti

Vashti
Isi Surat Yang Mulia Raja Dan Peringatan Dari Legolas.



Gulungan kayu yang terdapat kertas tipis di dalamnya. Tertulis dengan rapi dan jelas bahwa ini memanglah benar dari Yang Mulia Raja Vasant--- Ayahanda Tuan Putri Vashti.


Beliau benarkah seserius ini dalam menulis surat untuk putri yang tidak di kasihi? Ah, mustahil. Tuan Putri Vashti ingin tidak percaya, namun ini nyata.


Untuk putriku, Vashti.


Rayakanlah pernikahanmu dengan bahagia. Tolong jangan membenci Ayahanda, sebab Ayahanda tidak menemanimu melakukan sumpah pernikahan. Sejujurnya Ayahanda ingin, namun pertemuan di Negeri Langit ini penting untuk keberlangsungan Kerajaan Krisan.


Sebagai seorang Raja. Ayahanda tidak bisa lalai. Namun sebagai orangtua, sepertinya bisa dipertimbangkan, bukan? Ayahanda tidak ingin ingkar ataupun melalaikanmu. Tetapi demi tugas Negeri ini Ayahanda memintamu, untuk mengerti.


Tuan Putri Vashti menghela napas dari mulut. Lantas ia menatap ke atas dengan memandangi atap bilik kamar. "Haaa. Sudahlah. Mau bagaimana lagi, Ayahanda sudah menulis surat untukku."


"Bukankah setidaknya ... sebagai seorang putri aku menghargainya?" imbuh Tuan Putri Vashti.


Gulangan surat itu ia masukan ke dalam lemari kecil. Dan setelahnya, ia merebahkan diri kembali di atas ranjang. Ah, iya. Beliau itu lebih pantas ia panggil dengan sebutan Ayahanda ataukah Yang Mulia Raja Vasant? Mengapa terkadang-kadang beliau terlihat baik, namun ada saat-saat juga beliau menjadi lebih kejam.


Permisalan terbesar itu dengan menjadikan Tuan Putri Vashti hadiah sayembara. Sangat kejam, bukan? Tetapi dalam pandangan rakyat Negeri Bunga ini adalah hal yang istimewa dan luar biasa.


Sebab sebagai Tuan Putri, ia memilih krisan putih untuk menjadi mahar pernikahan. Padahal kenyataan mengatakan, bahwa itu adalah dusta Yang Mulia Raja.


"Aku tidak pernah tahu bagaimana sikap Ayahanda sebenarnya." Tuan Putri Vashti memejamkan mata. "Tetapi kuharap, Ayahanda benar-benar memiliki secuil kasih sayang, untuk putri pertamamu ini."



Satu malam berlalu lagi, tinggal enam malam untuk menuju pada Purnama ke -11. Tuan Muda Lind telah menyiapkan beberapa hal untuk menjalankan sumpah pernikahan--- di antaranya darah.


Dalam tradisi Negeri Daun pada malam ke -6 menuju pernikahan, kedua penggantin harus menyimpan dua tetes darah di dalam guci khusus kecil. Dan pada malam pernikahan nanti, darah itu akan di isi oleh air, lantas di arung pada sungai terdekat.


Tetua Negeri Daun mengatakan, bahwa itu adalah bentuk penyatuan antara pria dan wanita, yang bersumpah hidup bersama, entah nanti arus lambat ataukah arus deras yang menerjang. Keduanya akan tetap berjanji bersama dan baik-baik saja.


Jika mengingat penjelasan Ayahanda, Tuan Muda Lind rasanya ingin tertawa saja--- maksud ia menertawakan diri sendiri. Sebab penjelasan para tetua itu seharusnya dijalankan oleh kedua orang yang saling mencintai, lalu menikah.


"Lind."


Ayahanda benar-benar mengejutkan. Beliau datang tanpa ada langkah kaki. Sungguh aneh! "Ada apa?"


"Ayah meminta darahmu. Sudah kau siapkan?"


Tuan Muda Lind mengambil guci khusus itu, lantas menyerahkannya pada Ayahanda Legolas.


"Nura bilang, bahwa Tuan Putri Vashti sudah menyiapkan darahnya. Ayah akan mengambil ke sana lalu menyimpannya dengan baik," ujar Ayahanda Legolas.


"Iya."


Ayahanda menatapnya. "Esok hari. Setelah mentari terbit, Ayah memintamu bersiap untuk mengunjungi nisan Ibundamu, sebagai restu kau akan melaksanakan pernikahan."


"Baik, Ayahanda."


Pandangan Ayahanda Legolas berubah datar. "Setelah menikah ingatlah ucapan Ayah, Lind."


"Aku akan selalu mengingat," jawab Tuan Muda Lind singkat.


Tatapan matanya dan Ayahanda Legolas bertemu. "Jika ada perceraian, itu tidak hanya mempengaruhi sistem Kerajaan Krisan saja. Sebab perceraianmu dan Tuan Putri Vashti, juga akan mempengaruhi nasib rakyat Negeri Daun."


"Kau mengerti?" imbuh Ayahanda Legolas.


Tuan Muda Lind mengangguk pelan. "Mengerti, Ayahanda."