
Setelah perdebatan tidak mengenakan dengan Baga Narasimha. Tuan Putri Vashti kembali melangkah untuk menemui Tuan Muda Lind. Ditengah perjalanan begitu banyak pelayan yang menyambutnya, hingga saat ia tepat berada di depan kamar milik Tuan Muda Lind, Alie datang dengan menunduk di hadapannya.
"Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian."
Tuan Putri Vashti berujar, "Ada apa, Alie?"
"Apakah Tuan Putri mencari Tuan Muda Lind?"
Tuan Putri Vashti mengangguk.
"Hamba akan memanggilkan beliau." Alie mendekat ke kamar Tuan Muda Lind. "Tuan Muda Lind ... anda mendapatkan tamu."
"Siapa?"
"Tuan Putri Vashti."
"Masuk!"
Tuan Muda Lind menyambutnya dengan duduk di kursi kayu cokelat dengan meneguk suatu minuman entah apa. Tetapi Tuan Muda Lind terlihat tersenyum tipis dan mempersilakan duduk.
"Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian."
Tuan Putri Vashti mengambil duduk bersebrangan. "Tidak perlu seformal itu. Sebentar lagi, aku akan menjadi istrimu."
"Apa anda ke mari, Tuan Putri?"
Tuan Putri Vashti terdiam sejenak. "Tuan Muda Lind, bersedia kau kembali bersama ku ke Negeri Bunga?"
"Maksud anda?"
Tuan Putri Vashti membuka telapak tangannya, tak lama sinaran keemasan muncul, dan terlihat sesuatu tertulis di sekitar cahaya itu. "Pertunangan antara Tuan Putri Ashana Lucian dan Pangeran Saguna Anshumaan akan dilaksanakan esok di Kerajaan Matahari. Seluruh rakyat Negeri Bunga diperkenankan untuk menyaksikan keabadian cinta ini."
Kening Tuan Muda Lind mengerut. "Tuan Putri Ashana Lucian? Adik ... anda?"
"Lebih tepatnya, seorang adik tiri." Tuan Putri Vashti menjeda dengan menatap lurus pada Tuan Muda Lind. "Undangan yang ku perlihatkan ini, di sebarluaskan ke seluruh rakyat bunga. Termasuk aku."
"Lalu ... maksud kedatangan anda ke mari adalah?"
Tuan Putri Vashti menjawab, "Malam ini, aku harus kembali ke Negeri Bunga. Atas perintah dari Ayahandaku, aku harus hadir di pertunangan Ashana. Jadi aku ke mari memintamu juga ikut bersamaku ke Kerajaan Krisan. Katakan pada Ayahandaku, bahwa kau setuju menikahiku secepatnya."
"Mengapa? Bukankah kau benar-benar sudah setuju untuk menjadikanku istri?"
Tuan Muda Lind mengangguk. "Aku memang setuju. Tapi pernikahan tidak bisa dilakukan sedemikian cepat, Tuan Putri. Ada waktu-waktu tertentu yang tidak bisa sembarangan ditetapkan."
"Aku tahu. Maka dari itu, aku memintamu untuk segera berbicara pada Ayahandaku." Tuan Putri Vashti menatap ke arah lain. "Aku ingin pernikahan kita terlaksana sebelum pernikahan Ashana dan Pangeran Saguna."
Kereta kuda telah dipersiapkan. Bahkan barang-barang bawaan Tuan Putri Vashti telah di tatah rapih. Namun Tuan Muda Lind tak kunjung terlihat, mungkin saja ajakannya tertolak. Tuan Muda Lind tidak bersedia meninggalkan Negeri Daun terlalu cepat.
"Tuan Putri, kereta kuda akan segera berangkat," ucap Eliot.
Tuan Putri Vashti terpaksa menaiki kereta kuda dengan hati yang gundah. "Eliot, tidak bisakah kau menunggu sebentar?"
"Jika mengulur waktu akan memperlambat kedatangan kita di Negeri Bunga---"
"Tuan Putri!"
Netra Tuan Putri Vashti berbinar-binar, ucapan Eliot tersanggah seketika. Saat Nona Muda Cuini, sang Adik Iparnya datang dengan senyum lebar nan ceria menghampirinya.
"Tuan Putri, aku ... aku ikut dengan Kakak. Untuk ke Negeri Bunga malam ini," ujar Nona Muda Cuini.
Dia ... bersedia ke Negeri Bunga bersamaku? batin Tuan Putri Vashti yang menyambut Adik Ipar. "Kalau begitu. Duduk di kereta kudaku."
Nona Muda Cuini spontan mengangkat kedua tangan dan mengibas ke kiri dan kanan. "Ah, tidak-tidak, Tuan Putri. Mana mungkin aku duduk bersebelahan dengan anda. Aku akan duduk di kereta kuda yang Kakak bawa saja."
"Kau menolak?"
Netra Nona Muda Cuini membulat. "Bukan. Bukan maksudku menolak. Aku ... aku hanya tidak ingin Tuan Putri merasa tidak nyaman, karena pasti ... terlalu sempit jika ada aku."
"Aku menawarkan, Cuini. Karena tidak ingin sendirian," jelas Tuan Putri Vashti.
Nona Muda Cuini berbalik menatap Kakaknya yang tengah mendekat. "Kakak! Aku berangkat dengan kereta kuda Tuan Putri Vashti, ya?"
Tuan Muda Lind terlihat mengangguk.
"Yash! Terimakasih!" Nona Muda Cuini berusaha naik di bantu oleh Eliot. "Jika seperti ini. Mungkin ... aku bisa bercerita banyak dengan Tuan Putri."
"Tentu saja, Cuini."