
"Ucapanmu ini ..."
Tuan Muda Lind menatap. "Mengapa, Tuan Putri?"
"Ucapanmu benar." Tuan Putri Vashti meletakkan lilin yang di bawanya pada kursi kayu yang di duduki. Lantas ia menghadap pada Tuan Muda Lind. "Maka Tuan, nikahilah aku sesegera mungkin. Supaya diri ini tidak menjadi hak dari orang lain lagi. Selain kau dan aku yang memiliki."
Entah, kehidupan seperti yang anda lalui, Tuan Putri. Namun jika ... dengan menjadi istriku adalah keinginanmu. Mungkin ... mungkin saja aku bisa memenuhi, batin Tuan Muda Lind dengan menengok menatapi paras jelita sang Tuan Putri dari arah samping.
"Apa aku ini tidak pantas? Sampai-sampai lama sekali kau membawaku bertemu dengan orang tuamu."
Tuan Muda Lind spontan berujar, "Tolong jangan berpikir seperti itu, Tuan Putri. Aku hanya membutuhkan waktu setidaknya dua malam untuk menjelaskan maksud kedatangan anda ke Negeri Daun."
"Hm, baiklah. Aku akan menunggu, Tuan."
Tuan Putri Vashti meninggalkan Tuan Muda Lind seorang diri, berjalan memasuki kediaman Capillus tempat sang Adik tinggal. Sebenarnya, mengenai permintaan pernikahan ia tak sanggup menolak lagi. Ia telah setuju. Namun sang Ayahanda belum juga memberi kabar tentang bagaimana baiknya ini nanti. Apa pernikahan ini tak apa-apa? Atau justru menimbulkan masalah baru untuk Negeri Daun?
"Ayahanda ..."
Selembar daun terbang dari arah barat mendekatinya yang tepat saat itu membuka telapak tangan. Benar, mungkin saja ini dari Ayahandanya.
"Nikahi dia, aku menyetujuinya."
Sekejap daun itu berubah menjadi abu. Bagaimana kiranya sang Ayahanda tahu? Sedang dirinya saja belum memberikan kabar. Tuan Muda Lind menunduk, menatapi tanah yang mulai basah akibat dari tetes air langit.
Keagungan alam untuk Sang Langit, batin Tuan Muda Lind saat hujan turun semakin derasnya.
"Tuan Muda!"
Saat Tuan Muda Lind menengok, terlihat salah satu pelayan pria menghampirinya dengan tergesa-gesa membawa payung. "Tuan anda bisa sakit jika terkena tetesan air hujan."
"Tidak masalah."
Tuan Muda Lind berpikir mungkin saja Adiknya telah terlelap tidur. Namun nyatanya salah. Entah angin dari mana gadis muda itu tiba-tiba saja muncul mendobrak pintu kamarnya di kediaman Adiantum. Untung saja tidak membuat kegaduhan.
"Cuini, kau tidak bisa melihat bahwa ini sudah larut? Bahkan rembulan saja tertutup kabut malam," ujar Tuan Muda Lind.
Nona Muda Cuini mengerucutkan bibir. "Kakak, aku kan sedang ingin berbicara sebentar. Janji. Aku berjanji sebentar saja."
"Kau ingin berbicara apa?"
"Iya. Mengapa?"
Nona Muda Cuini menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak pa-pa. Aku hanya bertanya saja, Kakak."
"Sudah 'kan?" Tuan Muda Lind menatap sang Adik dengan tatapan penuh tanya. "Jika sudah keluar, Cuini. Kakak ingin isti---"
"Aku akan menunggu pernikahan Kakak dan Tuan Putri." Nona Muda Cuini menatap ragu pada sang Kakak. "Eghmm ... Kakak sudah bicara pada Ayahanda?"
"Sudah."
"Syukurlah. Jadi---"
Tuan Muda Lind menyanggah, "Keluar, Cuini. Sudah larut. Kakak ingin tidur."
"Baiklah-baiklah aku keluar, Kakak."
Kediaman Capillus ini nyaman. Sebab begitu banyak herbal serta aroma-aroma obat yang dapat sekejap membuat dirinya membaik. Namun entah lah, mengapa pikirannya tak bisa lepas dari Kerajaan Krisan. Apakah Tuan Putri Ashana telah membaik? Dengan meminum racikan obat dari krisan putih itu? Atau justru ... tidak sembuh?
Belum lagi. Kabar Ayahandanya? Yang Mulia Raja Vasant Lucian apakah lupa bahwa masih memiliki satu putri yang menjauh dari Negeri Bunga?
"Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian."
Tuan Putri Vashti tersadar. "Masuk, Eliot."
Pintu kediaman terbuka. Namun Eliot tidak dapat memandanginya secara langsung, sebab penutup kayu dan kain-kain halus bermotifkan dedaunan hijau menutupi sebagian kamarnya.
"Tuan Putri, Yang Mulia Raja Vasant melarang Nura untuk datang ke Negeri Daun---"
"Atas alasan apa Ayahanda melarang Nura?"
Eliot terdiam sejenak. "Nura adalah pelayan Kerajaan. Tidak pantas baginya meninggalkan Kerajaan terlalu lam---"
"Kau bilang apa? Tidak pantas? Seorang pelayan Kerajaan tidak pantas meninggalkan Kerajaan terlalu lama?" ujar Tuan Putri Vashti dengan nada datarnya. Tak lama pun senyum getir terlihat sejak di paras cantiknya. "Lantas Eliot ... apa seorang Tuan Putri pantas meninggalkan Kerajaan terlalu lama?"
"Hamba---"
"Jika pantas ... lebih baik aku tidak pernah kembali saja, Eliot," imbuh Tuan Putri Vashti.