Vashti

Vashti
Purnama Ke - 11



"Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian. Hamba Eliot, datang menghadap."


Secepat itu kah orang ini datang? Eliot menerima perintah langsung tanpa basa-basi menghampiri. Oh sungguh ... betapa beruntungnya perempuan yang kelak akan dinikahi oleh pengawal Ayahandanya ini. Selain setia, Eliot juga penurut.


"Berkunjung lah ke danau bunga, Eliot." Tuan Putri Vashti menjeda. "Di sana ada Tabib Senior II Legolas. Dia adalah Ayah Mertuaku. Sambut dia dengan baik, dan bicaralah mewakili Yang Mulia Raja untuk mengatur pernikahanku."


Eliot berdiri. "Hamba akan laksana, Tuan Putri."



Legolas tidak pernah menyangka bahwa danau bunga ini benar adanya. Bahkan dari kabar yang memasuki telinga seseorang mengatakan bahwa danau ini harum dan penuh bunga, ternyata benar. Takjub. Cuini--- putrinya pasti sangat menyukai tempat ini, sebab elok sekali di pandang mata.


Tuan Putri Vashti mengizinkan ia berkunjung sebagai Ayah Mertua, bukan sebagai Tabib Senior II Legolas. Ia pun sudah menetapkan pada purnama ke berapa pernikahan Lind dan Tuan Putri Vashti akan di gelar. Sebab Legolas berencana mempercepat, supaya tiada terjadi sesuatu yang diucapan oleh orang itu.


"Salam hormat, Tabib Senior II Legolas."


Salam yang dilontarkan oleh pria di belakang, membuat Legolas berbalik. "Salam hormat kembali untuk ... anda?"


"Hamba Eliot."


Legolas menatap. "Saya hanya seorang Tabib, tidak perlu anda menggunakan kata hamba untuk berbincang. Dan jika boleh saya tahu, apa anda kemari sebagai perwakilan dari Yang Mulia Raja Vasant?"


"Saya memang di utus Yang Mulia Raja untuk memperbincangkan pernikahan Tuan Muda Lind dengan Tuan Putri Vashti." Eliot menegakkan tubuh. "Apa Tabib berkenan membahasnya bersama?"


Legolas mengangguk. Namun sedetik kemudian pandangannya beralih pada danau yang berarus kecil--- yang membawa beberapa bunga mengalir.


Eliot masih belum menanggapi. Hingga pada detik ke lima Eliot berujar, "Kemarin malam adalah purnama ke sepuluh. Apa menurut anda purnama berikutnya tidak terlalu cepat, Tabib?"


"Bukankah suatu kebaikan harus dipercepat, Eliot?" Mata Legolas beralih pada danau lagi dan menangkap beberapa kupu-kupu di sana. "Tuan Putri Vashti pun akan setuju. Dan jika perlu anda bisa mempertanyakan ini pada Yang Mulia Raja Vasant."


Eliot menghela napas pelan. "Baiklah. Saya sebagai perwakilan Yang Mulia Raja menyetujui pernikahan ini terjadi pada purnama ke sebelas."


"Anda ingin dilaksanakan di mana kah pernikahan ini?" sambung Eliot dengan bertanya.


"Di mana pun keinginan Tuan Putri, kami sebagai pihak laki-laki akan menyetujui," jawab Legolas.



Tuan Muda Lind berencana untuk menghampiri Cuini dengan keluar menyusuri kediaman krisan kuning ini sendiri. Sesaat ia melewati ruangan tidur Tuan Putri Vashti, ia mendengar suara isak tangis di dalam sana--- yang membuat terlihat aneh juga tiada para pelayan di depan.


Mungkinkah Tuan Putri meminta mereka pergi? batin Tuan Muda Lind.


"Ibunda ... hiks." Tuan Muda Lind menghentikan langkah langsung, saat mendengar suara Tuan Putri Vashti dari dalam. "Yang Mulia Raja bahkan ... tidak mau bertemu dengan Ayah Mertua."


"Yang Mulia mengutus Eliot. Bahkan ..." Tuan Muda Lind mendengar isakkan tangis itu semakin menyayat. "Sepertinya Yang Mulia tidak berbahagia ... atas pernikahanku."


"Sakit, Ibunda. Rasanya a-aku ingin pergi saja." Tuan Muda Lind membeku. Sebab ia tidak pernah menyangka Tuan Putri Vashti akan selemah ini. "Tapi ... tidak bisa. Aku bertahan sebagai Tuan Putri supaya ... a-aku bisa mengunjungi makam Ibunda di Negeri Tanah. A-aku benar-benar ... merindukanmu, aku ingin memelukmu." Tuan Muda Lind menatap pada lantai. "Walau hanya sebatas tanah dan bunga saja."


Tatapan mata Tuan Muda Lind menjadi sendu. Semesta dengarlah keinganannya, dan segera pertemukan dia dengan Yang Mulia Ratu Floella, walau hanya sebatas di mimpi saja, batinnya.