
"Mengapa kau berlari-larian seperti itu?"
Nona Muda Cuini menggeleng. "Aku ... hanya ingin berlarian saja. Tolong maafkan aku, Tuan Putri."
"Dasar ... kau ini benar-benar lucu," ujar Tuan Putri Vashti yang mengusap-usap pucuk kepala calon Adik iparnya.
Nona Muda Cuini mendekat. "Tuan Putri, aku ... aku mendengar bahwa ... Ayahanda menyetujui pernikahan Kakak dengan anda. Jadi ... aku---"
"Kau menguping?
Nona Muda Cuini menggeleng-geleng. "Aku tidak sengaja mendengar, Tuan Putri. Aku tidak menguping."
Tuan Putri Vashti tersenyum tipis. "Lalu?"
"Lalu ... anda tinggal menunggu saja Kakak berbicara dengan anda."
Tuan Putri Vashti memerah. "Kau ini ... dasar!"
"Aku tidak berniat menggoda, aku hanya memperjelas sesuatu yang kudengar, Tuan Putri."
Mentari benar-benar telah terik. Tetapi Tuan Putri Vashti belum melihat Tuan Muda Lind sama sekali. Ah, mungkin saja dia sibuk mempersiapkan obat-obatan. Sebab calon suaminya itu kan peracik obat, atau jika mungkin dia sedang membantu Ayahandanya untuk mempersiapkan pertemuan orang-orang dari Negeri lain.
Dari kediaman Capillus ia tidak bisa memandangi kediaman Adiantum. Sebab dinding abu-abu ini menjadi penghalang, dan tidak lupa daun-daun yang terus berterbangan terkadang-kadang juga menghalangi penglihatannya.
"Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian."
Suara ini ... Tuan Muda Lind? batin Tuan Putri Vashti dengan berbalik, dan benar yang ditatapnya sekarang adalah Tuan Muda Lind, yang tengah berdiri di hadapannya dengan pakaian sederhana yang bercorak burung merpati putih di sekitar kerah hingga kebawah dengan baju dalam berwarna abu-abu gelap.
"Ah, Tuan Muda Lind?"
Tuan Muda Lind mengangguk, dengan senyum tipis. "Anda menungguku?"
"Tidak, hanya kebetulan saja sedang ingin berdiri di sini," jawab Tuan Putri Vashti.
"Tidak."
Tuan Muda Lind sedikit terkejut. "Ah, berarti kali ini dia tidak banyak berbicara."
"Pernikahan itu ... yang kau maksud adalah pernikahan siapa?" Tuan Putri Vashti mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu apa-apa mengenai yang kau ucap."
Tuan Muda Lind menatapnya. "Pernikahan kita."
"Ki ... ta?"
Tuan Muda Lind mengangguk.
"Ayahandamu menyetujuinya?"
"Iya."
"Lantas Ibundamu?"
Pandangan mata itu terputus, saat Tuan Muda Lind menatap ke arah lain. "Ibunda sudah tiada. Tetapi aku yakin dia akan merestui, bilamana memiliki seorang menantu sepertimu, Tuan Putri."
"Sepertiku ini yang bagaimana? Apa sebabnya calon istrimu ini seorang Tuan Putri? Atau sebabnya calon istrimu ini seorang gadis jelita?"
Seulas senyuman Tuan Muda Lind tunjukkan, dan detik berikutnya ia menengok. "Salah. Semua yang kau ucap salah, Tuan Putri. Ibunda akan menyukaimu, jika kau bisa berbaur semudah itu dengan Cuini. Sebab saat kecil dulu Ibundaku berucap, menikah lah dengan seorang gadis yang disukai dan menyukai adikmu."
"Apa makna dari ucapan Ibundamu?"
"Tidak bermakna apa-apa. Atau mungkin ... bisa dikatakan bahwa itu seleksi awal untuk menjadi istriku. Seorang gadis harus bisa mengambil hati Adikku terlebih dahulu baru lah aku. Sebab terkadang-kadang seorang adik perempuan memiliki rasa cemburu yang cukup besar saat kelak melihat Kakaknya lebih memperhatikan gadis lain di bandingkan dirinya lagi," jelas Tuan Muda Lind.
Tuan Putri Vashti tersenyum tipis. "Ibundamu itu benar-benar lucu. Andaikan saja dia masih ada."
"Jika dia masih ada aku akan langsung mempertemukannya denganmu," jawab Tuan Muda Lind.