
"Aku adalah Tuan Putri." Netra Vashti menatap dalam pada manik hitam Lind--- suaminya itu akankah merasa berat atas keputusannya? "Atau lebih tepatnya, aku adalah Putri Mahkota. Tentu kau tahu, Lind. Seorang keturunan Raja yang akan menjadi Ratu harus berada di istana."
"Apa kau akan marah dan tidak setuju jika aku memintamu untuk tinggal bersama di Kerajaan Krisan?" imbuh Vashti.
Lind membisu. Netra itu masih menatap, tetapi dalam tiga detik kemudian Lind merubah posisi menjadi duduk. "Aku akan terima. Tapi apa boleh jika adikku itu sering berkunjung kemari, untuk sekedar melihatku saja?"
"Apa kau pikir aku akan melarang?" Vashti mengubah posisinya menjadi duduk pula. Tetapi ia berada di belakang Lind. Sehingga hanya punggung suaminya saja yang bisa ia tatap. "Cuini juga adikku, Lind. Dan selama kediaman krisan kuning yang menjadi tujuan dia. Aku akan pastikan tidak ada seorang pun, dari pihak Kerajaan yang merasa keberatan atas kehadiran Cuini."
"Kau bisa berjanji?"
Bibir bawah Vashti sedikit terbuka, saat mendengar permintaan suaminya. "Tentu. Aku akan berjanji mengenai hal ini untukmu."
"Terimakasih, Vashti."
Dia tersenyum? batin Vashti yang seolah-olah lupa bahwa Lind adalah pria paling ramah yang pernah dilihatnya. "Ya. Tidak masalah."
Lind berbalik, tiba-tiba saja mencondongkan tubuh pada Vashti, dengan tangan yang terentang.
"K-kau ingin apa?" tanya Vashti terbata-bata.
"Melakukan pendekatan pada Istriku," jawab Lind.
Suara? Aku mendengar seseorang di balik pintu itu ... sedang mengintip, ya? batin Lind dengan tiba-tiba berbalik. Ia merentangkan tangan bersiap untuk menarik Vashti dalam pelukan.
"K-kau ingin apa?"
Pinggang ramping Vashti telah tersentuh rapi oleh tangannya. "Melakukan pendekatan pada Istriku," jawab Lind.
"Ta-tapi---"
Lind menarik Vashti dalam dekapan. Lantas menyikap surai panjang sang istri di bagian telinga, dan berbisik, "Ada seseorang."
"Musuh?" bisik Vashti.
Lind merasa dua orang itu tidak kunjung pergi. Bukankah akan lebih baik jika ia permainkan saja? "Bukan." Setelah menjawab Vashti, Lind tiba-tiba saja berujar dengan nada sedikit tinggi. "Kenapa kau tidak melepas saja semua pakaianmu, Istriku?"
"Malam ini memang dingin. Tapi jika kita berdua tertidur dalam satu selimut dengan keadaan tela---" Sial. Vashti mencubit perutnya. "Akh."
"Kau!" hardik Vashti. Dengan tiba-tiba saja mendorong Lind untuk tertidur di ranjang--- dengan Vashti yang berada di atas berbisik, "Jika ingin berpura-pura tolong kontrol juga ucapanmu, Lind. Kenapa menjadi menjijikan seperti itu?"
Lind tidak menanggapi apa-apa. Selain melempar senyuman lebar pada sang istri.
"Kau benar-benar menyebalkan," imbuh Vashti dengan berbisik lagi.
Menyadari posisi yang sangat intim dan dominan ini Lind tiba-tiba saja menyentuh pinggang Vashti. "Astaga, istriku kau ini agresif sekali," ujarnya dengan keras.
"Lind, berhenti," tuntut Vashti dengan berbisik memohon.
Setelah permohonannya tidak digubris. Vashti melakukan semua sendiri, ia mendeteksi seseorang yang berada di balik pintu dengan kekuatan aroma spirit miliknya. Tidak ada aroma apa-apa, hanya tersisa sedikit kesenangan saja. Bahkan aroma ini pun telah menjauh. Bukankah berarti orang dibalik pintu itu sudah pergi? batin Vashti dengan memukul tangan Lind yang berada di pinggangnya.
"Lepas tanganmu, Lind."
Tangan Lind terlepas. "Sudah. Aku sudah melepas tangan, Istriku."
"Mereka sudah pergi, berhentilah berpura-pura."
Lind mengangguk-angguk, saat Vashti turun dari atas tubuhnya. "Kau mendalami sekali dalam hal kepura-puraan ini, Vashti," ujar Lind.
Keduanya kembali duduk seperti semula.
"Lind, berhenti menggodaku," ucap Vashti dengan memandang serius pada Lind. "Mari tidur dan lanjutkan pembicaraan kita besok."
"Baiklah."
[.]
Note: Mulai hari ini saya akan pakai nama biasa tanpa Tuan Putri dan lain-lain dibelakangnya, kecuali jika dalam percakapan.