
Kegelapan ini, selalu menyelimuti kehidupan malam Tuan Putri Vashti. Kiranya itu ada cahaya, mungkin hanya berasal dari krisan kuning yang tiba-tiba datang memasuki kediamannya. Ia pun selalu tahu, bahwa krisan kuning itu adalah Ibundanya. Cahaya itu redup, dan membawa sedikit angin malam masuk. Tuan Putri Vashti menjadi ingat kembali mengenai penolakan Yang Mulia Raja Vasant, yang enggan sekadar saja menemui Tabib Senior II Legolas.
Bagi Yang Mulia Raja Vasant, dirinya mungkin hanya seorang putri yang tak berguna. Apa-apa ia tak bisa, sehingga Yang Mulia kecewa memilih abai saja pada putrinya ini. Jika hanya untuk menjadi jelita dan berbudi luhur, Ashana pun bisa menurut Yang Mulia. Ayahanda tidak membutuhkan itu, yang di butuh oleh beliau adalah penerus tahta yang hebat. Ashana kandidat aslinya.
Ah, lagi-lagi Tuan Putri Vashti merasa iri.
Bahkan netra yang semula baik-baik saja, kini terasa perih dan memanas. Lantas tidak lama krisan kuning mulai mengitarinya dari jarak dekat, seperti biasa--- krisan kuning itu membawa air matanya yang menetas, menjadi hilang entah di bawa terbang ke mana.
"Sakit, Ibunda."
Netra hazel milik Tuan Putri Vashti menatap pada setiap krisan kuning yang melingkarinya. "Rasanya a-aku ingin pergi saja."
Tangan yang semula diam di atas ranjang, kini terangkat menyentuh dada dan mencengkram kuat-kuat gaun yang digunakannya. "Tapi ... tidak bisa."
"Aku bertahan sebagai Tuan Putri supaya ..." Tuan Putri Vashti menunduk dalam. "A-aku bisa mengunjungi makam Ibunda di Negeri Tanah. A-aku benar-benar ... merindukanmu, aku ingin memelukmu."
Dadanya sesak, sakit sekali di dalam sana. Tega Yang Mulia Raja menolak segala permintaan-permintaannya, hanya sebab ia tidak memiliki kekuatan apa-apa. Andai kata Ibunda mengizinkan seseorang tahu mengenai spirit aroma ... mungkin ia akan memberitahu semua pada Ayahandanya.
Namun, tidak. Bagi Tuan Putri Vashti perintah tetaplah perintah, tiada boleh di langgar.
Ia akan terus rela bila hidup sebagai Tuan Putri akan memporak-porandakan hatinya. Lagi pula jika bagi Nura pernikahan atas dasar sayembara adalah kebodohan. Apa perbedaan Nura dengan dirinya ini? Gadis pelayan itu pun percaya bahwa Tuan Muda Lind adalah makhluk yang berbaik hati. Lantas untuk apa ia merasa tak percaya pada Tuan Muda Lind?
Lagi pula cinta tak perlu ada dalam pernikahan ini. Sebab ia hanyalah hadiah dari sayembara saja, Tuan Muda Lind adalah pemenang. Lelaki itu berhak memiliki dirinya, bahkan tanpa status pernikahan pun ia harus rela dimiliki.
"Maaf, Ibunda. Akhir-akhir ini ... aku memang sering menangis." Tangan Tuan Putri Vashti mengambil salah satu kelopak krisan kuning yang jatuh. "Jadi berhentilah menghapus air mataku, jika itu hanya membuang-buang energi saja."
Tuan Muda Lind memutuskan untuk kembali saja. Ia tidak lagi memiliki minat untuk menemui Cuini, setelah mendengar tangis menyayat hati dari Tuan Putri Vashti. Astaga, andai kata ia telah memiliki hak untuk memeluk atau sekadar saja menghibur, ia pasti akan memasuki bilik kamar Tuan Putri.
Sebab tak tega rasanya membiarkan gadis itu menangis seorang diri. Bahkan sepertinya Nura pun tidak datang untuk menemani Tuan Putri. Sungguh betapa kesepian dia selama ini.
"Lind."
Suara itu berasal dari Ayahandanya--- Legolas.
"Ayahanda, sudah membicarakan mengenai pernikahanku dengan Yang Mulia Raja?"
Ayahanda mengangguk. "Aku berbicara dengan utusan Yang Mulia Raja."
"Eliot?"
Pupil mata Tuan Muda Lind melebar. "Apa tidak terlalu cepat, Ayahanda?"
"Tidak. Purnama ke -11 adalah waktu yang baik."
Dirinya hanya mampu menerima. Lagipula memang tetua selalu tahu hal-hal baik untuk penetapan pernikahan. "Lalu, apa Tuan Putri setuju?"
"Eliot akan menyampaikannya," jawab Legolas.
Nura datang dengan Eliot secara bersamaan. Tuan Putri Vashti merasa bahwa tidak mungkin secepat itu Nura sembuh. Tetapi mengapa pelayan ini datang kembali dengan keadaan biasa-biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan Nura bisa berdiri tegak dengan kedua kakinya sendiri.
"Hamba menghadap pada Tuan Putri."
Ucapan itu terdengar bersama dari Eliot dan juga Nura. Selang beberapa detik, Eliot kembali berbicara, "Hamba telah mendapatkan waktu yang tepat untuk pernikahan Tuan Putri Vashti---"
Tuan Putri Vashti mengangkat tangan, meminta Eliot untuk menghentikan ucapan. Lantas pandangan mata Tuan Putri Vashti beralih pada Nura. "Kau. Keluarlah, Nura," ujarnya.
"Hamba undur diri, Tuan Putri," ucap Nura.
Setelah memastikan Nura tak terlihat dalam pandangan. Tuan Putri Vashti menatap Eliot lagi. "Lanjutkan," ujarnya.
"Purnama ke -11," ucap Eliot.
Bukankah ... terlalu cepat? batin Tuan Putri Vashti.
"Adalah waktu yang diinginkan oleh Tabib Senior II Legolas." Eliot menjeda. "Yang Mulia Raja Vasant pun telah menyetujui. Dan hamba diminta langsung bertanya, dimanakah Tuan Putri Vashti ingin menyelenggarakan pernikahan ini?"
"Jika aku ingin pernikahan ini ... diselenggarakan di Kerajaan Krisan. Apa Yang Mulia akan setuju?"
Hening. Eliot masih tidak menjawab.
"Jika di larang---"
"Hamba izin menyanggah," ucap Eliot tiba-tiba. Lelaki itu menatapnya. "Tuan Putri diperbolehkan, untuk menyelenggarakan pernikahan di bagian Kerajaan Krisan manapun. Terkecuali, di Kediaman Utama."
Tuan Putri Vashti terdiam. Tidak perlu aku bertanya alasan. Tentu karena itu adalah bagian tempat tinggal Ayahanda dan Ibunda dari Ashana. Aku tidak boleh melaksanakan sesuatu kebahagiaan yang mereka sendiri tidak ingin lihat dan dengar di sana, batinnya dengan mengayun tangan ke depan.
"Pergilah. Minta Nura kembali masuk," titah Tuan Putri Vashti.