
Pagi hari Vashti dan suaminya makan bersama. Ada Cuini juga yang tiba-tiba saja menyusul dan mengatakan bahwa gadis itu merindukan Lind. Astaga, Cuini ini memang diluar dugaan. Padahal baru saja semalam Cuini berjumpa dengan Lind, dan sekarang gadis ini sudah bergelantungan manja di lengan suaminya.
"Cuini, bisa lepaskan tangan Kakak!" pinta Lind.
"Kenapa? Kakak tidak suka aku peluk?" Pandangan Cuini beralih pada Vashti "Tuan Putri keberatan tidak aku memeluk Kakak?"
"Sama sekali tidak, Cuini." Vashti menatap dengan senyum tipis pada Lind. "Lagi pula, dia adalah Kakakmu. Kau bisa sepuasnya memeluk sepanjang hari."
Mata Lind melebar. Kemudian pada detik berikutnya, Lind tersenyum jahil. "Lihat, Cuini. Kau membuat istri Kakak merasa kesal. Buktinya saja dia membebaskan Kakak untuk kau peluk sepanjang hari. Padahal tadi malam, dia bilang tidak akan mengizinkan siapapun mengambil sesuatu yang sudah menjadi milikinya."
"Ya ... termasuk Kakak, kan?" imbuh Lind.
Vashti yang tadi meneguk air, kini tersedak.
"Tuan Putri! Anda baik-baik saja?" Cuini melepas pelukan pada sang Kakak dan berlalu mengusap-usap punggung Kakak iparnya. "Tuan Putri ingin ku ambilkan obat atau---"
"Berhenti bicara, Cuini. Istri Kakak baik-baik saja," sanggah Lind langsung.
Menyebalkan Lind terus sana memanggil istri dan istri saja, jujur kedua pipi Vashti memerah padam. Dan apa-apaan tatapan Lind itu? Tersenyum seolah tidak mempunyai salah. Padahal yang membuat dirinya tersedak adalah Lind.
"Tuan Putri, anda---"
Vashti mengangkat tangan kiri. "Cuini berapa kali aku mengatakan, jangan memanggilku Tuan Putri lagi. Cukup panggil aku Kakak ipar saja."
"A-ah itu. Iya. Aku lupa, kita kan sedang tidak di acara formal," ujar Cuini dengan tersenyum canggung. Kemudian menatap Lind lagi. "Kalau begitu. Aku akan berkeliling ke toko keramaian Negeri Bunga. Kakak tolong lihat keadaan Kakak Ipar, beliau tersedak juga karena ulah Kakak!"
"Kalau begitu aku pergi! Dah, Kakak Ipar!" sambung Cuini dan langsung pergi.
Lind menatapnya dengan menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian melahap lagi nasi dengan sumpit dan berkata, "Cuini benar-benar keterlaluan. Dia lupa berpamitan pada Kakaknya."
"Kau iri?"
"Siapa? Aku?"
Vashti mengangguk dengan mengulum senyum.
"Sedikit." Senyum lebar terukir jelas pada bibir Lind.
"Tuan Putri Ashana Lucian memasuki kediaman krisan kuning!"
Suara penyambutan itu membuat Vashti terdiam langsung. Lind tidak tahu mengapa istrinya seperti ini saat menyambut adik sendiri. Dan selang beberapa detik, Ashana masuk dengan merendahkan diri, Tuan Putri itu memberi hormat pada Vashti--- yang hanya mendapat sambutan datar tanpa senyum sedikit.
Apa dia selalu seperti ini? batin Lind.
"Salam hormat untukmu juga Tuan Putri Ashana," ujar Lind yang memberi hormat dengan menunduk.
Lind kembali duduk. Sedangkan Vashti--- istrinya terlihat tetap duduk dan berujar, "Ada apa? Kenapa kau jauh-jauh mengunjungiku, Ashana? Bukankah kau tengah mempersiapkan penerus terbaik untuk Negeri Bunga ini?"
"Kakak ..."
Vashti hanya diam.
"Aku hanya ... sedang ingin bertemu dengan Kakak." Ashana menjeda, dengan menatap bawah. "Ki-kita telah sama-sama berkeluarga. Apa Kakak ... tidak ingin kita saling bertukar cerita? Ma-maksudku, setiap Adik dan Kakak, bukankah saling berbagi semua hal?"
Lind terdiam. Tetapi tiba-tiba berdiri, sedikit merendahkan tubuh dan memberi hormat pada Vashti dan Ashana. "Aku akan menunggu di luar."
Saat melihat Lind keluar. Vashti kembali menatap Ashana. "Bicara."
Hening.
Ashana sampai pada lima belas detik berlalu pun tidak mengatakan apa-apa. Gadis itu hanya tertunduk dan memilin jari-jari tangan sendiri.
"Jika tidak ingin bicara, kau bisa keluar, Ashana," lanjut Vashti.
Deg.
Jantung Ashana terpicu dengan cepat. Ia langsung mengangkat kepala dan menatap tepat pada mata sang Kakak. "Aku ... aku ingin meminta maaf, Kakak."
"Kesalahan apa yang kau perbuat?"
Ashana terdiam sejenak. "Lagi-lagi ... aku membuat ... Kakak merasa bahwa Ayahanda hanya menyayangiku saja."
Semilir angin menyapu surai panjang Vashti. Ucapan Ashana mengapa terdengar sangat menghina di dalam telinganya? Padahal, aroma yang memenuhi ruangan ini hanyalah kesedihan saja. Apakah benar saudara tiri bisa menyayangi saudara tirinya yang lain?
Vashti tak percaya.
Ashana memang tidak seperti Yang Mulia Ratu Hanasta. Tetapi darah yang sama mengalir di sana. Apakah kejahatan itu menurun? Apakah anak yang lahir dari Ibunda seperti itu bisa menjadi orang yang baik dan penuh kasih sayang padanya?
"Kakak ..."
Vashti tersadar. "Ashana, bagaimana bisa kau menilai bahwa aku merasa seperti itu?"
Ashana terdiam.
"Apa karena Ayahanda tidak menghadiri pernikahanku? Apa karena kau dan suamimu menempati kediaman utama? Apa juga karena ... Ayahanda memilihkanmu laki-laki yang lebih bermartabat daripada suamiku?" sambung Vashti.
[.]