
Mendengar ucapan 'kebodohan' yang berani dikeluarkan Nura, membuat Tuan Putri Vashti membuka matanya. Bahkan ia langsung menatap tajam kepada pelayan setianya itu--- ingin sekali ia meminta Nura mengulangi perkataan terakhir. Bagaimana bisa seorang pelayan melontarkan kata hinaan untuk keluarga kerajaan?
"Kau ingin di cambuk, Nura?"
Nura menelan ludah beberapa kali. "Hamba siap menerima hukuman apapun. Tetapi tolong izinkan hamba menyelesaikan semua ucapan hamba, Tuan Putri."
Tuan Putri Vashti hanya menatap.
"Sayembara ini mengorbankan kebahagiaan dan juga kehidupan anda. Hamba memang hanyalah seorang pelayan. Tetapi hamba dan Tuan Putri Vashti tumbuh besar bersama. Hamba masih mengingat dengan jelas, bahwa anda ingin menikah atas dasar cinta kepada seseorang." Nura menjeda. "Anda berkata, bahwa seumur hidup akan indah, bilamana pernikahan itu di dasari rasa cintai. Mungkin seseorang bisa mati, tetapi cinta akan tetap hidup."
"Anda tidak mengibaratkan pasangan seperti siapa yang ingin anda ikuti. Tetapi anda selalu berkata bahwa anda ingin menjadi seorang istri seperti Yang Mulia Ratu Floella--- Ibunda Tuan Putri sendiri." Nura menunduk lagi. Kali ini bahkan bersujud, sangat-sangat terlihat aneh dalam pandangan Tuan Putri Vashti sebab Nura tidak pernah seperti ini.
"Jangan pernah ampuni hamba, Tuan Putri. Sebab sebagai pelayan setia, hamba tidak ingin Tuan hamba harus berakhir seperti Yang Mulia Ratu Floella." Nura menetas air matanya lagi. "Sebab memang benar pernikahan Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Raja atas dasar cinta. Tetapi cinta itu hanya berada dalam satu pihak saja. Yaitu cinta milik Yang Mulia Ratu Floella. Sebab nyatanya, Yang Mulia Raja Vasant mendasari rasa saling mencintainya dengan Yang Mulia Ratu Hanasta bukan dengan Ibunda Tuan Putri sendiri."
"Jadi, hamba memohon dengan sangat, Tuan Putri jangan pernah menikah dengan Tuan Muda Lind. Jika tanpa perasaan saling mencintai, sebab pernikahan anda akan berakhir menyakitkan," sambung Nura.
Lima belas detik berlalu. Tuan Putri Vashti masih melihat Nura yang menunduk. Ia memilih berdiri, dan berjalan menuju meja yang terdapat kontak kayu di dalamnya berisi cambuk.
"Pelayan, tidak boleh mencampuri urusan Tuannya. Kecuali aku sendiri yang memintamu," tegas Tuan Putri Vashti.
Nura berdiri. Ia telah memahami bahwa hukuman akan segera di terimanya atas penghinaan besar yang telah ia lakukan. Bahkan menurut Nura, hukuman cambuk masih sangat lah ringan. Sebab mungkin jika Yang Mulia Ratu Hanasta yang mendengar ia akan di peng*gal.
"Angkat bajumu."
"Tutup mulutmu dengan itu," sambung Tuan Putri Vashti.
"Haaa."
Napas Nura tersengal-sengal. Matanya berair, dengan menahan perih di kaki serta punggungnya. Setelah benar-benar selesai, ia menurunkan pakaian dan membuka kembali penutup mulut.
"Hamba izin---"
"Siapa yang menyuruhmu pergi?" sanggah Tuan Putri Vashti.
Nura terdiam.
"Nura ... kau tahu? Aku memang teman masa kecilmu. Ibundamu dulu memang telah mengabdikan hidup untuk Ibundaku. Tetapi ingatlah, cara bicaramu, sopan santunmu dan segala kemuakkan yang kau simpan dalam pikiran tentang keluarga kerajaan ..." Tuan Putri Vashti menyentuh dagu Nura. "Harus kau jaga baik-baik. Jangan berani berbicara dengan nada tinggi, apalagi ketidaksopananmu yang terang-terangan menghina."
"Sebab kau akan mati Nura, jika berani berucap kedua kalinya di depanku," akhir Tuan Putri Vashti dengan meneriaki pelayan untuk segera membawa Nura pergi.
Ruangan ini ... di penuhi aroma kesedihanmu, Nura, batin Tuan Putri Vashti yang menatap kepergian Nura dari pintu yang perlahan tertutup.