Vashti

Vashti
Pernikahan Yang Di Pimpin Oleh Paramananda.



Purnama ke -11 telah tiba, pernikahan sederhana tergelar di kediaman krisan kuning atas perintah Tuan Putri Vashti Lucian. Orang-orang yang hadir hanyalah saudara terdekat, Cuini, Eliot, Nura, beberapa pelayan, Ashana dan Pangeran Saguna tidak lupa dengan Ayah mertua, Tabib Senior II Legolas.


Sungguh Tuan Putri Vashti pikir hanyalah orang-orang itu saja yang datang. Tetapi beberapa menit saat sumpah pernikahan hendak digelar, Pendekar Moshe---anak dari saudara Ibunda kandung datang menghadiri.


"Ada larangan untuk menghadiri pernikahan ini?" tanya Pendekar Moshe dengan menatap pada Eliot.


"Salam hormat untuk anda, Tuan Pendekar Moshe Grantham." Eliot menunduk. "Anda boleh menghadiri pernikahan. Tuan Putri Vashti mengizinkan, sebab anda adalah keluarga."


"Baiklah." Mata Pendekar Moshe mengedar. "Di mana aku bisa duduk?"


Setelah melihat Eliot mengantarkan Pendekar Moshe duduk di suatu tempat. Para tetua--- yang tidak lain adalah Paramananda, yang bertugas memimpin sumpah pernikahan ini telah bersiap.


Tuan Putri Vashti dan Tuan Muda Lind pun berdiri dengan jarak yang tidak terlalu jauh, sedang Paramananda berada di antara mereka untuk memberi berkat.


"Sumpah pernikahan akan segera terlaksana." Paramananda mengangkat kedua tangannya. "Di mohon mengikuti setiap apa yang akan aku katakan."


Tuan Putri Vashti dan Tuan Muda Lind mencakup kedua tangan lantas menunduk.


"Dalam suka duka kehidupan, aku berjanji akan selalu bersama." Paramananda menjeda. "Entah badai apa yang menerpa. Jika bukan kematian, aku tidak akan pernah pergi."


Paramananda telah berhenti. Maka Tuan Putri Vashti dan Tuan Muda Lind mengulangi ucapan itu, dengan saling menatap satu sama lain.


"Dalam suka duka kehidupan, aku berjanji akan selalu bersama. Entah badai apa yang menerpa. Jika bukan kematian, aku tidak akan pernah pergi."


Setelah selesai mengucap sumpah pernikahan, Paramananda meminta keduanya untuk menghadap lagi. "Berdo'alah untuk pasangan kalian, satu sama lainnya. Jika telah usai, kalian resmi menjadi suami dan istri."


Tuan Putri Vashti dan Tuan Muda Lind mengangguk.


Tuan Muda Lind, entah bagaimana pun awal pernikahan ini terjadi. Aku akan selalu meminta kesejahteraan untuk hidupmu, selayaknya seorang istri yang mendo'akan suaminya, do'a Tuan Putri Vashti di dalam hati.


Malam ini, hingga nanti pernikahan berlalu. Aku akan selalu meminta pada Semesta, untuk memberimu kebahagiaan. Jika sedihmu pun tiba, itu akan cepat berlalu, dan kau akan kembali tersenyum, batin Tuan Muda Lind yang berdo'a.


"Semoga Semesta dan Alam Tanaman merestui pernikahan kalian," harap Paramananda.



Tuan Putri Vashti sudah lebih dulu memasuki bilik pengganti yang berada di kediaman krisan kuning. Astaga, dekorasi bilik ini benar-benar terlalu ramai dan putih. Ada apa dengan pelayan-pelayan dan Nura? Mereka sengaja membuat semua tempat ini menjadi putih, untuk menunggu malam pertamanya dengan Tuan Muda Lind berhasil atau tidak?


Kurang ajar! Sama sekali, tidak sopan.


Pakaian luar yang berwarna merah gelap Tuan Putri tanggalkan. Kini ia hanya menggunakan satu lapis pakaian dalam yang berwarna putih dan tipis.


Lagi pula tidak perlu malu-malu, Tuan Muda Lind sudah menjadi suaminya. Dan setelah mengarung darah di sungai terdekat tadi, Tuan Putri Vashti menjadi memahami bahwa Tuan Muda Lind adalah pria yang bisa di andalkan.


"Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian."


Dia datang? batinnya dengan menggeser sedikit pintu bilik. Lantas ia berujar, "Masuk lah."


Ia melihat keterkejutan Tuan Muda Lind saat telah berada dalam satu ruangan. Bahkan tiba-tiba pria di depannya ini menutup mata dengan kedua tangan. Mengapa? Apakah sebab ia memakai pakaian satu lapis?


"Tu-tuan Putri---"


"Ganti panggilanmu," sanggah Tuan Putri Vashti.


Tuan Muda Lind menggeleng, lantas kemudian mengangguk, seperti kebingungan. "Ba-baiklah. Ta-tapi apa a-anda---"


"Jangan menyebut diriku dengan kata 'anda.'


"Ya, baiklah." Tuan Muda Lind menjeda. "K-kau apa pakaianmu ini tidak salah? Vash-ti, kau ... tu-tubuhmu bukan sesuatu yang pantas dipertontonkan."


Tuan Putri Vashti menghela napas. Panggilan itu sudah benar, tetapi tingkah suaminya ini masih sangat salah. "Siapa juga yang sedang mempertontonkan tubuh, Lind? Aku hanya membuka pakaian luar saja, dan lagi pula ... kau ini kenapa? Aku masih menggunakan pakaian lengkap, aku sama sekali tidak telan*jang."


Tangan Tuan Putri Vashti menarik kedua tangan suaminya, supaya terlepas dan saling bertemu tatap. "Kau aneh," ujar Tuan Putri Vashti.


"Bukankah kau seorang Tuan Muda? Meskipun kedudukanmu di Negeri-negeri lain kecil. Tetapi aku yakin, di Negeri Daun kedudukanmu cukuplah besar." Tangan mungil itu menyusuri pipi hingga belakang telinga kiri Tuan Muda Lind. "Kau seperti baru pertamakali saja melihat seorang gadis."


"Apakah itu tandanya ... kau tidak pernah menikmati tidur bersama dengan para pelayanmu atau bahkan gadis-gadis muda?" imbuh Tuan Putri Vashti.