
"Te-tentu saja tidak, Tuan Putri. Aku benar-benar bahagia bisa memiliki seorang Kakak Ipar sebaik dirimu," jawab Nona Muda Cuini.
Kau menyebut kebaikan. Bukan menyebut tentang paras jelitaku. Kau tahu Cuini ... aku bahagia, batin Tuan Putri Vashti yang menunduk, menatap pada kolam obat-obatan lantas hendak memasukan tangannya di sana.
"Jangan, Tuan Putri."
Tuan Putri Vashti mendongak, menatap pada Nona Muda Cuini heran. "Kenapa? Apa kolam ini beracun?"
"Tidak. Kolam ini juga obat-obatan, namun belum sampai di uji coba. Aku hanya takut Tuan Putri terluka," ujar Nona Muda Cuini yang langsung mengurungkan niat Tuan Putri Vashti.
Tuan Putri Vashti mengangguk-angguk. Setelahnya ia kembali pada posisi duduk semula lantas mengedarkan pandangannya. "Jadi kediamanmu ini di jadikan tempat meracik obat?"
"Iya, Tuan Putri."
"Lantas kau? Kau seorang tabib atau peracik obat seperti Kakakmu?"
Nona Muda Cuini terdiam, nampak ragu-ragu untuk berujar. "A-aku ..."
"Jika tidak ingin memberitahuku, tidak masalah Cuini."
Nona Muda Cuini menggeleng-geleng. "Tidak-tidak. Aku akan memberitahumu, Tuan Putri ... A-aku aku seorang ... ahli racun."
Ahli racun? Bukankah ... jika seseorang memiliki ke-ahlian racun, harus hidup tersembunyi tanpa di ketahui oleh siapa pun? Lantas Cuini ... betapa polosnya kau ini, batin Tuan Putri Vashti yang langsung menatap lurus pada Nona Muda Cuini. "Aku tahu, pasti Kakakmu sudah melarangmu mengatakan ini pada orang lain. Tapi mengapa kau semudah itu memberitahuku?"
"Aku percaya padamu, Tuan Putri."
Tangan kanan Tuan Putri Vashti terangkat, lantas membuka telapak tangan ada percikan air dan di susul oleh bunga krisan merah yang tumbuh di sana. "Ambil krisan merah ini. Simpanlah. Sebab rasa percayamu padaku yang begitu besar, benar-benar membuatku tersanjung. Ingatlah bahwa aku berkunjung ke mari sebagai Kakak Iparmu, bukan sebagai seorang Tuan Putri dari Kerajaan Krisan."
Nona Muda Cuini mengangguk-angguk dengan polosnya, dan mengambil krisan merah perlahan-lahan.
"Dan ingat, Cuini. Jangan memberitahu tentang kemampuanmu pada orang lain. Turuti kemauan Kakakmu yang berusaha melindungi dan menjagamu dari kejahatan," lanjut Tuan Putri Vashti.
"Iya, Tuan Putri. Aku berjanji tidak akan memberitahukan ini lagi pada siapa pun."
Suasana malam di Negeri Daun nampak lah indah. Gemerlap bintang-bintang dari Negeri Langit sangat mempesona bila di pandangi dari sini. Sebab sedikitnya cahaya membuat sekeliling redup, hanya ada lilin yang di bawanya untuk duduk di luar menikmati hawa dingin ini.
Memuakkan.
Ia benar-benar merasa seperti boneka. Tak seperti seorang anak yang dicintai dan dibanggakan. Nyatanya terlahir sebagai seorang Tuan Putri tidak lah jauh berbeda sengsaranya dengan menjadi orang biasa. Tetap saja, ia merasa harga dirinya tak ternilai.
"Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian."
Mendengar kata sambutan itu, Tuan Putri Vashti menengok melihat Tuan Muda Lind berdiri di sampingnya. "Tuan Muda Lind? Apa tugasmu telah usai?"
"Terselesaikan lebih awal, Tuan Putri."
Tuan Putri Vashti mengangguk-angguk.
"Kapan kau akan mengenalkanku pada kedua orangtuamu?"
Tuan Muda Lind spontan menengok, menatap Tuan Putri Vashti. "Terlalu cepat pun tidak akan berujung baik, Tuan Putri."
"Siapa yang berbicara?" Keduanya saling menatap. "Bagiku lebih cepat, itu lebih baik, Tuan. Sebab kau akan segera memiliki Tuan Putri kebanggaan dari Negeri Bunga ini."
"Mengapa anda berucap seperti itu, Tuan Putri?"
"Seperti apa?"
Tuan Muda Lind memutuskan kontak matanya.
"Menyebut diri sendiri dengan kata kebanggaan dari Negeri Bunga." Tuan Muda Lind menggeleng pelan. "Kata-kata itu seakan menjelaskan, bahwa diri anda bukan lah milik anda sendiri."
"Kau harusnya sadar. Aku lahir bukan untuk menjadi diri sendiri. Melainkan menjadi seorang Tuan Putri dari Kerajaan Krisan," jelas Tuan Putri Vashti.
Seulas senyum tipis Tuan Muda Lind tampakkan. "Anda memang telah ditakdirkan untuk menjadi Tuan Putri. Namun jika aku bisa meminta, anggap lah saja sebagai ... calon suami anda."
Tuan Putri Vashti menanti-nanti ucapan selanjutnya.
"Aku ingin meminta. Wanita yang akan ku nikahi ini, lebih bisa mencintai dirinya, lebih bisa menganggap bahwa yang berhak atas dirinya adalah diri sendiri. Bukan orang lain. Sekalipun Ayahanda sendiri," lanjut Tuan Muda Lind.