Vashti

Vashti
Aku ... Vashti Menerimamu



"Lantas Tuan Putri ..." Tuan Muda Lind tiba-tiba membuka salah satu telapak tangannya, dan tak lama muncul lah cincin dari tangkai daun. "Apa anda bersedia hidup bersama denganku dalam suka dan duka?"


Cincin hijau dari tangkai daun? Ini ... indah, batin Tuan Putri Vashti dengan tangan yang mendekat perlahan mengambil cincin itu dengan senyum tipis ia fokus memandangi. "Kau sedang melamar?"


"Seperti yang anda lihat. Aku memberi satu cincin yang mana langsung di sentuh oleh pengganti wanita. Seperti tiada niat menolak," gurau Tuan Muda Lind dengan menatapi paras Tuan Putri Vashti yang masih memegangi cincin itu. "Jika anda menerimaku. Maka akan ku bantu memasangkan cincin yang membuat anda terpesona itu, pada jari manis anda, Tuan Putri."


"Bukankah ... kau yang menolakku lebih dulu?"


Tuan Muda Lind spontan menggeleng. "Aku tidak pernah menolak. Niat awalku memang hanya untuk mengambil krisan putih dan ... membawa anda ke mari, untuk menemui Cuini."


"Hmm." Tuan Putri Vashti mendongak menatapi Tuan Muda Lind tepat di netranya. "Lantas sekarang ... alasanmu melamarku apa?"


"Keyakinan hati, Tuan Putri."


Seulas senyum tipis Tuan Putri Vashti tunjukkan. "Keyakinan hati yang bagaimana, Tuan? Kau ini ada-ada saja."


"Setiap hati memiliki rasa yakin, Tuan Putri. Seperti halnya yakin menerima seseorang yang baru untuk memasuki kehidupan anda." Tuan Muda Lind menjeda. "Lantas anda sendiri ... mengapa tidak menolakku?"


"Untuk apa menolak pria tampan sepertimu?" Setelah mengucap itu, spontan Tuan Putri Vashti menunduk, dengan membuka lebar tangannya. "Pakaikan cincin itu, padaku."


"Anda belum menjawab bahwa anda menerimaku."


Tuan Putri Vashti mengangguk-angguk. "Baiklah-baiklah. Tuan Muda Lind, aku ... Vashti menerimamu, bersedia hidup bersamamu dalam suka dan duka."


Lantas dengan yakin Tuan Muda Lind memasangkan cincin pada jari manis Tuan Putri Vashti. "Besok kembali lah ke Negeri Bunga. Aku akan ke sana dengan membawa keluargaku untuk segera mempersuntingmu, Tuan Putri."


"Jika kau berniat menikahiku, berhenti memanggilku dengan gelar itu. Panggil lah aku Vashti, atau senyaman mungkin kau ingin memanggil. Asal jangan memanggilku dengan kata Tuan Putri," ujar Tuan Putri Vashti.


Tuan Muda Lind mengangguk. "Kelak, jika sudah menikah. Aku akan merubahnya."



Tuan Muda Lind hanya menggeleng-geleng melihat Adiknya yang berteriak kegirangan. "Kau harus menyambut Tuan Putri dengan baik. Jangan terlalu banyak berbicara hal-hal yang tidak penting padanya."


"Mengapa?" Nona Muda Cuini menatap kesal pada sang Kakak. "Tuan Putri saja bicara jika dia suka mendengarku berbicara banyak. Justru jika aku diam seribu bahasa Tuan Putri pasti mengira aku tidak menyambutnya dengan baik, Kakak!"


"Terserah apa katamu. Kau hanya tidak boleh merepotkan Tuan Putri," titah Tuan Muda Lind.


"Tenang saja, Kakak. Aku tidak akan merepotkan calon istrimu," goda Nona Muda Cuini dengan mengedipkan sebelah mata. "Mungkin ... aku hanya menceritakan beberapa hal konyol yang pernah Kakak lakukan sewaktu dulu. Supaya Tuan Putri tidak terkejut, Kak!"


Tuan Muda Lind berdecak. "Kau ini ... dasar! Sudah-sudah keluar kau dari kediaman Kakak. Kakak sedang sibuk!"


Nona Muda Cuini mengangguk-angguk dengan senyum jahil, menatapi Tuan Muda Lind dan berjalan mundur. Akhh! Akhirnya akhirnya aku mempunyai seorang Kakak Ipar. Aku senang! Aku senang! batin Nona Muda Cuini dengan berjalan kegirangan tanpa menatap ke arah depan.


Brak!


"Ah," rintih Nona Muda Cuini saat ia terjatuh dengan terduduk. Lantas saat ia sadar ia menatapi kaki seseorang di depannya, dan saat ia mendongak melihat siapa yang menabraknya. Spontan saja ia menunduk dan berujar, "Maaf. Maafkan saya, Tuan Pendekar."


"Kau benar-benar tidak memiliki tata krama," hina Pendekar Moshe.


Dan tak lama dari arah belakang Nona Muda Cuini berlari Tuan Muda Lind, yang langsung menyentuh pinggang sang Adik untuk membantunya berdiri.


"Tuan Pendekar Moshe, tolong maafkan Adik saya. Dia selalu ceroboh." Tuan Muda Lind menunduk beberapa kali, dengan memaksa Nona Muda Cuini menunduk juga. "Sekali lagi, saya meminta maaf."


"Ketiga kali, dia menabraku. Aku tidak akan memaafkan," ujar Pendekar Moshe.