Vashti

Vashti
Mempertahankan Pernikahan.



"Kau terlihat baik-baik saja, Nura."


Tatapan Tuan Putri Vashti datar. Sedangkan Nura menunduk dalam dengan berucap, "Hamba adalah pelayan setia Tuan Putri Vashti, dalam keadaan sakit jika hamba masih bertahan, hamba akan tetap melayani Tuan Putri."


"Hm, seperti itu?" Tuan Putri Vashti menurunkan pandangan pada kaki Nura. "Sikap pakaian bawahmu. Aku ingin melihat luka itu."


Nura mengangguk. Kedua tangannya tegak lurus di bagian samping kanan dan kiri, lalu perlahan ia menunduk sedikit, menarik pakaian bawah ke atas perlahan-lahan.


"Apa ini sakit, Nura?" tanya Tuan Putri Vashti dengan berada di belakang Nura. Ia memandangi luka pelayan setia ini dengan datar. "Bekasnya akan sulit hilang."


"Tidak ada hukuman yang lebih ringan daripada ini, Tuan Putri," jawab Nura.


Tuan Putri Vashti mengambil duduk di ranjang. "Nura ... aku jadi ingin memberimu pertanyaan."


Nura terdiam.


"Apa pernikahan atas sayembara ... masih termasuk kebodohan, bagimu?"


Tiga detik kemudian Nura menjawab, "Jika pernikahan itu bertahan sampai Semesta yang memisahkan. Hamba tidak akan menyebut itu kebodohan lagi."



Darah yang dapat mengobati penyakit apapun, adalah kelebihan yang dapat disebut juga dengan kekurangan. Sebab Tuan Muda Lind hampir merenggang nyawa setiap telah menyelamatkan seseorang. Mungkin, ia akan tidak sadarkan diri satu, dua hari bahkan seminggu tergantung penyakit dan luka sedalam apa yang ia sembuhkan.


Sedangkan Cuini--- adiknya, adalah Ahli Racun yang ... ya bisa dibilang juga lemah. Sebab Cuini masih tidak menguasai sihir penyembuhan atau sihir meracuni dengan benar. Terkadang-kadang pun itu mengakibatkan sang adik terluka, sampai memuntahkan darah.


Tuan Muda Lind resah. Tetapi ia akan memberitahu semua tentang dirinya pada Tuan Putri Vashti kelak, jika mereka sudah benar-benar menikah. Entah ada cinta ataupun tidak, Tuan Putri Vashti akan tetap menjadi istrinya. Ia tak ingin Tuan Putri merasa tidak dihargai jika nanti Tuan Putri tahu keadaan dirinya dari seseorang yang lain.


"Lind."


"Iya, Ayahanda?"


Ayahanda menatapnya. "Apapun yang terjadi, jika nanti kau dan Tuan Putri Vashti sudah menikah. Jangan pernah ada perceraian, di antara kehidupan pernikahan kalian."


Tuan Lind terdiam.


"Aku tahu, kau tidak mencintai Tuan Putri, Lind." Ayahanda membuka telapak tangan beliau. Kemudian pada detik berikutnya, ada cahaya dibersamai datangnya cincin hijau--- yang percis seperti Tuan Muda Lind berikan saat melamar Tuan Putri Vashti. "Lihat cincin ini. Dulu aku melamar Ibundamu menggunakan cincan hijau ini, yang di buat dari sihir Negeri Daun."


"Kau dan Cuini tidak pernah lupa, kan? Bahwa Ibunda kalian ..." Sekejap saja cahaya itu hilang, cincin hijau itu tergelak di telapak tangan Ayahanda. "Adalah wanita dari Negeri Bunga."


"Kau jelas tahu keindahan semua pria dan wanita dari Negeri Bunga ini tiada bandingnya." Ayahanda menatap lurus. "Ibundamu memang begitu cantik. Tetapi anehnya dulu sebelum menikah aku sama sekali tidak pesona oleh Ibunda kalian."


"Dan setelah menikah. Anehnya, aku begitu mencintai Ibundamu dan Cuini." Ayahanda tertawa kecil. "Bukankah itu adalah kekuatan pernikahan, Lind?"


"Ya ... mungkin saja," jawab Tuan Muda Lind.


Legolas menatap sang putra. "Menikahlah dengan Tuan Putri Vashti dan bangun keluarga bahagia bersamanya. Dia terkucilkan, karena tidak memiliki kekuatan apa-apa."


"Meskipun kau lemah, setidaknya masih ada yang lebih lemah darimu. Bukankah itu berarti ... kau masih bisa melindungi Tuan Putri?" lanjut Legolas.


Tuan Muda Lind hanya menjawab, "Ya ... semoga saja aku memang bisa melindunginya."