Vashti

Vashti
Mempengaruhi Sistem Kerajaan?



Setelah kejadian Nona Muda Cuini menabrak seseorang Pendekar. Tuan Muda Lind mengantar adiknya ke kediaman Capillus. Entahlah terkadang-kadang ia sedikit tidak bisa memahami Adiknya. Jika masalah tata krama yang Tuan Pendekar itu bahas, ya ... mungkin saja adiknya terlalu bertingkah. Tetapi jika di lihat-lihat olehnya, Nona Muda Cuini cukup sopan bilamana berhadapan dengan orang-orang penting.


Sudahlah, batin Tuan Muda Lind yang langsung pergi dari kediaman Capillus.


Dalam perjalanan angin membawa sepucuk daun hijau yang langsung di sambut telapak tangannya.


Dari Ayah? batin Tuan Muda Lind dengan mulai membaca tulisan yang tertulis di sana.


Berangkatlah lebih dahulu bersama Cuini. Aku akan menyusul ke Kerajaan Krisan.


Sekejap saja daun itu menjadi abu. Surat telah di baca, dan Tuan Muda Lind akan mengikuti perintah sang Ayahanda. Menikahi Tuan Putri Vashti Lucian adalah ingin semua orang, tetapi sampai saat ini ia tak mengerti motif Ayahandanya dengan minta ia menikahi Tuan Putri dari Kerajaan Krisan itu.



Langit hendak gelap. Sekeliling kediaman Adiantum lama-lama menjadi sunyi. Mungkin masih ada beberapa Tuan Muda dan Pendekar yang lalu-lalang menjalankan tugasnya.


Tuan Muda Lind masih memikirkan cara. Bagaimana kiranya ia berbicara dengan Tuan Putri Vashti bahwa ia ingin berangkat ke Kerajaan Krisan bersama. Ia hanya takut semuanya berujung pada penolakan, sebab ia hanyalah hamba terendah.


"Salam hormat, Tuan Muda Lind."


Kening Tuan Muda Lind mengerut, seperti mengenal suara ini. Dan telah lama ia tidak mendengar, saat membalikkan badan, seorang pria tampan sedang tersenyum lebar padanya.


"Baga?"


Seseorang yang di panggil Baga itu pun mengangguk. "Bagaimana kabarmu, Lind?"


"Kau ... benar-benar! Bagaimana bisa kau datang dan pergi seenaknya dari kediamanku, hm?"


Baga mengambil duduk di kursi kayu yang bersebrangan. "Kau ini. Teman lamamu baru saja tiba, bisa-bisanya kau hadiahi omelan! Teman macam apa kau ini, Lind?"


Baga terbahak-bahak. "Kau ini marah, ya?"


"Sudahlah!"


Tuan Muda Lind beranjak dari duduknya, ia menatap keluar, dan menengadah, pemandangan langit jingga benar-benar indah.


"Ekhm ... aku dengar kau menangkan sayembara, ya? Wah ..." Baga bertepuk tangan. "Imbalannya menikahi seorang Tuan Putri lagi. Kau hebat sekali Tuan Muda Lind."


"Kau! Kurang ajar!" Tuan Muda Lind menunjuk pintu keluar. "Keluar dari sini."


"Wah wah kau ini ... tega sekali Lind. Aku ini serius bertanya," ujar Baga dengan ikut bangkit mendekati temannya. "Jadi, Tuan Putri ... Vashti itu ... cantik? Seperti yang orang-orang bicarakan?"


"Sepertinya kau ini hanya berniat memastikan pendapatku saja bukan? Padahal aslinya, kau sudah bertemu dengan Tuan Putri Vashti." Tuan Muda Lind menjeda, ia menatap Baga. "Aku ini tidak bodoh, Baga! Kau bahkan sudah berkeliling ke seluruh alam tanaman. Dan sangat, tidak mungkin kau tidak mengetahui paras jelita Tuan Putri Vashti."


Baga tertawa ringan. "Aku tahu. Aku tahu, Lind. Dia memang sangat-sangat cantik. Tetapi ... dia seleramu atau bukan? Kau kan ... jarang-jarang berdekatan dengan seorang gadis. Bahkan menurutku, gadis yang sering kau sebut cantik hanya Adikmu saja. Yang lain hanya angin lalu."


"Dia cantik," lirih Tuan Muda Lind.


Baga tidak berekspresi. "Ku restui jika yang menjadi istrimu adalah gadis biasa, atau sekasta denganmu. Tetapi---"


"Kenapa, Baga? Menikahi Tuan Putri Vashti adalah imbalan yang kudapat dari mengambil krisan putih di dataran tinggi." Tuan Muda Lind menjeda. "Kau pikir mudah mengambilnya?"


"Ya ... aku tahu, Lind." Baga menyentuh guci hijau yang terpanjang rapi di dekat meja. "Tetapi, jika yang kau nikahi seorang Tuan Putri itu jelas akan mempengaruhi sistem Kerajaan gadis yang kau nikahi itu."


Kening Tuan Muda Lind mengerut.


"Dia mungkin akan menjadi ratu tanpa raja atau entahlah, Lind. Bisa saja juga kau hanya menjadi budak mereka, Tuan Putri itu hanya menikahimu karena keterpaksaan saja, bukan?" lanjut Baga.