
"Tuan Putri, hamba---"
"Tuan Muda Lind, berhenti menyebut dirimu sendiri dengan kata hamba aku tidak menyukai itu."
Dalam sekejap Tuan Muda Lind terdiam. Netranya menatapi manik indah sang Tuan Putri, sedetik berikutnya tiba-tiba saja angin berhembus krisan kuning melingkari kedua insan yang saling bertatapan. Dari arah barat panah beracun yang hendak mengenai Tuan Putri Vashti terbakar menjadi abu, dan terdengar erangan yang cukup kencang dari jarak yang tak jauh.
"Tuan Putri itu ... panah?"
Tuan Putri Vashti berdiri, lantas berbalik berjalan mendekati suara kesakitan yang terdengar jelas itu, dan saat sampai pandangan Tuan Putri Vashti datar, terkesan kejam tanpa berniat membantu atau sekadar saja berempati.
"Hmm, mencoba membunuh?" Tuan Putri Vashti berjongkok melihat mayat seseorang itu berubah menjadi tanah. "Orang Negeri Tanah? Sepertinya, dia berpikir kekuatan krisan kuning adalah kebohongan."
Eliot tiba-tiba saja datang. "Tuan Putri, maafkan hamba tidak bisa menjaga anda dengan baik."
"Tugasmu mengantarku, bukan menjagaku." Tuan Putri Vashti berdiri, dengan langkah pelan ia meninggalkan mayat itu dan berjalan menuju kuda. "Eliot ..."
"Hamba, Tuan Putri."
"Kau terkejut, bukan?" Tuan Putri Vashti tersenyum miring. "Kabarkan saja pada Ayahanda, bahwa kekuatan krisan kuning yang melingkariku adalah kebenaran."
Eliot tertunduk.
"Tuan Muda Lind, mari melanjutkan perjalanan menuju Negeri Daun." Tuan Putri Vashti menaiki kuda terlebih dahulu, lantas di susul oleh Tuan Muda Lind yang naik. "Pegangi aku. Aku tak ingin jatuh."
Perjalanan berlalu tanpa terasa, memasuki teriknya mentari yang benar-benar membuat Tuan Putri Vashti merasa lemah, seakan-akan tiada tenaga. Bahkan tanpa ia sadari ia hampir jatuh, beruntung Tuan Muda Lind sigap menangkap dengan memegangi perutnya.
"Ada apa, Tuan Putri?"
Napas Tuan Putri Vashti melemah. "Tuan, mentari ini terlalu terik. A-aku---"
Sekejap saja di bawah naungannya terasa teduh, saat sengaja Tuan Putri Vashti mendongak di lihatnya daun lebar yang menutupi. Namun ternyata tidak hanya dirinya saja, saat melihat ke arah belakang Tuan Muda Lind juga memberi Eliot tempat peneduhan.
Tuan Muda Lind tersenyum. "Ini adalah kekuatan lahiriah yang dimiliki setiap keturunan Negeri Daun."
"Wah. Sangat indah, dan bermanfaat. Kau benar-benar tidak akan kelelahan terkena mentari, bukan?" ujar Tuan Putri Vashti.
"Kekuatan ini ... memang di pergunakan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain, Tuan Putri. Apalagi, sebagai keturunan Negeri Daun yang terlahir menjadi seorang tabib dan peracik obat. Maka dengan adanya kekuatan ini, tentu akan sangat membantu seseorang dalam masa pemulihan," jelas Tuan Muda Lind.
Tuan Putri Vashti mengangguk. Energinya perlahan-lahan pulih, entah bagaimana ia tidak tahu. Apa ... daun ini bisa juga memulihkan? Jika, iya. Ini benar-benar menakjubkan. "Tuan, jika aku boleh mengetahui. Apa kekuatan di balik daun lebar ini?"
"Melindungi dan memulihkan," jawab Tuan Muda Lind.
Benar. Pantas saja, tubuhku terasa membaik daripada beberapa saat lalu, batin Tuan Putri Vashti dengan menatap lurus yang tepat saat itu, netranya menangkap daun-daun berhamburan. Aroma segar, bercampur dengan obat-obatan merasuk pada hidungnya. Negeri Daun tinggal beberapa langkah lagi, Negeri terendah yang dipaksa mematuhi Negeri-negeri lain dalam hal apa pun. Namun ternyata, Tuan Putri Vashti benar-benar tidak menyangka kekuatan turunan yang di miliki oleh orang-orang Negeri Daun sangatlah bermanfaat.
Pantas saja, orang-orang dari Negeri tertinggi tidak ingin memusnahkan Negeri Daun.
"Bukankah ... i-itu Tuan Putri Vashti Lucian?"
"Sang Tuan Putri Vashti Lucian?"
"Sayembara itu benar-benar di menangkan oleh Tuan Muda Lind?"
"Itu Putri Kerajaan Krisan?"
Segala bisik-bisik sangat terdengar jelas di telinga Tuan Putri Vashti. Namun anehnya aroma setiap rakyat Negeri Daun benar-benar seperti tumpukan kebaikan, yang tercium bahkan dalam satu meter sekali pun. Sama, aroma ini hampir sama seperti milik Tuan Muda Lind. Kebaikan yang bercampur ketulusan, kebajikan, dan keikhlasan.
Rakyat macam apa yang dimiliki oleh Negeri Daun ini? Benar-benar aroma yang jarang aku temui, batin Tuan Putri Vashti yang masih belum menampilkan senyumnya.
"Maaf atas ketidaknyamanan yang---"
Tuan Putri Vashti menyanggah, "Ketidaknyamanan apa yang kau maksud? Rakyat di Negerimu ini benar-benar membuatku terkagum."