Vashti

Vashti
Perbincangan Di Atas Ranjang.



Mendengar pertanyaan Tuan Putri Vashti--- yang sekarang telah menjadi istrinya. Entah mengapa hatinya terasa sangat sakit. Bahkan tangan yang semula menutup kedua mata kini turun tanpa ia minta, dan netra indah itu dapat di lihatnya dekat.


"Pertanyaan apa yang kau ajukan ... Vashti?"


Tuan Putri Vashti nampak terkejut. Bahkan tiba-tiba saja istrinya itu kembali pada posisi duduk semula, tidak lagi mencondongkan tubuh padanya.


"Apa dalam pandanganmu? Semua laki-laki yang memiliki gelar Pangeran, Tuan Muda dan juga Pendekar akan semena-mena itu pada setiap wanita?"


Tuan Muda Lind dapat melihat rasa bersalah sang istri, sebab tidak biasanya Tuan Putri Vashti mencengkram kuat-kuat gaun dalam yang di pakainya itu. "Vashti ... kau tidak mau menjawab suamimu?"


"A-apa?" Tuan Putri Vashti terbata-bata. "Salah aku menanyakan hal itu padamu? Bukankah tidur bersama gadis dan pelayan adalah hal wajar ... yang dilakukan oleh pria-pria bergelar sepertimu dan lainnya?"


"Jika bagimu wajar. Bagiku sama sekali tidak," tegas Tuan Muda Lind.


Tuan Putri Vashti membuang muka. Istrinya itu nampak enggan untuk saling memandang. Bahkan dalam penerangan yang minim, sang istri ini masih nampak begitu jelita. Belum lagi pakaian satu lapis itu, membuat ia beberapa kali menelan ludah.


"Jika bagimu wajar ... bukankah kau pasti tahu? Apa yang akan selanjutnya di lakukan oleh setiap laki-laki bergelar saat malam pertama pernikahan?" ujar Tuan Muda Lind.


Tuan Muda Lin dapat melihat dan mendengar Tuan Putri Vashti terbatuk-batuk. Apa istrinya itu gugup? Takut, juga? Lantas salah siapa? Istrinya terlebih dahulu yang menyamaratakan semua pria. Jika ia menantang tentu tidak salah, bukan? Lagi pula, sekarang ia adalah suami dari Tuan Putri Vashti.


"Masih ada malam-malam berikutnya," jawab Tuan Putri Vashti yang tiba-tiba menarik selimut. "Jangan terlalu terburu-buru, Lind. Aku tidak akan pernah pergi, lagi pula sekarang aku istrimu, kan?"


Tuan Muda Lind hanya mengukir senyum tipis.



Entah mengapa jantung Tuan Putri Vashti berdebar-debar tiada henti seperti biasa. Jika sebab Tuan Muda Lind membahas malam pertama, haruskah ia seperti ini? Padahal saja tidak terjadi apa-apa, hanyalah pembahasan.


Namun lagaknya seakan-akan telah di sentuh saja oleh suaminya ini. Astaga. Ranjang di belakang tiba-tiba bergerak, apa suaminya itu akan tidur menggunakan selimut yang sama dengannya?


"Kau tidak ingin berbagai selimut?"


Deg.


"Dan membiarkan suamimu ini menggigil?" imbuh Tuan Muda Lind.


Astaga. Aku baru mengingat sesuatu, batin Tuan Putri Vashti yang perlahan merubah posisi tidur menghadap Tuan Muda Lind--- yang ternyata juga tidur membelakanginya.


"Tu-tuan Muda Lind."


Lima detik berlalu akhirnya Tuan Muda Lind menjawab, "Ada apa dengan panggilanmu? Bukankah kau sudah sepakat bahwa lebih baik kita memanggil nama satu sama lainnya?"


Tuan Muda Lind terlihat bergerak, lantas dengan cepat tiba-tiba saja posisinya dan Tuan Muda Lind berhadap-hadapan.


"Aku sepakat bila itu kita lakukan berdua saat tidak ada orang lain." Tuan Putri Vashti menjeda. "Jika ada ... tentu saja kau harus memanggilku dengan sesuatu yang lebih baik dari nama."


"Apa itu?"


Tuan Putri Vashti terdiam. Ia juga sedang berpikir.


"Istriku?" imbuh Tuan Muda Lind yang sontak saja membuat kedua pipi Tuan Putri Vashti memerah.


"Lu-mayan. Ya itu saja juga bagus," jawab Tuan Putri Vashti dengan merubah posisi tidur menjadi terlentang. "Jika begitu ... aku akan memanggilmu ... suamiku?"



"Ya. Jika kau sendiri tidak keberatan atas hal itu."


Sebab bagi Tuan Muda Lind semua tergantung pada keinginan sang Tuan Putri. Meskipun yang dikatakan Cuini benar, bahwa ia adalah pemimpin. Namun tetap saja pendapat sang istri adalah yang utama.


Semua dilakukannya demi kenyamanan Tuan Putri Vashti. Dan mengenai malam pertama ... sesungguhnya ia tidak terlalu berminat melakukan dalam waktu dekat ini. Sebab ia tahu belum ada pendekatan antara dirinya dan Tuan Putri Vashti. Jika ada pun itu hanya menyentuh tangan, tidak lebih seperti halnya pelukan hangat.


"Vashti."


"Ya?"


"Mengenai tempat tinggal. Kau ingin berada di mana? Maksudku Negeri Bunga ataukah Negeri Daun?" tanya Tuan Muda Lind yang membuat Tuan Putri Vashti terdiam.