
Negeri Bunga.
Keindahan alam ini benar-benar membuat seluruh Negeri terpikat. Cuini berpikir alangkah baiknya jika ia terlahir sebagai rakyat Negeri Bunga. Mungkin orang-orang tidak akan menganggap dirinya rendah. Seperti Pendekar Moshe itu, yang berani menghina terang-terangan. Kakaknya, Tuan Muda Lind pun tidak akan pernah di anggap sebagai lelaki lemah.
Bahkan di sini bunga-bunga bermekaran tanpa memiliki akar. Hebat! Cuini benar-benar takjub.
"Kau akan tinggal sementara waktu di kediaman krisan kuning," ucap Tuan Putri Vashti tiba-tiba.
Cuini hanya mengangguk.
Kereta kuda berhenti tepat di pelataran kediaman krisan kuning. Wangi-wangian ini benar-benar semerbak, Cuini bingung. Apa bunga krisan memiliki aroma? Ah sepertinya tidak, ini bukan aroma krisan lebih kepada melati. Karena yang di dengar oleh Cuini, Yang Mulia Ratu Hanasta Lucian adalah Putri Mahkota dari Kerajaan Melati.
"Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian."
Tatapan Tuan Putri Vashti langsung beralih pada suara itu. "Nura ... lama sekali tidak berjumpa."
"Maafkan hamba, Tuan Putri." Nura duduk bersimpuh, di tanah. "Hamba hanyalah seorang pelayan yang tidak memiliki hak untuk melanggar perintah Yang Mulia Raja."
"Berdiri," titah Tuan Putri Vashti. "Siapkan dua bilik kamar untuk Nona Muda Cuini dan Tuan Muda Lind."
"Baik, Tuan Putri. Hamba undur diri."
"Segala kemuliaan untuk Yang Mulai Raja Vasant Lucian." Tuan Putri Vashti sedikit menunduk untuk memberi hormat padanya. "Saya Vashti, Ayahanda. Jika berkenan apa saya diperbolehkan berbicara dengan, Ayahanda?"
Dari bayangannya lilin redup itu. Tuan Putri Vashti dapat melihat ada dua orang di sana. Mungkin Ayahanda sedang bersama Ibu tirinya. Jelas saja, bukan? Kedua penguasa itu setiap malam menghabiskan waktu bersama. Tuan Putri Vashti hanya bisa berharap semoga saja tiada bayi yang akan lahir lagi, di saat usianya telah siap menikah.
"Esok saja. Jangan mengganggu malam ini."
Tuan Putri Vashti mematung sejenak. Ia memundurkan langkahnya. Mengganggu yang bagaimana? Apa aku semengganggu itu, Ayahanda? Ashana saja kau megah-megah atas pertunangan dia. Sedangkan aku telah kau paksa pulang tanpa penyambutan apa-apa, batinnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Dada ini sesak. Tetapi Tuan Putri Vashti selalu mencoba baik-baik saja. Di dalam pikiran pun ia selalu menanamkan bahwa Ayahanda selalu mencintainya, tidak hanya mencintai Ashana aja. Bahkan jika mungkin, ia berharap Ayahanda bisa memberi cinta yang lebih besar dari cinta yang di berikan pada Yang Mulai Ratu Hanasta.
"Ahh, Yang Mulia ..."
Bibir Tuan Putri Vashti tertutup rapat. Tangannya cengkeraman kuat gaun merah gelap yang ia kenakan. Betapa menjijikkan semua ini, ia di larang mengganggu sebab Ayahandanya sibuk bercinta?
"Ya ... di sana ... di sana Yang Mulia ... ahh."
Percuma. Semua percuma, batin Tuan Putri Vashti dengan berbalik arah. Ia berlari menuju kediaman krisan kuning lagi. Harapan ia nanti bila sampai, semoga Nona Muda Cuini dan Tuan Muda Lind telah memasuki bilik kamar. Supaya orang-orang baik dari Negeri Daun itu tidak melihat penderitaan yang ia tangisi.
Dugh!
"Akh." Tuan Putri Vashti mengeluh. Ia terjatuh di tanah karena tanpa sadar kakinya terkena batu. Dan sewaktu ia memandang tangan kiri, terdapat luka dengan darah di sana. "Bodoh. Ceroboh. Bagaimana bisa aku sampai jatuh?"
"Sstttt. Ini sakit," keluhnya lagi.
Jujur saja ia bingung ingin meminta bantuan kepada siapa. Sebab malam semakin larut. Eliot pun sudah ia pastikan sedang beristirahat. Dan jika ia berteriak, jelas akan mengganggu orang-orang.
"Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian!"
Seseorang dari arah belakang membuka suara. Tuan Putri Vashti tidak tahu itu siapa. Tetapi yang ia yakini bahwa orang tersebut adalah laki-laki.
"Tidak." Tuan Putri Vashti menyanggah. "Ke mari."
Penjaga itu menurut.
"Kau memiliki pedang?"
"Hamba memiliki, Tuan Putri."
Tuan Putri Vashti mengulurkan tangannya. "Bantu aku dengan menggunakan perantara pedang."
"Ta-tapi Tuan Putri---"
"Ini perintah!"
Penjaga itu tidak bisa menolak. Ia segera menjulurkan pedang yang tertutup. Kemudian ia melakukan sesuai permintaan Tuan Putri Vashti, untuk membawanya sampai ke kediaman krisan kuning.
"Astaga, Tuan Putri!"
Nura berlari menghampiri Tuannya. "Ba-bagaimana anda ... bisa terluka?"
"Jangan banyak berbicara. Obati lukaku," titah Tuan Putri Vashti.
[.]
Note:
Jadi gini ... saya iseng buat peta. Karena ya gimana ya. Cerita Fantasi gini butuh peta supaya kelihatan jelas pembagian wilayahnya.
Jadi urutannya gini:
Negeri Tanah.
Negeri Langit.
Negeri Bunga.
Negeri Ranting.
Negeri Daun.
Isi-isi di dalamnya kapan-kapan saya buat. Tetapi tatanan bentuk dan luas wilayah ini menjadi tetap. Warna-warna garisnya juga menggambarkan isi Negeri. Contoh kecilnya Negeri Bunga memiliki warna merah muda karena memang di sana banyak bunga-bunga, dan garis pemisahnya kayak semacam perbatasan (pelindung) yang mereka buat itu warnanya pink.
Sekian dulu. Nanti keterangan Negeri Daun, Negeri Bunga dan Negeri Tanah, saya jelaskan di episode berikutnya. Karena fokus saya di cerita Vashti ini adalah ke-3 Negeri itu.