Vashti

Vashti
Pernikahan Atas Dasar Sayembara Adalah Kebodohan.




Siapa yang peduli atas lukanya ini? Jika bukan para pelayan dan orang-orang yang tinggal di kediaman krisan kuning saja. Aroma kekhawatiran Nura lebih menyengat, dan Tuan Putri Vashti hanya bisa memejamkan mata dengan meringis kesakitan.


"Bagaimana bisa anda mendapat luka ini, Tuan Putri?" tanya Nura.


Tuan Putri Vashti memilih diam tanpa berniat menjawab. Pikirannya masih berada di kediaman utama sang Ayahanda. Mengapa Ibunda dari Ashana harus memiliki kehidupan yang tidak Ibundanya miliki? Memuakkan. Bahkan kehidupan Ashana terlihat dan terdengar lebih baik darinya. Sungguh Tuan Putri Vashti tidak cemburu jika Ashana menikah dengan seorang pangeran. Sebab menurutnya, Tuan Muda Lind adalah lelaki yang tepat, yang tidak akan memusingkan pekara tahta kerajaan. Hingga Tuan Putri Vashti bisa hidup dengan damai di Negeri Bunga ataupun di Negeri Daun--- rumah calon suaminya.


"Nura ..."


"Hamba, Tuan Putri."


Mata Tuan Putri Vashti terbuka perlahan, ia menatap Nura dengan mata lelah. "Setelah menikah dengan Tuan Muda Lind. Mungkin kau tidak akan menjadi pelayanku lagi."


"Jadi pergi lah, atau jika kau tetap ingin berkerja di sini. Carilah Tuan yang bisa menghargaimu melebihi aku Nura," sambung Tuan Putri Vashti.


"Ampun, Tuan Putri. Hamba hanya bersedia menjadi pelayan setia anda. Dan jika Tuan Putri Vashti telah menikah dengan Tuan Muda Lind, tolong tetap izinkanlah hamba mengikuti kemanapun Tuan Putri pergi," jawab Nura dengan duduk bersimpuh dan menunduk.


Tuan Putri Vashti hanya tersenyum getir dan melepas selendang putihnya. Ia menengadah menatap bintang-bintang di Negeri Langit--- yang sebenarnya adalah cahaya yang di hasilkan oleh rakyat Negeri Langit sendiri.


"Kau adalah pelayan Kerajaan Krisan, darahmu pun murni milik rakyat Negeri Bunga." Tuan Putri Vashti menatap Nura sejenak. "Dan jika kau memilih mengikutiku. Kau akan kehilangan segalanya Nura. Mungkin keluargamu, dan juga mungkin kekasihmu."


Nura semakin menunduk dalam. Netranya kali ini benar-benar telah berlinang air mata. "Hamba ... akan menikah. Setelah memastikan bahwa Tuan Putri Vashti hidup bahagia dengan Tuan Muda Lind."


"Ucapan macam apa yang keluar dari bibirmu itu, Nura?" Tuan Putri Vashti menatap Nura lagi. "Kau berbicara seolah-olah Tuan Muda Lind tidak akan pernah membahagiakanku."


"Ampun Tuan Putri. Hamba tidak bermaksud seperti itu," sesal Nura.


Tuan Putri Vashti menyandarkan punggung pada bantal-bantal yang tersusun di kursi luasnya. "Lalu maksudmu?"


"Ha-hamba ... hanya tidak ingin Tuan Putri Vashti bersedih. Hamba tidak ingin Tuan Putri Vashti merasa kesepian lagi." Nura menjeda, Tuan Putri Vashti dapat melihat jelas pelayan itu mencengkeram erat gaun putih bermotif bunga kuning kuat-kuat. "Ibunda hamba berkata, bahwa kebahagiaan Tuan kami adalah segalanya. Bagaimana bisa saya memutuskan untuk pergi atau mungkin menikah? Di saat hamba sendiri tahu bahwa kebahagiaan ini bukanlah kebahagiaan yang Tuan Putri Vashti inginkan. Hamba tahu ... menikah dengan Tuan Muda Lind bukanlah keinginan Tuan Putri."


"Tetapi itu adalah ... ampuni hamba Tuan Putri. Sebab hamba tahu bahwa itu adalah keinginan Yang Mulia Raja Vasant," sambung Nura.


"Lalu apa masalahmu dengan keinginan Ayahandaku, Nura?" Tuan Putri Vashti memejamkan matanya lagi. "Tugas seorang Putri adalah menikahi pilihan Ayahandanya. Sedangkan, tugas seorang Tuan Putri adalah menyetujui keinginan Yang Mulia Raja untuk keberlangsungan kerajaan."


Nura terdiam sejenak.


"Tuan Putri Vashti baru saja berkata, bahwa hamba harus menikahi pria yang hamba cintai. Lalu bagaimana dengan anda, Tuan Putri?" Nura memberanikan diri menatap. "Pernikahan atas dasar sayembara adalah ... kebodohan."


[.]