Vashti

Vashti
Perjalanan Menuju Capillus Bertemu Dengan Pendekar Moshe



Kedua pipi Nona Muda Cuini memerah. Sedangkan Tuan Muda Lind spontanitas terbatuk-batuk mendengar apa yang di ucapkan oleh sang Tuan Putri. Ia memang setuju untuk menikah, namun haruskah secepat ini Tuan Putri berbicara pada Adiknya? Yang ia maksud, setidaknya Nona Muda Cuini jangan lah tahu terlebih dahulu, sebelum Ayahandanya mengetahui kabar ini.


"Baiklah. Apa ... aku boleh ke kediamanmu, Cuini?" ujar Tuan Putri Vashti.


Netra Nona Muda Cuini melebar, ia mengangguk-angguk. "Tentu saja boleh, Tuan Putri. Di kediaman Capillus ada begitu banyak hal-hal indah. Walau meskipun tidak seindah kediaman Tuan Putri setidak---"


"Jangan berkata seperti itu, Cuini." Tuan Putri Vashti bangkit, menghampiri Nona Muda Cuini. "Ajaklah aku terlebih dahulu ke kediamanmu, barulah kau bisa memintaku menilai seindah apa tempat itu."


Tangan Tuan Putri Vashti di sambut oleh Nona Muda Cuini, dengan perlahan berjalan menyurusi tempat kediaman Adiantum yang memang sangat banyak orang lalu-lalang dari Negeri-negeri lainnya. Beberapa Pendekar, Pangeran dan Tuan Muda. Ia tidak mengetahui bahwa Negeri Daun di jadikan tempat pertemuan. Namun tidak ada salahnya, sebab Negeri Daun berada di pertengahan segala Negeri, pastinya sangat memudahkan urusan orang-orang untuk melakukan apa pun.


Belum lagi, mungkin beberapa orang-orang itu terjangkit penyakit, atau semacamnya? Sehingga bantuan dari tabib dan peracik obat di Negeri Daun sangat di butuhkan.


Aroma tanah dan kemarahan, batin Tuan Putri Vashti.


Detik berikutnya krisan kuning melingkari tubuh Tuan Putri Vashti dan Nona Muda Cuini yang terkejut tanpa sadar berteriak, lantas menutup mulut. Dari arah depan pun, mendekatlah Pendekar Moshe dari Negeri Tanah, yang langsung tertunduk pada sang Tuan Putri.


"Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian."


Krisan kuning sekejap saja hilang, menyisakan kelopak-kelopak yang berjatuhan tepat di bawah kaki Tuan Putri Vashti dan Nona Muda Cuini.


"Kau! Kau mengenal Tuan Putri Vashti?" ujar Nona Muda Cuini yang hanya di anggap angin lalu.


Pendekar Moshe menatap lurus pada sang Tuan Putri. "Hamba Moshe. Menyambut anak dari Bibi Floella."


"Moshe?" Tuan Putri Vashti mengingat-ingat nama itu, yang seakan tak asing di telinganya. "Kau ... siapa? Dan mengapa memanggil Ibundaku dengan sebutan Bibi?"


"Moshe Grantham saudara anda, dari pihak Bibi Floella di Negeri Tanah."


Sepertinya, Ibunda tahu bahwa orang-orang Negeri Tanah tidak begitu menyukaiku. Sehingga krisan kuning itu melingkari tubuhku, batin Tuan Putri Vashti dengan masih memandangi Pendekar Moshe. "Salam hormat untukmu Tuan Pendekar Moshe Grantham. Jika memang kita satu turunan, tidak perlu menggunakan kata hamba dan tidak perlu penyambutan formal seperti tadi."


Satu turunan? batin Nona Muda Cuini yang masih memandangi Pendekar Moshe. Pria itu tampan, berkulit hitam, tetapi matanya bersinar rambutnya pun berwarna putih sedikit ke-emasan. Sejujurnya jika mengatakan satu turun dengan Tuan Putri Vashti, Nona Muda Cuini tidak akan percaya. Sebab terlalu jauh paras pria ini, walau pun memang ia akui tampan.


"Sebagaimana pun juga. Anda tetap seorang bangsawan. Tentu saja kehormatan selalu anda dapatkan di mana pun anda berada, Tuan Putri Vashti," ucap Pendekar Moshe.


Tangan Nona Muda Cuini terangkat. "Hei, Tuan Pendekar! Mulutmu---"


"Wanita dari Negeri Terendah tidak pantas berbicara denganku," sanggah Pendekar Moshe yang sekejap membuat nyali Nona Muda Cuini menciut. Kemudian pandangannya beralih menatap pada sang Tuan Putri lagi. "Tuan Putri Vashti Lucian, jika ada berkenan berkunjunglah ke Negeri Tanah. Setidaknya lihatlah Kakek buyut kita. Sepertinya dia menyesal menelantarkan cicit perempuan satu-satunya di Negeri Bunga itu."


Tuan Putri Vashti memandang Pendekar Moshe tanpa ekspresi. "Jika kau tidak keberatan. Mintalah izin kepada Yang Mulia Raja Vasant untuk membawaku berkunjung ke Negeri Tanah. Lagi pula Pendekar Moshe ... akses memasuki Negerimu tidak semudah kelihatannya."


"Jadi jika aku berniat mengunjungi Kakek buyutku. Apakah itu termasuk kepentingan yang wajar? Sehingga para penjaga perbatasan akan mengizinkanku?" lanjut Tuan Putri Vashti.


Pendekar Moshe tertunduk. "Baiklah, Tuan Putri. Sebagai saudara baikmu. Hamba akan meminta izin kepada Yang Mulia Raja Vasant."


Setelah mendengar itu, Tuan Putri Vashti menarik tangan Nona Muda Cuini supaya berjalan meninggalkan Pendekar Moshe terlebih dahulu.


"Jangan pernah kau ambil hati ucapan Pendekar itu," ucap Tuan Putri Vashti.


Nona Muda Cuini tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak bisa, Tuan Putri. Sebab yang di ucap oleh Tuan Pendekar itu adalah benar. Aku tidak pantas berbicara dengan orang-orang dari Negeri Tertinggi."


Tuan Putri Vashti spontan menghentikan langkahnya, ia menatapi Nona Muda Cuini. "Cuini, jika seluruh Alam Tanaman mengatakan bahwa kau tidak pantas hidup. Kau juga tidak ingin hidup?"


Nona Muda Cuini terdiam.


"Jika dalam kehidupan ini kau hanya menggunakan telingamu untuk mendengar kata hinaan saja. Maka lebih baik kau tuli. Sebab masih begitu banyak orang-orang yang memujimu, bahkan membicarakan kebaikanmu yang dengan sengaja tidak kau ingat." Tuan Putri Vashti pasti menatap ke arah lain, dan mulai berjalan lagi. "Telingamu itu, hanya mengingat tentang hinaan saja. Harusnya, ucapan-ucapan baik tidak secepat itu hilang dari pendengaranmu."


"Ma-maafkah aku, Tuan Putri."