
Tak terasa, telah memasuki malam terakhir untuk menuju pada Purnama ke -11. Segala persiapan Tuan Putri Vashti dan Tuan Muda Lind telah selesai. Dirinya, Nura sebagai pelayan setia Tuan Putri Vashti akan selalu memastikan bahwa pernikahan ini akan berjalan dengan lancar.
Kelak pun jika Tuan Putri Vashti telah menjadi istri dari Tuan Muda Lind. Harapannya hanya satu, semoga Tuan Putri Vashti bahagia. Jika memungkinkan juga, Nura berharap tiada perceraian.
Sebab bagi Nura semua rasa sakit Tuan Putri sudah cukup, ia tidak ingin rasa sakit itu bertambah. Jika berkurang, Nura akan sangat bersyukur. Ibundanya pun juga bilang, bahwa pernikahan bukan layaknya permainan, bukan juga layaknya perlombaan ataupun hadiah semata-mata atas kemenangan. Pernikahan bagi Ibunda Nura adalah hal yang sakral. Dan Nura pun setuju mengenai itu.
Dahulu Ibunda Nura juga dijodohkan, dan tiada cinta di dalam sana. Namun semenjak Nura lahir Ibundanya bilang bahwa Ayahanda Nura memiliki cinta untuk Ibundanya dan keluarga.
Ah, betapa bahagianya.
Nura sungguh ingin kehidupan bahagianya juga dimiliki oleh Tuan Putri dan keluarga kecil beliau kelak. Kendatipun ia masih merasa ragu dengan Tuan Muda Lind, ia akan ... membangun kepercayaan, bahwa pria yang akan menikahi Tuan Putri adalah pria yang baik.
"Nura, apa baju ini ... dari Tuan Muda Lind?"
Nura mengangguk pelan. "Iya, Tuan Putri."
"Tuan Muda Lind tahu bahwa Tuan Putri begitu menyukai baju berwarna merah gelap. Hingga Tuan Muda Lind meminta pada penjahit untuk mempersiapkan baju pengantin seindah ini untuk anda," imbuh Nura dengan jelas.
Mata itu membinar. Nura tahu Tuan Putri Vashti pasti bahagia. Dan nampaknya Nura mulai setuju bahwa Tuan Muda Lind adalah pria yang baik.
Bukti mengatakan lelaki itu rela mempersiapkan semua hal yang disukai oleh Tuan Putri. Bukankah ini ... semacam kebaikan yang menjadi awal terbukanya pintu hati di antara mereka?
"Bunganya indah, ya?"
Tentu saja, Cuini. Bunga ini dari Tuan Putri Vashti. Bahkan kata Nura, Tuan Putri sendiri yang merangkainya untukku, batin Tuan Muda Lind.
"Apa seorang gadis yang juga menikahi lelaki dari Negeri Bunga, akan mendapatkan rangkai bunga indah seperti ini juga, Kakak?" imbuh Cuini dengan bertanya.
"Mungkin saja." Tuan Muda Lind mengangkat tangannya. Lantas dengan tiba-tiba ia menyentuh surai panjang sang Adik. "Cuini, dengarkan Kakak."
"Apa?"
"Nanti setelah Kakak menikah. Mungkin tanggung jawabmu di kediaman Capillus akan bertambah." Tuan Muda Lind melihat adiknya mengangguk. "Tolong dewasalah sedikit. Jaga tata kramamu di sana. Karena setelah Kakak menikah, Kakak tidak bisa berjanji selalu ada di sampingmu."
Cuini hanya mengangguk-angguk.
Dasar! Sang adik ini, jika diberikan nasihat hanya bisa seperti itu, tidak menjawab atau apa. Hanya mengangguk saja. Padahal sesungguhnya Tuan Muda Lind sangat mengkhawatirkan Cuini.
Belum lagi ia masih tidak tahu maksud dari pernikahan ini terjadi. Ayahanda Legolas bilang, nasib Negeri Daun berada di dalam genggamannya. Jika ia dan Tuan Putri Vashti berpisah, Negeri Daun akan merana.
"Kak."
"Ya, Cu?"
Cuini memandang polos. "Setelah menikah. Kakak berencana memiliki anak?"
"Hah?" Kening Tuan Muda Lind mengerut. Lantas kemudian ia menggeleng tanpa berpikir apa-apa.
"Astaga! Kakak tidak mau jadi Ayah, ya?!"
Tuan Muda Lind tersadar. "K-kau ini! Bukan seperti itu maksud Kakak. Pertanyaanmu ini benar-benar tidak pantas untuk dipertanyakan."
"Kenapa memang?"
"Berapa kali kakak katakan Cuini? Semua terserah pada Tuan Putri, karena dia adalah istri Kakak."
Cuini menatap heran. Lantas berujar kembali, "Jika semua terserah pada Tuan Putri. Lalu tugas Kakak itu apa? Bukankah seorang suami itu pemimpin? Jadi menurutku ... segala keputusan adalah hak yang Kakak buat."
Cuini ... benar, batin Tuan Muda Lind tanpa membalas apa-apa perkataan Adiknya.
[.]
Capillus : Kediaman Cuini.