Vashti

Vashti
Alasan Menikahi Tuan Muda Lind Dan Meminta Belas Kasih Pada Yang Mulia Raja.



Tuan Muda Lind tahu bahwa Tuan Putri Vashti akan sulit sekali menjawab pertanyaan Ayahandanya, yang terang-terangan seperti ini. Sehingga ia langsung menyanggah, "Ayahanda tidak perlu mempertanyakan sesuatu hal itu, pada Tuan Putri."


Legolas menaikkan alis kirinya. "Mengapa, Lind? Apa Tuan Putri Vashti keberatan untuk menjawab?"


"Tidak, Ayah Mertua! Saya sama sekali tidak keberatan untuk menjawab," sahut Tuan Putri Vashti.


Astaga, Ayahanda ini benar-benar menyebalkan. Entahlah apa yang dipikirkan oleh beliau, hingga mempertanyakan pekara ini. Krisan putih adalah mahar--- atau lebih tepatnya suatu hal yang dijadikan hadiah atas kemenangan sayembara. Jikalau bukan sebab krisan putih, Tuan Muda Lind yakin, ia mungkin tidak akan di terima sebagai menantu Yang Mulia Raja Vasant. Bahkan Tuan Putri Vashti pun tidak sudi menemui lelaki dari Negeri terendah.


"Lind adalah pria yang baik." Tuan Putri Vashti menjeda. Pandangan gadis itu lurus pada Legolas. "Alasan itu mungkin terlalu sering Ayah Mertua dengar. Tetapi jujur saja Ayah Mertua, terlepas dari rasa terimakasih saya atas berhasilnya Lind membawa krisan putih ... saya juga merasa bahwa Lind adalah seorang pelindung."


"Maksud saya ... hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membawa krisan putih dari dataran tinggi sampai ke Negeri Bunga. Karena seperti yang Ayah Mertua tahu, krisan putih akan mati jika tidak terlindungi dari teriknya mentari," lanjut Tuan Putri Vashti.


Tuan Muda Lind menatap takjub.


"Keturunan kerajaan dan beberapa rakyat dari Negeri Bunga memang memiliki sihir penjaga atau yang lebih sering di sebut garda dengan tingkat yang berbeda-beda. Tetapi krisan putih tidak bisa hidup jika sekedar di jaga saja, krisan putih juga butuh perlindungan seperti sihir samana. Sihir lahiriah yang hanya di miliki oleh rakyat Negeri Daun, karena sudah terbukti Ayah Mertua. Pangeran dari Kerajaan Melati yang memiliki garda tingkat pertama pun gagal melindungi krisan putih sampai ke Negeri Bunga," jelas Tuan Putri Vashti.


Legolas mengangguk dan menarik senyum tipis. "Jadi Tuan Putri merasa bahwa Lind akan selalu melindungi anda?"


"Ya, tentu saja, Ayah Mertua." Pandangan Tuan Putri Vashti beralih pada Tuan Muda Lind hingga membuat lelaki itu berpaling menahan rona pipinya. "Lind, sudah pernah melindungi saya. Dia mengeluarkan sihir samana dalam perjalanan saya saat berkunjung ke Negeri Daun."


"Oh, ya?" Legolas melirik. "Betapa romantisnya putraku ini."


Tuan Muda Lind tiba-tiba menyahut, "Sudahlah, Ayahanda. Mari membahas sesuatu yang serius, jangan menggodaku atau semacamnya."


"Baik-baiklah, Lind."



Kediaman Utama milik Yang Mulia Raja Vasant terlihat sepi di beberapa bagian ruangan. Mungkin di depan saja ada beberapa penjaga, sebab sekarang sudah terbenamnya mentari. Bahkan Tuan Putri Ashana--- sang adik tidak terlihat juga, mungkin dia sedang menikmati malam pertama. Tuan Putri Vashti sejujurnya tidak peduli, ia menuju ke kediaman ini hanya untuk meminta belas kasih Ayahanda. Supaya bersedia menyambut Tabib Senior II Legolas, untuk sekadar saja membicarakan pernikahan yang Ayahandanya sendiri telah mulai.


"Segala kemuliaan untuk Yang Mulia Raja Vasant Lucian." Tuan Putri Vashti menjeda, ia menatap lurus dan datar pada pintu tertutup itu. "Tuan Putri Vashti datang menghadap. Untuk membicarakan suatu kepentingan sayembara."


Pintu terbuka tanpa ucapan apa-apa. Sebab sengaja Tuan Putri Vashti menekan gelarnya dan juga menekan kata sayembara. Supaya tiada lagi alasan sang Ayahanda menolak pertemuan sejenak, yang tidak akan memakan waktu banyak.


"Masuklah, Tuan Putri," ucap suara di dalam sana--- yang di dengarnya seperti suara dari Yang Mulia Ratu Hanasta--- sang Ibu tiri.


Langkah kaki kecilnya memasuki kamar pribadi Ayahanda perlahan-lahan. Kemudian mengambil duduk pada bantalan yang tersedia, dan langsung menghadap dengan sedikit menunduk.


"Bicara," ujar Yang Mulia Raja Vasant.


Tuan Putri Vashti tidak membalas tatapan. Ia menunduk dengan menatap alas kain kediaman ini. "Ayahanda, tolong temui Tabib Senior II Legolas di kediaman krisan kuning. Beliau adalah orangtua dari Tuan Muda Lind, beliau berkenan bertemu dengan Ayahanda untuk membicarakan tentang pernikahan---"


"Pernikahanmu?" sahut Yang Mulia Raja Vasant.


"Iya, Ayahanda."


Yang Mulia Raja Vasant terdengar mengeluh, dan membuat napas berat. "Kau tahu, Vashti. Ayahandamu ini sangat sibuk mengurusi kerajaan dan lain-lain hal. Jika memang ini tentang pernikahan, minta lah saja pada calon mertuamu itu, baiknya pada purnama ke berapa pernikahan itu akan di gelar?"


"Atau jika kau merasa tidak enak hati. Ayahanda akan meminta Eliot untuk menemui Tabib itu, sebagai tanda penghormatan," lanjut Yang Mulia Raja Vasant.


Eliot, Eliot dan Eliot. Ayahanda seperti tidak berniat bahagia atas pernikahanku ini, kan? Aroma Ayahanda pun saat berucap terasa hambar tanpa rasa bahagia dan senang. Sebenarnya di mana anda meletakkan aku sebagai putri, Ayahanda? Mengapa hanya untuk ... menemui Ayah Mertua saja Ayahanda tidak bisa, alasan kesibukan pun bisa di tunda. Tetapi Ayahanda tidak pernah menunda satu pekerjaan pun demi kebahagiaanku, batin Tuan Putri Vashti dengan mata yang berkaca-kaca, dada miliknya sakit, seperti belati yang menusuk tepat di sana. Bahkan, Ibunda dari Ashana tiba-tiba saja mengeluarkan aroma kesenangan dan kebencian. Hingga membuat Tuan Putri Vashti berpikir, wanita macam apa yang menjadi pengganti Ibunda?


Wanita itu penuh kebencian.


"Baiklah, Ayahanda. Terimakasih sudah bersedia mengutus Eliot," akhir Tuan Putri Vashti tanpa berpamitan apa-apa.


Kenapa bisa Ibunda menikahi pria seperti Yang Mulia Raja? batin Tuan Putri Vashti yang mulai sadar bahwa yang di ucap Nura adalah benar.