
"Lind, bagaimana hubunganmu dengan Tuan Putri Vashti?"
Tuan Muda Lind menatap Ayahandanya sejenak. Lalu menatap Cuini. "Mari membicarakan tentang Tuan Putri tanpa adanya Cuini, Ayahanda."
"Kakak!" Cuini memanyunkan bibir. "Kenapa seperti ini? Aku tidak boleh tahu sesuatu hal?"
"Seorang gadis kecil tidak boleh mencampuri urusan pernikahan, Cuini," ujar Tuan Muda Lind.
Pernikahan megah antara Pangeran Saguna dan Tuan Putri Ashana telah berakhir. Sungguh betapa lega hati Tuan Putri Vashti. Bagi dirinya berada dalam satu ruangan dengan petinggi Negeri Bunga adalah hal memuakkan, sebagain aroma memiliki kesekerakan, bi*rahi kepada gadis-gadis muda dan belum lagi aroma bahagia yang sebenarnya Tuan Putri Vashti pun tidak apa-apa jika itu di miliki oleh Ashana.
Lagi pula ini memang pernikahan Sang Adik. Perempuan mana yang tidak berbahagia atas pernikahannya sendiri? Belum lagi tatapan Ashana tidak bisa berbohong bahwa Sang Adik benar-benar telah meletakkan hati pada Pangeran Kerajaan Matahari itu. Cinta adalah anugerah terindah. Dan keberuntungan sepertinya sangat memihak pada Ashana. Haruskah ia membenci? Meskipun ia berbicara tegas, memiliki tatap tajam untuk Ashana. Sungguh tidak di pungkiri itu hanya suatu perlindungan diri saja. Ia tidak ingin terlihat lemah dan tidak ingin terlihat iri atas kebahagiaan Sang Adik.
Menyedihkan, batin Tuan Putri Vashti.
Lima detik dari Tuan Putri Vashti menilai bahwa kehidupan dirinya menyedihkan, seseorang terdengar mengetuk pintu kediamannya beberapa kali. Jujur saja ia malas untuk menyambut tamu, karena suasana hati sedang tidak baik. Tetapi di dengarnya tadi pagi Cuini berbicara bahwa sang mertua--- Ayahanda dari Tuan Muda Lind dan Cuini akan datang. Jika memang beliau datang, Tuan Putri Vashti akan menyambut dengan ramah.
"Tuan Putri, anda memiliki tamu." Pelayan di luar itu menjeda. "Tuan Muda Lind dan Tabib Senior II Legolas."
"Tabib Senior II Legolas?" gumam Tuan Putri Vashti dengan bertanya. Beberapa detik kemudian ia baru tersadar, gelar orang itu Tabib Senior II bukankah berarti ... Ayahanda Tuan Muda Lind?!
"Persilakan masuk!" teriak Tuan Putri Vashti yang tergesa-gesa berdiri untuk menyambut Sang Mertua. "Salam hormat, Ayah Mertua. Saya Vashti. Mohon maafkan atas keterlambatan saya dalam menyambut anda."
Tuan Muda Lind benar-benar terkejut. Matanya melebar menatap pada Tuan Putri Vashti yang menunduk dalam dengan tangan yang menakup memberi salam kepada Ayahanda. Tetapi menggunakan kata 'Ayah Mertua'.
"Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian." Ayahanda tersenyum. "Anda tidak perlu berlebihan seperti itu."
"Ayah Mertua yang tidak perlu berlebihan." Tuan Putri Vashti mendongak. "Silakan duduk, Ayah Mertua dan ... Lind."
Mendengar Tuan Putri memanggil namanya tanpa gelar sungguh membuat hati Tuan Muda Lind berdesir. Semua ini hanya kepura-puraan saja, bukan? Jika tidak di hadapan Ayahanda Tuan Putri pasti akan memanggilnya dengan Tuan Muda lagi.
"Ayah Mertua menyukai apa?" tanya Tuan Putri Vashti. "Di Negeri Bunga juga ada teh hijau seperti di Negeri Daun. Teh itu di beri nama teh melati buatan dari Tabib Kerajaan Melati. Rasanya cukup enak, dan juga menyehatkan. Ayah mertua ingin mencoba?"
Dia banyak bicara sekali saat bersama Ayahanda. Ada apa dengan Tuan Putri? batin Tuan Muda Lind.
Ayahanda meliriknya. "Kau juga ingin mencoba, Lind?"
"A-ah iya. Jelas, aku juga ingin mencoba," jawab Tuan Muda Lind.
Tuan Putri Vashti terlihat mengembang senyuman--- yang membuat Tuan Muda Lind semakin terheran-heran, astaga gadis ini menjadi ramah sekali saat bersama Ayahandanya.
"Baik." Tuan Putri Vashti berdiri. "Ayah Mertua dan Lind tolong tunggu sebentar. Saya akan membuatkan sendiri untuk kalian."
[.]
Note: Saya-anda dan aku-kau di gunakan di kondisi tertentu. Seperti sekarang Tuan Putri Vashti menyebut dirinya 'Saya' karena sedang berhadapan dengan camer.