Vashti

Vashti
Perbincangan Mengenai Pernikahan



"Sekali lagi, aku tegaskan, Baga. Menikahi Tuan Putri adalah imbalan yang kudapat dari sayembara itu. Entah mempengaruhi sistem kerajaan atau pun tidak, aku tidak peduli." Karena pernikahan ini merupakan perintah dari Ayahanda yang harus dipenuhi, batin Tuan Muda Lind dengan menatap tajam Baga.


Baga terlihat mengangguk-angguk. "Baiklah-baiklah. Dari dulu kau memang tidak pernah berubah, Lind. Sedikit ... egois."


"Tidak ada keegoisan di sini." Tuan Muda Lind tersenyum tipis. "Semua. Sama-sama diuntungkan. Sebab kau pun tahu Baga, krisan putih juga termasuk obat langka yang bisa menyembuhkan penyakit mematikan."


"Ya ... yang kau bilang benar. Mungkin ada seseorang di dalam Kerajaan Krisan yang sedang sekarat dan membutuh krisan putih," ujar Baga yang sedetik kemudian mengibaskan tangan kanan nya. Lalu setelah itu, ia mengangkat tangan dan membuka telapak, di sana ada guci hijau kecil berserta tutupnya. "Ambil. Untukmu."


Tuan Muda Lind mengambil guci hijau kecil itu. "Setidaknya kau masih ingat dengan temanmu ini."


"Tentu saja, Lind. Yang bisa meracik obat khusus untukmu hanya aku, kau sendiri tidak akan bisa. Jika bisa, tidak akan manjur seperti racikan ku." Baga menyikap surai putih panjang kebelakang, lantas lanjut berujar, "Minum satu pil setiap ingin tidur malam. Supaya tubuhmu tidak terlalu lemah."


"Aku sudah tahu anjuran meminum obat ini, tidak perlu kau perjelas lagi."



Nura benar-benar tidak datang. Ayahandanya sangatlah tidak berperasaan tega sekali melakukan itu padanya, yang telah jauh-jauh di kirim sampai ke Negeri Daun. Tetapi tidak di dampingi oleh pelayan yang mengurusnya selama ini.


Pintu kayu itu tiba-tiba terketuk. "Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian. Hamba Eliot."


"Masuk!"


Eliot masuk dengan tertunduk. "Tuan Putri, Yang Mulia Raja Vasant meminta anda untuk segera kembali ke Negeri Bunga."


"Bukankah kau tahu bahwa aku berencana kembali ke Negeri Bunga?"


Eliot menghela napas, dengan kembali berujar, "Yang Mulia Raja Vasant meminta anda untuk kembali malam ini, Tuan Putri. Sebab esok, akan di adakan pertunangan antara Tuan Putri Ashana dengan Pangeran Saguna di Kerajaan Matahari."


Pangeran Saguna? batin Tuan Putri Vashti bertanya. Kemudian mengibaskan tangannya. "Pergi. Aku akan menyiapkan barang-barangku. Siapkan kereta kuda malam ini."



Namun saat menuju belokan terakhir, netra Tuan Putri Vashti menangkap seseorang dengan surai panjang putih keluar dari kamar milik Tuan rumah.


"Segala kemuliaan untuk Tuan Putri Vashti Lucian."


Seseorang itu memberinya salam walau masih tidak terlalu dekat. Bahkan aroma orang ini lebih dominan pada kebijaksanaan. Saat orang itu kian mendekat, Tuan Putri Vashti langsung mengenal wajah itu. Baga Narasimha? batin Tuan Putri Vashti yang tersenyum tipis menyambut Baga.


"Semoga kemakmuran selalu melimpahi kehidupan Tabib Baga Narasimha," ujar Tuan Putri Vashti saat menyambut tabib kehormatan.


Baga tersenyum tipis, menyikap helai surai ke belakang. "Tuan Putri masih mengingat hamba?"


"Tentu saja. Orang bodoh mana yang tidak mengingat seorang tabib kehormatan, yang telah lalu-lalang menyembuhkan banyak manusia," jawab Tuan Putri Vashti.


Baga mengangguk-angguk, dengan sedikit tertunduk. Baga berujar, "Tuan Putri, anda yakin ... menikahi seorang pria biasa dari Negeri Terendah?"


"Pria biasa?" Tuan Putri Vashti memandang lurus pada pintu kamar Tuan Muda Lind. "Baga Narasimha ... pria yang akan aku nikahi ini seorang Tuan Muda. Tolong sebutkan di bagian mana dia terlihat dan terdengar seperti pria biasa?"


Baga tertawa ringan. "Tuan Putri terlalu serius. Hamba hanya niat bergurau. Suatu kebetulan, Lind adalah teman baik hamba. Sebagai seorang teman hamba mendukung pilihan dia. Tetapi sepertinya ... anda menjalani pernikahan ini karena keterpaksaan, bukan?"


Aroma dia berubah. Ketidaksukaan? batin Tuan Putri Vashti yang saling menatap dengan Baga. "Apa yang kau ketahui hingga menyimpulkan bahwa aku terpaksa menikah Tuan Muda Lind?"


"Tidak ada. Hanya saja ... terlihat jelas dalam pandangan hamba, Tuan Putri."


Tatapan Tuan Putri Vashti berubah datar. "Terpaksa atau pun tidak. Sungguh tidak akan berpengaruh untuk kehidupanmu, Baga. Tolong jangan mencampuri urusanku. Urus saja orang-orang sakit yang membutuhkan pertolonganmu, Tabib kehormatan."