True Cultivators In The Mortal Realm

True Cultivators In The Mortal Realm
Chp. 7 - Yin Xia



Saat sudah di permukaan air mereka saling berpandangan. Sorotan cahaya bulan yang tadinya tertutup awan, perlahan kembali terang menyinari wajah gadis dengan kulit seputih giok, bibir semerah darah dan wajah yang seperti di pahat dengan sempurna.


"Apa yang kau lakukan?! cepat turunkan aku!" Teriak gadis itu.


Fang YingJun langsung menurunkan gadis itu, belum sempat dia mengatakan sesuatu, gadis itu pergi dengan ekspresi kesal.


Fang YingJun berlari berusaha menyamai langkah gadis itu.


"Hei, aku baru saja menyelamatkanmu, setidaknya katakan sesuatu," ucap Fang YingJun membuat langkah gadis itu berhenti seketika.


"Siapa kau?! aku tidak mengenalmu. Hari ini suasana hatiku sedang baik jadi aku tidak akan memperpanjang masalah tadi, kau!___sebaiknya pergi dari tempat ini sebelum aku berubah pikiran!"


"Jika tidak mengenal, maka harus berkenalan." Fang YingJun berpindah posisi, berdiri menghadap gadis itu sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Namaku Fang YingJun, kau bisa memanggilku Fang Gege, Fang Ge, YingJun atau apapun itu." Ucapnya sambil tersenyum dan setengah bercanda.


Gadis di depannya hanya menatapnya dengan dingin, lalu beralih ke tangan pemuda di depannya yang masih terulur, dia tidak mengatakan apapun sebelum melangkahkan kakinya kembali ke depan, meninggalkan Fang YingJun yang masih terpaku dengan pikirannya di tempat yang sama tadi.


Fang YingJun lalu mengikuti gadis itu dari belakang.


"Hei, kenapa kau begitu angkuh?! bolehkah aku menanyakan beberapa hal."


"Bukankah kau sedari tadi sudah menanyakan beberapa hal!" Ucapnya sambil berjalan ke depan, tatapannya lurus tanpa menengok ke arah Fang YingJun.


"Memangnya kau menjawabnya?" Ucap Fang YingJun sambil sedikit mengerucutkan bibirnya karena kesal.


Langkah gadis itu tiba-tiba berhenti, tangannya mengambil sebuah jimat yang terdapat di talisman. Jimat itu perlahan terbakar dengan sendirinya. Hal itu membuat ekspresi gadis itu sedikit berubah, dia langsung lari dan berhenti di sebuah gua di depan.


Seorang pemuda baru saja keluar dari dalam gua dengan seekor burung Phoenix di tangannya, sedangkan di tangan lainya sedang memegang pedang yang nampak berbeda dari lainya.


Pedang itu terlihat lebih mirip saber di bandingkan pedang yang elegan dan terlihat lebih lebar, dengan ujung yang agak melengkung. Membuat pedang itu terkesan agak brutal.


"Xiao Yang!" Ucap Fang YingJun, yang memang mengenal pemuda berumur lebih muda darinya. Sudah beberapa kali dia dan Zhang BingJie menangkap pemuda itu karena sering berbuat jahat, tapi hal itu tidak pernah berhasil.


"Hei, senior Yin baru kali ini kau membawa seseorang, tapi ... aku mengenal Fang YingJun ini tidak cukup buruk, aku juga sangat mengguminya," ucap Xiao Yang sambil mengangkat kedua sudut bibirnya, namun senyumnya itu lebih terkesan mengerikan, ditambah tatapanya yang licik khas seperti penjahat yang berpengalaman.


"Apa maksudmu?! ... cepat kembalikan Phoenix itu." Ucap Yin Xia dengan wajah dingin.


"Sudah kukatakan ini milikku, kau yang mencuri dariku ... coba kau katakan dimana kau menemukanya. bukan di wilayahmu kan."


Hal yang dikatakan Xiao Yang memang benar, Yin Xia menemukan Phoenix itu di wilayah Xiao Yang tapi Phoenix itu jelas-jelas seperti baru saja di siksa, siapa lagi yang bisa melakukannya di Bukit Luzhao selain Xiao Yang.


"Kenapa kalian memperebutkan burung jelek itu, bukankah hanya seekor Phoenix." Ucap Fang YingJun, yang terlalu jengah, melihat pemandangan di depannya.


Yin Xia memandang tajam ke arah Fang YingJun, jika tatapanya itu di ibaratkan sebagai belati, mungkin belati itu sudah menusuk sampai menembus tubuhnya.


"Benarlah katamu Fang Yingjun ... bukankah hanya seekor Phoenix, tapi Phoenix ini ... baginya bernilai lebih dibandingkan emas." Senyum liciknya terlihat selalu mengikutinya setiap kali dia berbicara.


"Jika tidak tau apa-apa, sebaiknya jangan ikut campur." Ucap Yin Xia pelan ke pemuda disampingnya, sambil bersiap menyerang ke Xiao Yang.


"Eh ... tunggu-tunggu, kau hanya bisa bertarung menggunakan racun bukan, sebaiknya kau tidak perlu membuang tenagamu, kau sebaiknya mencari cara untuk mengembalikan kekuatanmu yang hilang hahaha, takutnya pekerjaanmu tiba-tiba membutuhkanmu" Ucap Xiao Yang yang langsung membuat tubuh Yin Xia kaku seketika.


Bagaimana ... bagaimana mungkin dia bisa tau segalanya tentangku, sebenarnya siapa dia?, batin Yin Xia sambil menatap kearah Xiao Yang.


"Baiklah karena tadi aku memanggilmu senior, aku akan membuat taruhan untukmu." Xiao Yang meletakan burung Phoenix itu ditengah-tengah antara dirinya dan Yin Xia.


"Phoenix ... kau yang akan memilih sendiri siapa yang akan menjadi gu- maksudku tuanmu." Ucap Xiao Yang ke seekor burung Phoenix.


Yin Xia "..."


Fang YingJun "..."


Tentu saja siapa yang tidak bingung jika pilihannya sama-sama tidak bagus. Bukankah Yin Xia dan Xiao Yang sama-sama memiliki julukan Iblis di Bukit Luzhao, batinya dan wajahnya kontras terlihat sedang menahan untuk tertawa.


Setelah beberapa menit burung itu memilih kabur terbirit-birit dibandingkan harus terpaksa memilih salah satu dari mereka.


Melihat hal itu Xiao Yang dan Fang YingJun tertawa bersamaan, sedangkan Yin Xia terlihat sedang menahan untuk marah, meski dirinya juga ingin tertawa.


Bagaimana tidak, jika burung itu memiliki pikiran layaknya manusia dan harus memilih dua orang yang sama-sama bukan orang baik-baik, tentu itu akan terlihat wajar tapi itu jelas-jelas seekor burung bukan, pikirnya.


Tapi bagaimanapun dia tidak akan tertawa, yang tentu saja dia tidak mau menahan rasa malu di seumur hidupnya.


"Sudahlah ... aku tidak akan menganggu kalian disini," ucap Xiao Yang yang masih tertawa kecil.


Belum sempat Yin Xia dan Fang YingJun protes, pemuda itu sudah pergi jauh menaiki pedangnya, hanya menyisakan mereka yang sedang saling menatap dengan sedikit canggung.


Setelah beberapa saat Yin Xia melangkahkan kakinya masuk kedalam gua. Merasa pemuda di belakangnya masih mengikutinya, dia membalikan badannya.


"Kenapa kau masih mengikutiku! apa kau benar-benar ingin membuat Xiao Yang mengatakan itu terus di depanku hah?!" Ucap Yin Xia, nadanya kali ini benar-benar terlihat sangat kesal.


"Eh ... bukankah aku sudah mengatakan tadi a-aku...aku"


Sejak kapan aku gagap saat ingin mengatakan sesuatu, bukankah biasanya aku terlalu berpengalaman berbicara dengan seorang gadis, bahkan untuk menggodanya itu bukan masalah besar, batinya.


Fang YingJun segera menyadari bukan itu letak permasalahanya, tetapi karena dia ingin meminta pertolongan dengan gadis yang sangat dekat dengan Xiao Yang, apa mereka temanya? jika iya pasti sifat dan kelakuannya tidak jauh berbeda. Yang artinya dia harus meminta tolong dengan seorang penjahat, ini tentu akan terlihat sangat konyol, pikirnya.


Gadis itu masih menunggu kelanjutan kata-kata pemuda aneh didepannya.


"Jika ti...." Ucap Yin Xia


"Aku ingin kau menolong temanku di sana." Potong Fang YingJun.


"Katakan kenapa aku harus menolongmu?"


"Menolong temanku." Tegas Fang YingJun, karena dia tidak bisa menemukan alasan yang tepat atas pertanyaan gadis itu.


"Apa kau sangat bodoh?!" Tanya Yin Xia.


"Kamu! ... aku selalu mendapat peringkat satu di sekte, apa menurutmu aku bodoh!"


"Jika aku di sektemu berarti mungkin kau akan mendapat peringkat dua bukan." Ucap Yin Xia lebih rendah karena rasa kesal di hatinya, seakan sudah mencapai puncaknya. dia lalu masuk ke gua itu.


"Eh ..." Fang YingJun agak bingung harus bagaimana lagi, apa dia harus ikut masuk atau berteriak-teriak di sini dan mengatakan hal-hal yang membuat gadis itu semakin kesal.


Setelah beberapa saat. Gadis itu keluar.


"Ayo!" Ucap Yin Xia meskipun dengan nada malas, tapi hal itu membuat mata Fang YingJun berbinar. Mereka lalu mulai berjalan menjauhi gua.


"Hei ... kenapa kau berjalan cepat sekali?!" Keluh Fang YingJun sambil berusaha menyamai langkah gadis berjubah merah itu.


"Kau yang berjalan lambat." Jawabnya dingin, matanya sedari tadi memandang lurus ke depan.


"Hei apa kau mau aku memanggilmu 'hei' terus, cepat katakan siapa namamu?!"


"Apa sedari tadi kau belum mengerti namaku"


"Aih...Xiao Yang memanggilmu dengan sebutan Senior Yin, kurasa kita seumuran bukan, apa aku harus memanggilmu Senior Yin juga."


"Apa kau menganggap ucapan Xiao Yang ... hmm lupakanlah, kau panggil aku Yin Xia saja."


"Ohh... Yin Xia, nama yang bagus."