True Cultivators In The Mortal Realm

True Cultivators In The Mortal Realm
Chp. 24 - Pencarian



Keesokan harinya para kultivator itu meninggalkan Desa Huanxi untuk melanjutkan misi yang sudah di rencanakan tadi pagi.


Fang YingJun, Liu Changhai dan Zhang BingJie kembali ke kediaman Klan Chen, beberapa kali mereka juga berpapasan dengan sekelompok prajurit dari Bangsawan Yi yang memang memerintah di Kota Hua Yi.


Tentu saja mereka ingin pergi ke Desa Huanxi untuk menyimpan beberapa hasil kerajinan seperti pedang, belati, pisau, golok atau lainnya sebelum di dahului para perampok.


Sedangkan para murid dari Sekte Yun Lian di ikuti Yin Xia dan Mei Lian terlihat sedang berjalan memasuki pemukiman warga.


"Begitu banyak orang bagaimana mungkin kita bisa memeriksanya satu-satu, tidak lagi beberapa orang yang berkelana." Ucap Lu JingYi sambil memandang beberapa kedai makan dan toko barang-barang yang berjejer di pinggiran jalan, di situ  juga dilalui begitu banyak orang dengan pakaian yang berbeda-beda.


"Lihat! lihat itu!" ucap Ying Lin menunjuk ke arah sekumpulan orang yang sedang melihat kedua orang yang sedang beratraksi.


"Ayo kita lihat, ke sana!" ujar murid lain.


"Tunggu! apa kalian lupa untuk apa kalian di sini," ucap Yin Xia dengan nada dingin.


Beberapa murid itu langsung sadar jika mereka sedang bersama gadis itu, jadi mereka segera mengurungkan niatnya. Namun berbeda dengan Jun Jie, murid itu benar-benar melihat Yin Xia dengan cara berbeda dari teman-temannya, hal itu diawali sejak kejadian kemarin.


"Kumohon izinkan kami melihat itu, hanya sebentar saja, setelahnya kami akan melaksanakan tugas dengan baik," ucap Jun Jie tenang dan sedikit di imut-imut kan.


"Betullah Yin Xia kau ini jangan terlalu kaku seperti Zhang BingJie, aku juga ingin melihat atraksi itu," ucap Mei Lian sambil tersenyum yang tentu saja menulari murid-murid dari Sekte Yun Lian itu.


Yin Xia membuang nafas agak kasar dan mengatakan, " Baiklah, hanya sebentar."


Mereka mendekati keramaian itu, saat beberapa orang melihat ke arah Yin Xia dan Mei Lian mereka terlihat saling berbisik lalu mencoba tersenyum saat berada tepat di sekitar gadis itu.


Sedangkan kedua gadis tadi terlihat diam dan tidak menghiraukan hal itu karena mereka memang sudah terbiasa. Meski bagi Yin Xia itu sedikit risih, bagaimana tidak dulu saat masih kecil kecantikannya justru pernah hampir membuatnya terganggu bahkan celaka jadi sejak hari itu Yin Xia memutuskan untuk memakai penutup kepala maupun topeng atau juga kedua-duanya. Tapi sejak dia bertemu Mei Lian dan lainnya dia memutuskan untuk tidak melakukannya lagi.


Yin Xia memandang kearah murid-murid dari Sekte Yun Lian dan juga Mei Lian lalu beralih ke arah sebuah pertunjukan atraksi yang sedikit ekstrim yang di lakukan oleh dua gadis yang memiliki wajah kembar.


Dia juga menyempatkan memandang beberapa orang yang tak di kenalnya, mereka semua hampir tertawa melihat pertunjukan itu.


"Apa bahagia benar-benar sesederhana itu," ucap Yin Xia pelan, " Hahh, kapan terakhir aku tersenyum," gadis itu mencoba memikirkan pertanyaan yang dibuatnya sendiri lalu sebuah senyum seorang gadis kecil dengan kedua orang tua muncul di benaknya secara tiba-tiba.


Namun tidak lama setelahnya siluet itu segera berubah berganti senyum gadis kecil yang terlihat lebih bahagia saat bersama siluet wajah seseorang yang samar-samar sudah tidak dia ingat lagi.


Mendengar teriakan itu beberapa orang yang mendengarnya langsung melihat ke arah sumber suara. Itu adalah suara seorang wanita sekitar umur lima puluhan tahun yang baru saja menjerit saat melihat seseorang laki-laki yang membawa kapak tumbang secara tiba-tiba dan hampir mengenai nya.


Beberapa orang mencoba mendekati ke arah tadi termasuk sekelompok murid dari Sekte Yun Lian dan juga dua gadis cantik itu. Saat sampai di sana Mei Lian langsung memeriksa laki-laki tadi. Wajah gadis itu berubah panik lalu mengalihkan pandangannya menatap Yin Xia dan sekelompok murid tadi sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Apa ada yang mengenali laki-laki ini?!" teriak Yin Xia ke beberapa orang di situ.


Namun tidak ada jawaban sedikitpun, Lan Jinzu langsung mengerti dia lantas mengulangi pertanyaan Yin Xia dengan cara yang sedikit berbeda. Tidak lama setelahnya seorang kakek mengatakan dia mengenal laki-laki yang masih terkulai tak berdaya dengan wajah pucat itu.


Setelah mengatakannya para orang-orang itu langsung tau, ternyata laki-laki tadi adalah temannya, mereka hidup sehari-hari dengan mengandalkan menebang kayu di hutan lalu menjualnya. Namun saat mereka baru saja pulang mereka mendengar sesuatu yang aneh, mereka mendekatinya namun sialnya yang mereka temui adalah sebuah mayat hidup. Awal mengetahui hal itu mereka langsung lari tapi karena temannya terjatuh.


Kakek tua itu berhenti bicara ketika seseorang berteriak ada beberapa mayat hidup, hal itu juga membuat beberapa warga di situ langsung berhamburan bahkan saling menabrak satu sama lain. Sekelompok murid tadi berusaha berteriak dan menyuruh mereka tenang tapi sayangnya beberapa orang itu terlihat tidak memperdulikannya.


"Satu atau dua orang ikut denganku! sisanya kalian mencoba mengatasi kekacauan ini," ucap Yin Xia dengan serius.


Murid-murid itu terdiam sejenak lalu Jun Jie menarik tangan Lan Jinzu yang kebetulan ada di dekatnya, agar mengikuti Yin Xia. Mereka lalu pergi ke arah yang kata orang tadi ada sekelompok mayat hidup.


Ternyata saat mereka tiba memang benar ada beberapa mayat hidup yang saat itu sedang bertarung dengan Fang YingJun dan lainnya.  Yin Xia dan kedua murid tadi sebelum membantu menghabisi mayat hidup itu, mereka menyadari dengan cepat bahwa mayat-mayat hidup di depannya sama sekali berbeda dari mayat hidup yang dari Desa Huanxi. Karena mayat-mayat hidup itu terlihat lebih ganas dan bahkan memiliki kemampuan bertarung layaknya seorang kultivator.


"Yin Xia jangan menggunakan racun, kami baru menyadari di antara mereka ada yang palsu?" teriak Fang YingJun sambil bertarung melawan mayat hidup berbadan lebih besar darinya yang melawan dengan pedang sedangkan dirinya itu hanya menggunakan sebuah kayu biasa yang dialiri energi spiritual olehnya.


Melihat hal itu Yin Xia memandang pemuda itu dengan heran membuat satu pertanyaan muncul di benaknya. Lalu dia mengurungkan niatnya dan memilih bertarung menggunakan belati yang tersimpan di lengan bajunya, tentu saja itu adalah salah satu senjata yang tidak dia olesi racun sedikit pun.


Sedangkan Jun Jie dan Lan Jinzu terlihat melawan bersamaan mayat hidup yang memiliki dua pedang kembar yang di tangannya.


"Bertarung seperti ini benar-benar bukan hal yang bijak, jadi sebaiknya kita membuat formasi mantra siapapun manusia di antara mereka pasti akan segera di ketahui."


"Baiklah."


Para kultivator itu segera membuat formasi mantra untuk mengetahui keberadaan manusia yang menyamar sebagai mayat hidup. Setelahnya seseorang yang memakai jubah hitam itu segera memisahkan diri dari sekelompok mayat hidup tadi. Dia berusaha pergi namun Liu Changhai berhasil mengejarnya dan mulai bertarung.


Orang tadi sebenarnya adalah orang yang sama yang menjadi lawannya tadi tapi setelah merasa kultivator itu ketahuan dia tidak berusaha menyembunyikan kekuatannya lagi. Orang itu bertarung dengan pedang dan terlihat sangat lihai dalam memainkannya, bahkan gerakannya cepat tapi tetap sulit di tebak karena dia selalu memperbarui gerakannya.


Pada akhirnya orang itu kabur saat mengelabui Liu Changhai dengan asap yang tiba-tiba muncul, yang memang di buat oleh laki-laki tadi.