True Cultivators In The Mortal Realm

True Cultivators In The Mortal Realm
Chp. 14 - Jenderal Perang



Seorang pria dengan tinggi dan besar tiga kali lipat dari manusia biasa, dengan alis tebal dan juga tubuh kekar yang terbalut seragam besi, terlihat sedang menggendong sebuah golok yang cukup besar di pundaknya. Orang itu mengerang marah, membuat suaranya menggelegar seperti guntur yang mengerikan.


"Siapa dia sebenarnya?" tanya Fang YingJun, tangannya memegang erat gagang pedangnya. Sedangkan Zhang BingJie mengeluarkan tombak dengan kekuatan spiritualnya.


"Jenderal Perang Wang Meng." Jawab Yin Xia cepat.


Ketika Wang Meng mendengar suara yang nampak dikenalnya, karena tadi telah menyerangnya dengan racun, dia langsung mulai marah, pandangannya tajam ke gadis berjubah merah yang sedang berdiri di dekat Mei Lian.


Saat itu juga Wang Meng mulai menyerang dengan brutal kearah dua pemuda yang menghalanginya. Saat Pedang Lingchen dan Tombak Zhongxian bersama-sama menahan golok milik Wang Meng, mereka kompak menggunakan kedua tangannya untuk memegang senjatanya masing-masing karena tekanan golok yang dipegang Wang Meng terlalu kuat.


Yin Xia yang sedari tadi memperhatikan pertarungan itu baru menyadari Pedang Lingchen dan Tombak Zhongxian bukan senjata roh biasa melainkan termasuk pusaka spiritual tingkat tinggi dan tidak seperti dirinya tadi yang bertarung dengan pedang roh biasa yang dia temui didekat kumpulan tengkorak, yang mungkin milik kultivator yang telah meninggal di tempat itu.


Fang YingJun dan Zhang BingJie berhasil meninggalkan beberapa luka di tubuh yang tidak terlapisi seragam besi, namun sayangnya lawan mereka tidak bergeming sama sekali dan bahkan mulai menyerang dengan brutal.


Zhang BingJie mengeluarkan talisman beberapa kali sambil menahan serangan golok besar milik Wang Meng namun beberapa saat dorongan lengan besar Wang Meng membuat bhiksu itu terdorong kebelakang.


Fang YingJun masih berusaha menyerang Wang Meng dengan pedangnya, namun setelah lawannya tersisa dirinya, Wang Meng menjadi lebih fokus dengannya saat itu juga Wang Meng berhasil menangkap ujung pedang Lingchen dengan erat. Selang beberapa menit darah kental keluar dari jemari Wang Meng kemudian menetes melewati pedang Lingchen dan jatuh kebawah.


Pada saat itu Fang YingJun merasa sulit menggerakkan pedangnya, Dia melihat Zhang BingJie yang sedang memberi aba-aba ke dirinya, setelahnya Zhang BingJie berhasil menusuk tangan Wang Meng membuat pedang Lingchen ikut terlepas dari genggamannya.


Melihat hal itu Wang Meng ingin segera menyerang bhiksu itu dengan goloknya, namun belum sempat melakukannya asap putih tebal menutupi penglihatannya. Ketika asapnya mulai menipis dan penglihatannya sudah kembali, empat kultivator didepannya sudah tidak ada. Hal itu membuatnya berteriak dengan suara berat dan menggelegar.


Keempat kultivator itu masih berlari sejauh mungkin untuk menghindari kejaran Wang Meng, ketika agak lama Yin Xia berhenti karena tidak kuat lagi bahkan saat lari dirinya masih menahan rasa sakit yang diakibatkan lukanya tadi.


"Pergilah! tidak usah pedulikan aku lagi." Ucapnya dingin, tangannya terlihat masih memegangi perut sisi kanannya.


"Tidak! bagaimana kami bisa meninggalkanmu begitu saja. Yin Xia! jangan berpikir untuk menjadi pahlawan untuk kami, itu sama sekali tidak lucu." Ungkap Mei Lian yang sedari tadi menggandeng tangan Yin Xia dengan erat.


Alis Yin Xia terlihat agak menaut dan dia berkata, "Siapa yang..."


"Sudahlah jangan berdebat masalah itu, ayo kita harus segera mencari tempat yang aman untuk beberapa saat." Potong Fang YingJun.


Yin Xia membuang nafas dengan keras lalu berkata, "Baiklah ... ikuti aku." Yin Xia yang sedikit familiar dengan tempat itu berjalan ke jalan di sebelah sisi kirinya dan diikuti ketiga kultivator tadi.


Tidak lama kemudian Yin Xia berhenti di depan sebuah pintu yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Gadis itu memasukan tangannya ke mulut sebuah patung singa didekatnya sampai terdengar bunyi 'kreeek' dan tidak lama setelahnya pintu di depannya terbuka.


Setelah keempat kultivator itu masuk, pintu yang tadi langsung tertutup secara otomatis. Ketiga kultivator yang baru memasuki ruangan itu nampak memandangi sekitar sedangkan Yin Xia memandang kebawah terlihat sedang mencari sesuatu.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Mei Lian heran.


"Ini?!"


Yin Xia langsung menengok kearah Fang YingJun yang berjalan kearahnya, tangan pemuda itu terlihat sedang memegang sebuah liontin.


"Bagaimana kau bisa tau itu yang kucari." Tanya Yin Xia dengan sedikit ragu


"Aku tidak sengaja menemukannya di dekat patung itu, saat kau mengatakan sedang mencari sesuatu aku bisa menebaknya karena liontin ini ... Yin Xia kau..." Ucapnya sambil tertawa kecil.


"Fang YingJun! jangan mengatakan omong kosong di depanku aku tidak akan...." Gadis itu terlihat kesal namun dia merasa tidak ada gunanya berdebat dengan Fang YingJun jadi dia pergi setelah merebut liontin miliknya dari tangan Fang YingJun.


"Huh ... benar-benar gadis yang tidak tau terimakasih." Ucap Fang YingJun pelan.


"Heh apa maksudmu tadi? tadi dari jauh aku melihat liontin giok tadi ada tulisan kecil apa isinya?"


"Kenapa kau tidak tanya langsung dengannya." Ungkapnya sambil melirik ke Yin Xia dengan sedikit kesal.


"Eh ..."


Ketiga kultivator tadi berlarian kecil kearah suara yang berasal dari arah Zhang BingJie. Saat sampai di dekat Zhang BingJie mereka melihat sebuah bayangan ilusi di dinding depannya.


Anehnya ilusi itu tidak hanya menampilkan beberapa siluet seseorang tapi suara orang itu. Fang YingJun dan lainnya yang tadinya terkejut sekarang mulai memperhatikan beberapa adegan yang di tampilkan oleh ilusi tadi.


Ilusi itu menampilkan tentang sebuah benda yang jatuh dari atas langit dan ketika jatuh ketanah, suara keras diikuti retakan tanah di sekitarnya, membuat beberapa orang berdatangan untuk melihatnya, mereka terlihat memakai baju seperti layaknya seorang prajurit.


Beberapa saat kemudian sosok pemuda yang menunggangi seekor kuda datang dan membubarkan sekelompok prajurit tadi. Tidak lama setelahnya seseorang raja dengan pakaian atribut perang diikuti jenderalnya datang menghampiri pemuda tadi.


Pemuda itu langsung memberi hormat ke sang raja, setelahnya dia membungkuk untuk mengambil sebuah batu yang nampak aneh. Setelah beberapa menit wajah si pemuda terlihat terkejut, hal itu membuat sang raja dan jenderalnya bertanya.


Lalu pemuda itu memberitau ke sang raja bahwa batu yang ditemuinya bukan batu biasa dan menceritakan dia pernah membaca sebuah buku kuno milik gurunya dulu yang juga menceritakan sebuah batu yang turun dari langit diikuti ledakan besar dan memiliki kekuatan yang sangat hebat jika seseorang berhasil mengaktifkannya.


Mendengar hal itu sang raja menjadi senang, dia langsung memerintahkan ke pemuda di depannya untuk mengaktifkannya, yang memang pemuda tadi adalah seorang sarjana muda yang cerdas dan merupakan salah satu pengikut setia sang raja.


Pemuda itu menyetujuinya, saat itu juga dia langsung melakukannya sampai malam dia bahkan terlihat masih melakukannya. Bahkan ketika malam berganti pagi secara berturut-turut pemuda itu masih melakukannya.


Sampai suatu ketika sang raja mengunjungi pemuda itu, sesampainya di situ dia terkejut saat melihat batu yang tadinya terlihat seperti batu biasa dimatanya, sekarang berubah menjadi lempengan bulat yang di atas nya diukir simbol delapan triagram dan di sisi pinggirannya juga terdapat ukiran sebuah mantra kuno yang diukir sedemikian rupa.