
Setelah berjalan cukup lama melewati hutan kecil yang mengelilingi Desa Beican, akhirnya mereka sampai di danau tempat mereka meninggalkan perahunya.
Mereka naik ke perahu itu, Zhang BingJie bersiap mendayung perahunya sedangkan Fang YingJun yang bermuka tebal langsung tiduran di ujung perahu beralaskan tangannya sendiri.
Di perjalanan Fang YingJun yang tidak menyukai suasana hening yang membosankan terkadang mengatakan sesuatu ke temannya, meski Zhang BingJie hanya merespon jika pertanyaannya serius, sedangkan sisanya bhiksu itu hanya mengatakan 'oh..., hmm ... iya' dan jawaban pendek lainya. Hanya satu hal yang Fang YingJun tidak suka yaitu jika bhiksu itu hanya menatapnya tanpa ekspresi "..." .
Beberapa saat kemudian Fang YingJun menatap agak lama setiap inchi pedang hitam tadi.
Dia memungutnya karena pedang itu bukan pedang biasa melainkan pedang yang memiliki roh yang sering digunakan kultivator sepertinya.
Fang YingJun kehilangan pedang yang sebelumnya, jika dia harus membeli, mungkin dia tidak akan sanggup untuk membayarnya, tentu saja karena pedang roh sangat mahal.
"Kenapa kau selalu memandanginya seperti itu?" Ucap Zhang BingJie yang sedari tadi menatapnya.
"Uhmm ... aku hanya berpikir, cukup beruntung atau sial telah kehilangan pedangku ... padahal pedang itu satu-satunya pemberian Guru Fang, tapi pedang ini juga cukup bagus bukan?" Ucapnya sambil tersenyum.
"Apa namanya?" Tanya Zhang BingJie.
"Aku sedang memikirkannya ... oh, betullah! apa kau tau artinya ini?"
Fang YingJun bangkit dan melihatkan dua huruf yang tertulis di pedangnya ke Zhang BingJie, namun bhiksu itu juga tidak mengetahuinya.
"Hah ... mungkin nama pemilik sebelumnya." ucap Fang YingJun acuh dan kembali tiduran seperti tadi.
"Karena aku menemuinya di Desa Beican aku akan menamainya... Pedang Tian Mo!" ungkap Fang YingJun sambil tertawa kecil, yang memang itu bukanlah alasan utamanya.
( 天魔 Tian Mo \= Mara atau Raja Setan menurut agama Buddha )
"Apa kau benar-benar tidak ada nama lain?" ucap Zhang BingJie pelan namun sedikit dingin.
"Hahh?! Apa yang kau katakan tadi?" Seru Fang YingJun, "Ah, tapi namanya memang kurang menarik ya, baiklah aku akan mengubahnya dengan ... Lingchen." setelah mengatakan itu guratan senyum menghiasi wajahnya, sedangkan Zhang BingJie merasa nama baru itu jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.
(凌晨 [língchén] bisa diartikan tengah malam, karena Fang YingJun berpikir pedang itu hitam pekat seperti tengah malam)
"Sudahlah ... kita sudah sampai," Bhiksu itu langsung berdiri, terlihat dari sisi kirinya seorang laki-laki setengah baya berlarian dengan wajah ketakutan menuju kearahnya.
"Tuan muda ... itu ... tolong ..." ucapnya dengan nafas yang tidak teratur.
"Paman tenangkan dirimu dulu, sebelum mengatakan sesuatu!" ucap Fang YingJun sambil berjongkok dan mengikat perahunya.
"Ba-baiklah, kalian ... sepertinya memiliki kemampuan ... sekarang! di Desa Luzhao kami ada monster mengerikan yang turun dari Bukit Luzhao dan mulai mengacau di pemukiman warga, aku takut gadis kultivator itu tidak bisa mengalahkannya ...."
Mendengar laki-laki itu menyebut gadis kultivator entah kenapa Fang YingJun langsung mengingat sesuatu.
"Mei Lian!" Ucap Fang YingJun sambil menatap Zhang BingJie.
Membuat mereka langsung berlari kearah Desa Luzhao yang memang sebelumnya mereka pernah melewati dan singgah di desa itu, namun karena ada beberapa penduduk yang memiliki penyakit aneh, mereka lalu menyuruh Mei Lian, yang memang merupakan murid yang memiliki keahlian pengobatan terbaik di Perguruan Mo Shan untuk meneliti dan mencoba mengobati penyakit aneh tersebut.
Jarak antara Desa Luzhao dari tempat mereka sebelumnya tidak terlalu jauh. Saat mereka baru masuk ke desa itu terlihat sebuah monster berbentuk seperti tumbuhan raksasa dengan tiga daun bercabang yang terlihat seperti memiliki gigi.
Zhang BingJie langsung mengeluarkan tombaknya dan melemparnya tepat di ujung akar itu yang membuat monster itu menjatuhkan Mei Lian dari atas.
Melihat kedua temanya sedang melawan monster itu, Mei Lian langsung mengingat sesuatu.
"Hei! ... kalian sebaiknya hati-hati, monster itu bisa mengeluarkan racun dari air liurnya!" Teriaknya lalu dia segera mengobati seseorang yang tadi terluka yang merupakan kepala desa di Desa Luzhao.
"Nona muda, kau membantunya saja dulu ... aku tidak apa-apa," ucap pria itu.
"Tenang kedua temanku cukup bisa diandalkan, kau tadi terluka tapi untunglah tidak terlalu parah." Ucap Mei Lian sambil memeriksa nadi di tangan laki-laki itu.
Mei Lian memberikan sebuah pil berwarna hijau muda. Tidak lama kemudian, seorang pemuda datang melapor bahwa dua orang yang memiliki penyakit aneh telah bangun dan mulai mengamuk.
Mei Lian sebelum bergegas pergi, dia melihat kedua temannya terlebih dahulu, yang terlihat masih bisa mengatasi monster itu.
Saat sampai di situ Mei Lian cukup terkejut dua orang itu telah memiliki kondisi yang jauh berbeda dari sebelumnya, Sekarang mereka terlihat memiliki sisik hijau agak transparan di sekujur tubuhnya, matanya putih tanpa pupil.
Mereka merusak apapun yang dilihatnya bahkan menyerang warga yang sedang menenangkannya.
Saat seorang wanita terjatuh Mei Lian hampir berlari ke sana namun belum sempat melakukannya dia di buat tertegun.
"Anakku ... ini ibumu ... apa kau mengingatnya ...." ucap wanita itu sambil meneteskan air mata.
Pemuda yang terkena penyakit aneh itu berhenti sejenak, perlahan pupil di matanya mulai muncul namun saat itu juga sebuah belati meluncur dan menancap tepat di arah jantung pemuda itu, cairan merah pun mengalir keluar membuat pemuda itu terjatuh kebawah, diikuti tangisan histeris ibu pemuda tadi.
Melihat hal itu Mei Lian merasa bersalah, tapi entah kenapa firasatnya menyuruhnya untuk segera mendekat ke warga satunya, benar saja sebuah belati yang sama hampir membunuh laki-laki itu, untungnya Mei Lian bergerak dengan cepat untuk menangkisnya.
"Kalian cepat lindungi dia, ada seseorang yang ingin membunuh orang yang terkena penyakit aneh ini!"
Mendengar hal itu sekelompok pemuda yang memang warga di Desa Luzhao membuat formasi dengan mengelilingi seseorang yang terkena penyakit. Namun setelah cukup lama, Mei Lian berpikir si penyerang sudah pergi. Dia lalu mengambil belati yang tadi terjatuh karena ditangkisnya.
Di sisi lain Fang YingJun dan Zhang BingJie dibuat terkejut ketika mengetahui monster itu perlahan semakin membesar entah dari segi kekuatan maupun ukurannya.
"Racunnya ..." Zhang BingJie melihat seekor burung yang baru saja terjatuh dari atas, dengan sedikit lendir hijau, yang mungkin secara tidak sengaja mengenai burung itu tadi.
Burung itu langsung menghitam dan membusuk secara tiba-tiba. Hal itu membuat kedua kultivator tadi semakin waspada.
Saat ingin menyerang lagi seorang kultivator berjubah merah dengan penutup kepala yang senada dengan warna jubahnya, tiba-tiba mulai menyerang monster itu.
Kultivator berjubah merah itu terlihat cukup lihai dalam melemparkan beberapa belati sekaligus, sesaat kemudian monster itu mulai menyusut sampai ketitik monster itu berubah wujud seperti tumbuhan biasa.
Melihat hal itu Fang YingJun cukup yakin kultivator di depannya telah mengolesi sesuatu di belatinya dan mengetahui beberapa hal tentang monster itu, jadi dia berniat menanyakan sesuatu, namun sebelum melakukannya kultivator berjubah merah itu sudah terlanjur pergi.
Saat Fang YingJun dan Zhang BingJie membalikan badannya, mereka merasa aneh ketika melihat para warga desa yang sedari tadi mengamati tidak jauh dari lokasi pertarungan, terlihat sangat ketakutan.
"Kenapa kalian terlihat lebih ketakutan ... apa karena kultivator tadi?" ucap Fang YingJun sedikit tidak serius.
Seorang pria menjelaskan kalau orang berjubah merah tadi adalah salah satu iblis di Bukit Luzhao, yang dikenal para warga desa karena kejadian beberapa tahun silam.