True Cultivators In The Mortal Realm

True Cultivators In The Mortal Realm
Chp. 29 - Badai pasir



Matahari mulai bergerak tepat di atas kepala mereka, membuat terik matahari terasa semakin membakar apapun yang di bawahnya, angin juga terasa semakin lama semakin kencang, membuat beberapa debu berterbangan.


Zhang BingJie yang berjalan paling depan langsung menghentikan langkahnya, dia merasa suhu dan kecepatan angin naik terlalu drastis menurutnya. Dia memeriksa tanah di sekitarnya yang langsung membuatnya curiga. Fang YingJun dan kedua temannya juga merasa aneh dengan keadaan sekitar.


Benar saja perkiraan mereka, sebuah badai pasir bergerak cepat membuat Zhang BingJie berseru ke teman-temannya untuk segera berbaring di pasir sambil menutup mata dan juga telinganya. Ketiga kultivator itu menuruti perintahnya tanpa bertanya apapun.


Fang YingJun dan Zhang BingJie mengira badai itu hanya lewat namun badai itu cukup lama dan semakin kencang.


***


Mei Lian perlahan membuka matanya karena sorotan matahari tepat menusuk ke arahnya. Gadis itu mencoba bangun dan mengingat kejadian sebelumnya, sampai akhirnya dia menyadari tidak ada satu pun teman-temannya, sejauh mata memandang yang dia lihat hanyalah hamparan gurun pasir yang sangat luas.


Dia yakin teman-temannya tidak akan meninggalkannya tapi dia juga bimbang harus bagaimana karena jika dia berjalan dan mencoba mencari yang lainnya, dia juga tidak tau jalan yang harus dilaluinya akan membawanya lebih dekat atau menjauh dari teman-temannya.


Karena tubuhnya terasa lelah, dia mencoba beristirahat di tempat yang tidak terlalu terik dan meminum air untuk memuaskan dahaganya.


Dia menatap persediaan airnya yang semakin menipis membuatnya teringat kata-kata teman seperguruannya, Fang YingJun. Jadi dia berusaha menghemat namun sudah berapa lama dia menunggu, dia sama sekali tidak menemukan teman-temannya.


Mei Lian tidak mencoba berteriak karena yakin itu akan membuang tenaganya dengan sia-sia, sampai dia melihat sekelompok orang dari kejauhan, jika saja itu bukan temannya, mungkin saja itu adalah sekelompok pengelana yang mungkin memiliki tujuan yang sama ke kota bawah tanah.


Gadis itu memutuskan untuk mengikuti arah sekelompok itu, karena jika dia tetap berdiam di tempat tadi mungkin tanpa membutuhkan waktu yang lama dia akan terhidrasi kembali.


Sudah cukup lama dia berjalan tapi jarak antara Mei Lian dan sekelompok pengelana tadi tetaplah jauh. Itu karena Mei Lian berjalan tanpa tenaga, dia beberapa kali mengusap keringat di dahinya, wajahnya bersemu merah, bibirnya pucat dan kering.


Mei Lian menjatuhkan dirinya ke bawah, dia tidak lagi bisa menahannya lebih lama lagi jadi dia meminum air yang masih tersisa.


Meskipun hari sudah mulai memasuki sore, panas di gurun pasir itu tidaklah jauh berbeda. Mei Lian meminum airnya yang sudah habis dan hanya beberapa tetes saja yang masih tersisa, secara tidak sengaja dia seperti melihat sebuah genangan air dari kejauhan.


Dia pun berlari ke arah tadi, meski genangan air itu seakan menjauh setiap dia mendekatnya tapi dia tetap tidak menyerah sampai akhirnya tubuhnya tidak mampu lagi di paksakan. Pandangannya mulai kabur sebelum gadis itu terjatuh tidak sadarkan diri.


Di sisi lain Fang YingJun juga terpisah dari teman-temannya yang lain, pemuda itu terlihat sedang mencoba mendekatkan telinganya ke pasir di bawahnya. Itu karena samar-samar dia bisa merasakan ada sumber air tidak jauh dari tempatnya.


Setelah sekian lama dia telah tertipu dengan ilusi yang di tangkap matanya, dia sudah melihat ada kolam, sungai, danau ataupun laut tapi setelah di dekati semua itu hilang seketika.


Pemuda itu sebenarnya tidak terlalu memerhatikan arah di depannya, sampai dia melihat segerombolan seseorang berkuda dari kejauhan.


Setelah di dekati ternyata sekelompok bandit yang sedang menahan seorang gadis. Gadis itu berteriak mencoba melepaskan tangannya dari pria-pria berbadan besar yang saat itu tersenyum mengerikan ke arahnya.


Gadis itu adalah Yin Xia. Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk lari dari kejaran bandit yang juga beberapa di antaranya seorang kultivator. Tapi setelah dia mencoba melawan kekuatan spiritualnya semakin menurun hingga membuatnya kesulitan jika melawan bandit-bandit yang berjumlah delapan orang itu.


"Nona, mari bersenang-senang bersama kami, kau sangat cantik sekali..." ucap salah satu bandit yang di ketahui merupakan ketua dari bandit-bandit itu.


Orang itu mengatakan sambil menyentuh wajah gadis Yin Xia yang saat itu dia sedang merasa hampir putus asa. Dia mencoba memberontak sekuat tenaga ketika bandit-bandit itu hampir saja mengoyak pakaiannya sampai seseorang berteriak menghentikannya.


"Fang YingJun ..." ucap gadis itu lirih dengan sorot mata yang penuh harapan.


Yin Xia menyadari perhatian para bandit-bandit itu terpecah karena memandang kehadiran Fang YingJun dan akhirnya gadis itu berhasil melepaskan tangannya dengan cepat dan berlari ke belakang Fang YingJun.


"Lihatlah keberaniannya, apa dia ingin menantang kita semua, hahahaha" ucap ketua bandit itu yang langsung diikuti gelak tawa rekan-rekanya.


Fang YingJun tersenyum sinis melihatnya, tanpa menunggu lama dia menyerang bandit-bandit itu hingga satu sampai dua orang yang belum siap pun terlanjur berjatuhan tak bernyawa.


Beberapa bandit yang tersisa kini mengakui kemampuan pemuda di depannya. Mereka tidak mau mengambil resiko jadi mereka langsung menyerang pemuda itu bersamaan.


Yin Xia yang melihat itu juga tidak tinggal diam meski kekuatan spiritualnya benar-benar menurun drastis tapi keahlian racunnya masih tetap sama hanya saja mungkin beberapa tidak akan tepat atau dia harus mendekat.


Bandit-bandit yang melihat gadis yang tampak cantik di matanya tadi mulai memikirkan cara ketika melihat rekannya yang terkena belati gadis tadi langsung terjatuh tak bernyawa sekaligus tubuhnya menjadi berubah menjadi mengerikan.


Bandit-bandit yang juga seorang kultivator menyadari Yin Xiai tidak menggunakan kekuatan spiritual saat melempar belati beracun jadi mereka mencari ide yang akhirnya memutuskan agar membuat gadis itu kesulitan melemparkan belati tadi karena jika gadis itu tidak hati-hati maka belati itu justru bisa saja mengenai Fang YingJun.


Benar saja gadis itu berhenti, tapi bandit-bandit itu menyepelekan seseorang pemuda di depannya yang sebenarnya tidak kalah mengerikan dengan kemampuan gadis tadi.


Pertarungan itu berlangsung beberapa menit sampai akhirnya setelah salah satu bandit tadi memberi luka ringan pada lengan Fang YingJun, mereka akhirnya bisa di habisi tanpa sisa oleh Fang YingJun yang saat itu pedangnya di penuhi cairan semerah darah.


Meskipun begitu jubahnya juga tidak terlalu ternodai oleh darah dan hanya menyisahkan beberapa cipratan darah saja.