True Cultivators In The Mortal Realm

True Cultivators In The Mortal Realm
Chp. 12 - Kakek misterius



Hujan deras mengguyur Kota Hua Yi membuat beberapa orang berteduh di pinggiran toko, namun saat inilah beberapa kedai atau tempat penginapan mulai ramai di datangi pengunjung bahkan sampai penuh.


Hal itu juga dirasakan oleh Fang YingJun dan lainnya, yaitu ketika mereka mencari beberapa penginapan di sekitar, tapi sayangnya semua penginapan yang di datangi sudah penuh. Ketika ingin mencarinya lagi, hujan turun semakin deras membuat mereka berteduh di pinggiran toko.


"Hah, andai kita bisa seperti kultivator itu, hujan seperti ini seharusnya bukan sebuah masalah bukan," ungkap Mei Lian ketika melihat beberapa kultivator yang masih berjalan tanpa kehujanan, menandakan kekuatan spiritualnya sudah cukup tinggi.


"Kita? kau yang tidak bisa melakukannya, kenapa membawa kita berdua," ucap Fang YingJun.


"Eh, kalian bisa melakukannya." Wajah Mei Lian terlihat agak terkejut.


"Betullah, jika tidak bagaimana Zhang BingJie dan aku mendapatkan tugas yang tidak mudah dari guru kami." Tegas Fang YingJun.


Meski berada di perguruan yang sama, Fang YingJun sebelumnya tidak mengenal Mei Lian yang memang memiliki guru yang berbeda dengannya. Sedangkan Mei Lian, bukan!...maksudnya seluruh murid maupun tetua di Perguruan Mo Shan jelas mengenal Fang YingJun. Bukan hanya karena prestasinya tapi karena kenakalan dan sifat malas Fang YingJun yang terlalu melegenda di perguruan Mo Shan.


Arghh!!!


Fang YingJun sedikit terdorong ke depan sampai tubuhnya hampir terjatuh jika saja dia tidak seimbang, dia melihat seseorang yang menabraknya dari belakang, ternyata seorang kakek tua, di mata sebelah kirinya, terlihat seperti bekas goresan menyilang yang hampir memudar.


Fang YingJun ingin marah atau sekedar menegurnya karena dia melihat mata kakek itu tidak buta, di tambah kakek itu seperti sengaja mendorongnya. Namun belum sempat dia melakukannya kakek itu lebih dulu memarahinya.


Mei Lian yang berada disitu tersenyum jahil, karena mendapati momen langka yang dihadapi Fang YingJun. Sedangkan Fang YingJun dan Zhang BingJie diam sambil menatap keheranan ke arah kakek tadi.


Entah apa yang terjadi dengan kakek itu. Dia tiba-tiba berhenti marah-marah dan mendekat kearah Fang YingJun dan Zhang BingJie.


Hahaha...


"Keanugrahan dari langit dan kesucian yang murni... benar-benar perpaduan yang sangat sempurna. Hah, si tua Lou Jun ... aku telah memenuhi janjiku padamu ...." Ucapnya sambil menepuk kedua bahu pemuda itu secara bersamaan.


Ekspresi kakek itu berubah dengan cepat ketika melihat dua orang yang mengejarnya telah datang.


"Hei, berhenti! kau harus membayar tagihannya!"


"Jangan lari lagi," ucap pria satunya sambil membawa kayu balok ditangannya.


Saat dua orang itu mendekat, kakek itu malah pergi berlari dengan cepat, beberapa kultivator yang memandangnya cukup terkejut karena kultivator manapun yang melihatnya, pasti mengetahui kakek itu hanya manusia biasa, tapi ketika tubuhnya tidak terkena air hujan, itu benar-benar membuat beberapa dari mereka saling berbisik satu sama lain.


Meski Fang YingJun masih tidak yakin apa yang dia lihat, dia bertanya ke kedua orang tadi yang mengejar kakek aneh itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Hah ... kakek tua itu makan dan minum beberapa arak di kedai kami, saat itu gayanya seolah-olah dirinya adalah seorang raja tapi dia pergi begitu saja tanpa membayar."


"Memangnya berapa tagihannya?" Tanya Zhang BingJie.


Dua pelayan itu langsung saling berpandangan kemudian mengatakan tagihan si kakek tadi. Lalu dua pelayan itu pergi dengan wajah berseri ketika Zhang BingJie membayar semua tagihan si kakek tadi.


"Kenapa kau harus yang membayarnya. Kau bahkan jarang membelikanku sesuatu. Jangan bilang karena kata-kata tadi bukan?" Ucap Fang YingJun sambil memandangi bhiksu didepannya.


"Tentu saja karena ingin membantu, kakek itu mungkin tidak memiliki uang sedikitpun dan ketika si pemilik kedai mengetahuinya, bisa-bisa kedua pelayan tadi kehilangan pekerjaannya."


"Kau sudah cukup pintar juga Mei Lian, tapi sayang sekali, aku orang yang cukup realistis."


"Sudahlah, hujan sudah reda, sebaiknyai kita melanjutkan perjalanannya lagi." Ucap Zhang BingJie untuk menengahi pertengkaran kecil yang memang itu sudah sangat sering terjadi.


Tepat ketika hari sudah sore, mereka akhirnya menemui penginapan yang masih tersisa dua kamar. Penginapan itu begitu besar dan mewah, tapi karena ada diskon membuat beberapa tamu yang datang bisa membayar dengan harga yang cukup murah.


Tempat penginapan itu juga menyediakan restauran. Saat sampai disitu Fang YingJun dan lainya juga agak terkejut ketika semua tamu bisa memakan sepuasnya tanpa membayar karena ternyata Bangsawan Lu yang mentraktirnya.


"Tuan muda kedua, selamat! sebentar lagi kau akan memperistri seorang tuan putri. Tidak membutuhkan waktu yang lama kau pasti akan mendapatkan kedudukan penting di istana."


"Tuan Putri Qin Meiqi ini adalah wanita suci dari Sekte Yun Lian, dia murid langsung Liu Changhai tapi..."


Beberapa bangsawan menunggu kelanjutannya. Bahkan Fang YingJun dan lainya yang sedari tadi ikut mendengar dan meski jarak mereka tidak terlalu dekat, juga begitu.


Seorang bangsawan tidak sabar dan menanyakan kelanjutannya. Lalu bangsawan yang tadi, lanjut meneruskan kata-katanya. Saat itu juga beberapa bangsawan agak terkejut. Sedangkan Tuan Muda Lu yang memang sudah tau terlihat sedikit binggung untuk meresponnya.


"Kau ini kenapa mengatakan seperti itu, jelas-jelas kau tidak pernah bertemu dengannya!" ucap seseorang di situ.


"Benar jangan membuat Tuan muda kedua takut." Goda bangsawan lain saat melihat wajah Tuan Muda Lu yang agak menunduk.


Hahaha....


**


Fang YingJun menatap langit malam dari jendela. Karena kamarnya berada di lantai lima dia bisa melihat beberapa atap rumah warga yang terkena guyuran hujan, dan jalanan yang terlihat sepi.


"Fang YingJun kenapa kau membuka jendela saat malam dan hujan."


"Eh, kau sudah datang, kukira kau pergi kemana ... Zhang BingJie! apa kau___ingin mencicipi arak di belakangku?" tanya Fang YingJun ketika melihat Zhang BingJie membawa satu guci arak di tangannya.


Zhang BingJie memandang sebentar ke arak yang baru saja di belinya ketika dia mengambil sesuatu yang tertinggal saat di restoran.


"Tidak, ini untukmu," kata Bhiksu itu.


Fang YingJun tersenyum dan mendekat ke arah Zhang BingJie, tangannya menepuk pelan pundak bhiksu itu, sambil mengatakan, "Sangat kebetulan ... malam ini begitu dingin meminum arak saat seperti ini memang sangat menyenangkan, terimakasih."


Fang YingJun duduk di dekat meja yang ada di sampingnya sambil meneguk arak tadi. Sedangkan Zhang BingJie menutup jendela yang tadi terbuka karena beberapa air hujan mulai masuk dan sedikit membasahi lantai.


"Zhang BingJie kenapa akhir-akhir ini sering hujan di Hua Yi...Eh apa itu!" ucapnya agak terkejut.


Fang YingJun langsung membuka jendela yang sudah tertutup ketika tadi dirinya melihat kilatan sinar berwarna merah. Hal itu juga membuat Zhang BingJie menghampiri temanya yang sedang mencari kilatan sinar tadi yang tiba-tiba menghilang.