True Cultivators In The Mortal Realm

True Cultivators In The Mortal Realm
Chp. 15 - Dua pasangan?



Fang YingJun memandang teliti ilusi batu itu dan mengatakan, "Itu telihat seperti batu Wuxing!" Ucapnya sambil memandang ke arah Zhang BingJie, bhiksu itu juga sependapat dengan Fang YingJun.


Suatu ketika seorang prajurit datang ke sang raja dan mengatakan seluruh pasukannya sudah kalah karena pasukan musuh dibantu oleh sekelompok pembantai.


Mendengar itu sang raja terlihat putus asa, tapi dia masih memiliki secercah harapan, dia lalu mendatangi pemuda sarjana.


Sesampainya di sana sang raja terus mendesak namun pemuda sarjana itu mengatakan dia belum menyelesaikan nya secara sempurna, hingga membuat sang raja marah dia pun terpaksa beradu pedang dengan si pemuda....


"Eh kenapa tiba-tiba menghilang, apa selanjutnya?" tanya Fang YingJun dan orang di situ juga sama bingungnya.


Zhang BingJie berusaha menekan batu bata yang memicu munculnya ilusi seperti tadi, tapi dia tidak berhasil.


"Sudahlah, jika kalian ingin tau selanjutnya kalian harus menemukan ruangan utama dari makam ini." Ucap Yin Xia dia terlihat sedang mengelilingi ke setiap sudut ruangan berusaha mencari jalan selanjutnya.


Fang YingJun dan lainnya juga melakukan hal sama seperti gadis itu. Namun setelah cukup lama mereka memutuskan untuk beristirahat.


"Yin Xia minumlah ramuan ini ... ini bisa menutup lukamu dengan cepat." Ucap Mei Lian.


Yin Xia memandang sejenak kearah gadis di depannya lalu tangannya meraih ramuan yang diberikan gadis itu.


Lalu mengatakan, "terimakasih."


Setelah cukup beristirahat mereka segera mencarinya lagi dengan teliti, yang akhirnya ditemukan oleh Fang YingJun karena usil mengambil sebuah gulungan kertas yang di pegang dari salah satu patung yang ada di tempat itu. Setelahnya sebuah pintu terbuka dan menampilkan terowongan yang tidak terlalu gelap juga tidak terlalu terang.


Mereka lalu memasuki terowongan yang agak sempit itu, setelah berjalan beberapa langkah Zhang BingJie dan Fang YingJun merasa ada suara aneh di atas terowongan itu. Fang YingJun menyuruh semua orang di situ untuk diam dan memperkecil suara langkah kaki.


Sampai mereka menemukan dua jalan yang berbeda, hal itu membuat mereka berhenti dan memikirkan jalan mana yang harus diambil.


"Bagaimana jika dari kita dibagi menjadi dua kelompok, setidaknya itu bisa menghindari beberapa kemungkinan." Ucap Mei Lian.


Fang YingJun dan Zhang BingJie berpandangan kemudian mereka mengangguk setuju. Zhang BingJie yang memang berdiri lebih dekat di sebelah kanan langsung memilih berjalan di sebelah kanan. Fang YingJun berniat mengikuti temannya itu.


"Eh, apa kau membiarkan aku dan Yin Xia yang lemah berdua melewati itu, bagaimana jika..."


"Siapa yang lemah?!" Potong Yin Xia cepat dan melemparkan tatapan dingin ke Mei Lian .


"Ah___baiklah bukankah kau sedang terluka bukan."


"Bicara saja kau ingin dekat dengan Zhang BingJie!" Ucap Fang YingJun, yang sedikit menangkap niatan tersembunyi teman seperguruannya itu.


Mendengar hal itu rona merah terlihat samar-samar di pipi Mei Lian, karena malu gadis itu segera berlarian kecil ke jalan yang di pilih Zhang BingJie. Yin Xia menatap dingin kearah Fang YingJun sebelum melangkahkan kakinya ke jalan sebelah kiri. Sedangkan Fang YingJun terlihat mengangkat pundaknya cepat dan mengikuti Yin Xia dari belakang.


"Yin Xia sebenarnya apa yang kau lakukan sampai di tempat ini ... kau ... tidak diam-diam mengikutiku kan?" tanya Fang YingJun sambil tersenyum jahil.


"Tidak! Uhm ... kemarin saat aku mencari orang di balik belati, entah sengaja atau tidak aku merasa di arahkan ke tempat ini."


"Ohh...."


Yin Xia yang berjalan di samping Fang YingJun tiba-tiba berhenti, hal itu juga membuat pemuda itu ikut berhenti dan menannyakan alasannya.


"Lihatlah dengan teliti." Ucap Yin Xia sambil menunjuk ke depan.


Fang YingJun lalu melihat ke depan dengan teliti. Terlihat sebuah benang yang tipis dan kecil menghalangi jalan mereka, bahkan jika dilihat sekilas mereka tidak akan menyadarinya.


"Itu pasti bisa memicu jebakan di sekitar sini." Ucap Fang YingJun.


"Jadi bagaimana?"


"Ikuti caraku!" Fang YingJun mengambil segenggam pasir coklat di tanah, lalu melemparkan ke benang tipis di depannya.


Beberapa saat kemudian Yin Xia baru menyadari sebagian besar benang hanyalah ilusi dan sekarang hanya menyisakan beberapa. Fang YingJun mengambil dua genggam pasir seperti tadi sambil menuju ke depan dengan menghindari beberapa benang, membuatnya beberapa kali terlihat seperti menjongkok, membungkuk, melangkahi benang tersebut.


Saat berada di tengah-tengah dia melihat kebelakang dan mengatakan, "Hei kenapa kamu masih disitu, cepat lakukan seperti caraku tadi!"


Gadis cantik itu membungkuk mengambil dua genggam pasir dengan ragu dan mulai mengikuti seperti pemuda tadi. Fang YingJun yang baru saja selesai melewatinya tertawa kecil ketika melihat Yin Xia melakukan hal seperti itu.


Karena merasa ditertawakan seperti itu Yin Xia menjadi sedikit tidak fokus sampai tangannya tidak sengaja menyentuh salah satu tali itu. Fang YingJun yang melihat hal itu langsung berhenti tertawa, dia segera menarik tangan gadis itu agar tidak jauh dari dirinya sehingga dia bisa melindungi gadis itu jika terjadi sesuatu. Saat itu juga Fang YingJun memandangi sekitar.


"Eh, kenapa tidak terjadi apa-apa, apa jebakan tali itu palsu?" Ucap Fang YingJun.


Selesai mengatakan itu, tanah yang di bawanya bergetar lalu terbelah dengan tiba-tiba. Membuat mereka jatuh kebawah.


Disisi lain Mei Lian dan Zhang BingJie masih berjalan di terowongan yang agak sempit itu. Suasananya senyap dan terasa sangat canggung.


Mei Lian berusaha mencairkan suasana tapi dia juga tidak tau harus berkata apa jadi dia hanya berdehem beberapa kali. Tapi bhiksu yang dia kenal sebagai seseorang paling dingin dan pendiam yang pernah dia temui itu terlihat tidak merespon sedikit pun. Bhiksu itu terlihat masih fokus memandangi dan berusaha meneliti di sekitar.


Karena kesal Mei Lian sedikit menghentakkan kakinya saat berjalan. Tidak lama kemudian dia berhenti dan mulai memandangi kaki kirinya. Zhang BingJie meskipun tidak melihat kebelakang menyadari gadis di belakangnya berhenti tiba-tiba.


Zhang BingJie membalikan badannya hanya untuk memastikan keadaan gadis itu baik-baik saja. Terlihat gadis itu masih menatap kebawah yang memang tidak terlalu terang lalu menatap Zhang BingJie dengan ketakutan dan mengatakan, "Zhang BingJie... sepertinya aku menginjak sesuatu."


Zhang BingJie langsung mendekat kearahnya dan mengatakan, "Kau menginjak sesuatu yang dapat memicu jebakan. Kau ... jangan bergerak sedikitpun."


Mei Lian mengangguk dengan patuh. Zhang BingJie melihat di sekelilingnya, matanya menemukan sebuah pisau kecil yang sedikit berkarat. Dia langsung mengambilnya, dengan ragu-ragu dia membungkuk di dekat kaki gadis itu dan mulai memasukan pisau tadi di sela-sela lantai yang sedikit menjorok kebawah karena di injak kaki Mei Lian.


"Sekarang tarik pelan-pelan kakimu!" Ucap Zhang BingJie pandangannya terlihat sangat fokus ke pisau yang sekarang terselip di sela-sela lantai tadi.


"Tapi ...Uhmm baiklah." Mei Lian mulai mengangkat kakinya dengan ragu.


Setelah kakinya sudah berada lantai yang aman, sekarang giliran Zhang BingJie yang masih menyamakan tekanan tadi, setelah beberapa saat pisau itu berhasil menekan lantai tadi.


"Terimakasih." Ucap Mei Lian sambil menampilkan guratan senyum di wajahnya.


" Lain kali berhati-hati! di sini banyak jebakan yang tersembunyi."


"Baiklah." Ucap Mei Lian sambil masih mempertahankan senyumnya.


Setelahnya Zhang BingJie langsung berjalan lagi ke depan diikuti gadis tadi.