Trouble With the Past

Trouble With the Past
Episode 31



"Berapa lama kita menaiki angkutan umum?" Tanya Andrian sembari kaki nya berjalan mengajak nya untuk keluar dari stasiun kereta tersebut.


"Sekitar satu jam, tergantung lalu lintas nya, jika lalu lintas nya macet akan memakan waktu satu setengah jam lamanya" jelas Avilia. Andrian hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Saat ini mereka berdua sudah keluar dari stasiun kereta, Avilia berjalan mendahului Andrian. Kala melihat Angkutan umum yang menjadi tujuan nya ia segera mengajak Andrian untuk menaiki Angkutan tersebut.


~~


Pagi itu jalanan begitu lancar, namun panas terik matahari saat itu tidak bisa dibohongi. Andrian merasakan Keringat nya mengucur dengan deras hingga membasahi kaos polos bahkan Jaket yang ia pakai.


"Kau ini, suka sekali memakai jaket disiang hari. Memang nya tidak gerah? Lihat! Rambut mu saja sampai Basah seperti habis selesai keramas" Avilia terkekeh.


"Terus saja tertawakan aku!" Ketus Andrian, merasa kesal namun tidak membuat Avilia takut, sebaliknya membuat Avilia tertawa lebih renyah. Hingga membuat berbagai pasang mata menatap kearah kedua nya.


Angkutan umum dipagi itu masih terlihat sepi, hanya ada beberapa orang saja sehingga tidak memadati isi didalam nya.


Angkutan itu berhenti, menandakan ada penumpang yang akan menaiki nya. Benar saja, terlihat 2 orang mahasiswi menaiki Angkutan tersebut, memilih duduk dihadapan Avilia dan Andrian. Namun mata Kedua Mahasiswi itu seperti terkagum, pertama kali nya melihat sosok pria yang tampan dan gagah menaiki sebuah kendaraan umum. Rela berpanas - panas an hingga membuat keringat di kepalanya mengalir ke bawah melewati pelipis nya dengan perlahan.


Andrian menyadari bahwa sedari tadi 2 orang mahasiswi itu menatap nya hingga membuat dirinya merasa risih.


"Avilia, bisa kau mengeringkan keringat ku dengan tisu milik mu?" Andrian seolah sengaja,


"Kau kan punya tangan, kenapa tidak kau keringkan sendiri!" Ketus Avilia.


Andrian mendengus, mata nya menatap Avilia lalu mengarahkan dagu runcingnya pada ke dua mahasiswi yang terus saja menatap nya dan sedikit membicarakan nya namun tak terdengar oleh mereka.


Avilia seolah mengerti, bahwa Andrian merasa risih dengan tatapan dua mahasiswi itu. Ia pun mengeluarkan beberapa lembar tisu dari dalam tas ransel nya. Lalu tangan nya dengan perlahan mengusap pelipis lelaki itu yang dibasahi oleh keringat.


Kedua mahasiswi itu pun menyaksikan kedekatan mereka, lalu berbicara.


"Oh mungkin itu istrinya, ku kira dia single" Bisik salah satu dari mereka, tak terdengar oleh Avilia dan Andrian.


Setelah melihat kedekatan Andrian dan Avilia, mereka pun tidak lagi menatap Andrian yang membuat lelaki itu risih.


"Terimakasih" Seulas senyum ia berikan pada Avilia. Dan pertama kali nya Avilia melihat Senyuman itu. Senyuman yang seketika mendamaikan hati dan pikiran nya yang berkecamuk. Hingga ia merasakan bahwa saat ini pipi nya pasti berubah merah padam.


Dengan cepat Avilia mengalihkan pandangan nya, menatap Senyum Andrian hanya membuat dirinya merasa itu tidak baik untuk kesehatan jantung nya.


~~


Mereka berdua kini berjalan menyusuri sebuah gang yang tidak terlalu kecil, untuk menuju tempat tinggal Avilia.


Sejak diperjalanan tadi, Andrian merasa puas dengan pemandangan yang tersuguhkan di pedesaan itu. Sudah lama sekali dirinya tidak mengunjungi Kampung dimana orang tua nya berasal, hingga sekarang ia kembali melihat lagi indah nya perkebunan serta tanaman-tanaman hijau dan besar yang membuat desa itu terasa begitu sejuk. walaupun matahari begitu terik namun desiran angin mampu mengalahkan panas nya cuaca disiang hari tersebut.


Kini kedua nya sudah tiba disebuah rumah minimalis, didepan rumah itu terdapat berbagai tanaman serta bunga-bunga yang memperindah serta menyejukan mata untuk siapa saja yang melihat nya.


Diteras rumah itu terlihat sosok wanita yang berusia sekitar 40 tahun, terlihat sedang menyapu lantai yang tidak terlalu kotor.


"Ibu" Satu kata yang keluar dari bibir Avilia, mampu membuat wanita itu menoleh kearah nya, dengan cepat Avilia berjalan kearah nya, dan langsung memeluk nya, seolah menyalurkan Kerinduan nya yang tidak bertemu beberapa bulan ini.


"Lia, akhirnya kamu sudah sampai" tangan Ibu mengelus rambut Avilia dengan lembut dan penuh cinta.


Tatapan ibu beralih pada sosok lelaki yang berdiri dibelakang putri nya, lelaki yang mempunyai tubuh berisi dan tinggi itu tersenyum dengan ramah nya, ibu pun tidak sungkan membalas senyuman itu.


"Dia siapa nak?" pertanyaan ibu yang berbisik pelan seketika menyadarkan Avilia bahwa saat ini dia tidak sendirian melainkan ditemani oleh seorang lelaki yang bahkan baru ia kenal beberapa minggu ini.


Avilia melepaskan pelukan itu, kemudian matanya menatap Andrian yang berdiri dibelakang nya. Tak sungkan Avilia segera memperkenalkan Lelaki itu pada Ibu nya.


Setelah memperkenalkan lelaki itu, Ibu mengajak kedua nya untuk masuk dan mempersilahkan lelaki itu duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Sedangkan Avilia meninggalkan Andrian untuk meletakkan tas ransel nya terlebih dahulu dikamar nya yang berada dekat ruang tamu itu.


"Nak Andri, jika ingin mandi bisa kebelakang. Dibelakang sudah tersedia kamar mandi. Ibu kebelakang sebentar menyiapkan minuman untukmu" Ucap Ibu, langkah nya mengajak dirinya untuk pergi ke dapur.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like dan Vote nya.