
Semua nya terasa Panas, tanpa sadar air mata itu jatuh dari pelupuk mata nya.
"Hufhtt, barusan aku bermimpi tentang dia lagi" Lirih Avilia dengan nafas tersengal karena saat itu Rasanya panas, seperti berada didalam ruangan yang tidak mempunyai udara sedikitpun.
"Tadi itu hanya mimpi" Kini Avilia mengingat-ingat kembali mimpi itu, kemudian mengusap ujung mata yang masih terdapat tetesan air mata disana.
"Sudahlah Avilia, mau sampai kapan kau memikirkan lelaki yang belum tentu memikirkanmu, ingat dia sudah memilih wanita lain untuk menjadi pelabuhan terakhir nya dan itu bukan kamu, dia sudah bahagia bersama keluarga kecil nya," Ucap Avilia sembari menutup kedua mata nya dengan telapak tangan, kemudian mengusap nya perlahan.
"Baiklah, ayo beri doa yang baik untuknya, semoga kebahagiaan selalu berlimpah padanya" Kini senyuman itu terlihat dari bibir tipis miliknya. Yaa senyuman kebahagian akan sebuah keikhlasan, setidaknya ucapan itu yang membuat dirinya menjadi lebih tenang.
Avilia mengambil ponsel miliknya yang berada dibawah bantal, ia melirik jam yang terpampang dilayar ponsel itu.
"Fuhh sudah jam segini, mari bersiap pergi ke kampus" Ucap Avilia antusias, seketika Saat hendak bangun dari zona nyaman nya itu dia merasakan rasa sedikit basah di area bawah.
"Tunggu, hari ini tanggal berapa?" Ucapnya dengan segera mengambil ponsel nya kembali dan melirik tanggal yang terpampang pula di layar ponsel. Seketika membuat Avilia sedikit terperanjat dari duduk nya lalu dengan cepat ia masuk ke kamar mandi.
***
"Sialan! Pantas saja kemarin Mood ku sensitif sekali, sampai-sampai kak Adrian yang menjadi pelampiasan moodku" Gerutu Avilia.
Kini Avilia tengah berada di kampus, berjalan dilorong menuju ke kelas nya. Sesekali tangan nya meremas-remas perut nya yang terasa nyeri akibat datang bulan. Saat sudah tiba dikelas Avilia pun dengan segera mendudukkan tubuhnya, meletakkan tas nya disembarang tempat,
Rasanya hari ini akan menjadi hari yang sangat menjengkelkan baginya,
Avilia melipatkan kedua tangannya diatas meja lalu meletakkan kepalanya diatas kedua tangannya. Dan entah sampai kapan dia akan tertidur seperti itu.
"Heyy Avilia!" Teriak Wilda yang tak lain adalah sahabat Avilia.
Avilia tidak bergeming dari posisi nya. Lalu Wilda dengan lembut menyentuh bahu Avilia dan memanggilnya kembali dengan suara pelan nya. Namun Avilia masih saja tidak bergeming dari posisi nya. Wilda merasa panik karena dia tidak mendapat respon apapun dari sahabatnya itu.
"Avilia, Avilia kau masih hidup kan!!" Teriak Wilda yang menghebohkan ruangan itu, hingga membuat mata yang berada disekitarnya memandang dengan heran.
"Habisnya kau sama sekali tidak merespon ku. Aku khawatir, aku khawatir kau.."
"Apa? Mati?" Belum sempat Wilda melanjutkan ucapannya namun dengan cepat Avilia memotong nya.
"Kau kenapa hari ini galak sekali, tampang mu sudah hampir mirip dengan macan" Goda Wilda sembari menahan tawanya.
"Terus saja, Terus saja ledek aku, kau aku makan baru tahu rasa" Kini Avilia kembali meremas-remas perutnya yang terasa nyeri kembali.
"Apa kau sedang datang bulan?" Tanya Wilda sembali melirik Avilia yang terlihat sedang menahan sakit.
"Iyaa, perutku sakit. Hari ini juga badanku lemas sekali," Kini terlihat wajah Avilia begitu pucat.
"Kalau begitu kenapa kau datang ke kampus, kenapa tidak istirahat saja di kost an mu, kalau tidak kau sekarang pergi saja ke uks, atau kau bisa pulang sebelum mata pelajaran hari ini dimulai" Ucap Wilda nyerocos yang membuat Kuping Avilia ikut-ikut an sakit.
"Cih, kau ini bawel sekali, kalau aku tidak masuk aku bisa ketinggalan mata pelajaran hari ini. Kau seperti tidak tahu aku saja, daripada kau terus disini mengganggu ku lebik baik kau pergi sana cari pujaan hatimu itu, aku ingin melanjutkan tidurku lagi," tukas Avilia kemudian kembali ke posisi awal, merebahkan kepalanya diatas lipatan kedua tangan yang berada diatas meja.
"Baiklah kau begitu, lanjutkan tidurmu, mimpi indah yah Ratu keras kepala" Ledek Wilda kemudian pergi meninggalkan Avilia untuk mencari pujaan hatinya itu yang tak lain ialah Alvin.
.
.
.
.
.
.