
Kini Avilia tiba ditempat dia bekerja di temani oleh sang ayah.
"Ayah, Terimakasih sudah mengantar Avilia bekerja" Ucap Avilia tersenyum sembari mencium tangan sang ayah.
"Tidak apa-apa nak, jarang - jarang kan ayah mengantarkan kamu seperti ini. Avilia apa kau masih mempunyai uang? Jika tidak mintalah pada ayah, ayah akan memberikan nya untukmu,"
"Tidak usah ayah, Avilia masih punya tabungan jika Avilia benar-benar kekurangan uang, Lagi pula Avilia tidak ingin selalu merepotkan ayah dan mamah" Ucap Avilia dibarengi senyuman tulus nya.
"Kau memang anak yang Mandiri nak" Ucap sang ayah sembari mengelus lembut rambut milik Avilia.
"Kalau begitu ayah pergi dulu, Jaga kesehatanmu nak, Kau itu wanita jadi harus pandai-pandai menjaga diri yaa" Ucap lembut sang ayah.
"Iyaa ayah, sampaikan salamku untuk mamah" Lirih Avilia.
"Nak, tinggalah lagi bersama Kami, kami sangat kesepian tidak ada dirimu" Pinta sang ayah memelas kan wajah nya.
"Akan aku pikirkan lagi ayah, sejujurnya aku hanya ingin lebih mandiri lagi, aku juga tidak ingin terlalu banyak merepotkan kalian, Kalau begitu Aku masuk dulu, hati-hati dijalan ayah" Pamit Avilia yang hanya dibalas senyuman oleh sang ayah.
Sungguh, Avilia tidak ingin tinggal disana lagi. Disaat pertengkaran mereka terjadi lagi, mereka seakan lupa bahwa Avilia juga tinggal disana. Mereka seakan tidak memperdulikan bagaimana Sakit nya Avilia mendengarkan Caci maki yang terlontar dari mulut mereka. Saat Avilia benar-benar lelah dengan kerja dan kuliah nya bertambah lagi keadaan rumah yang terlihat berantakan seperti layak nya telah terjadi peperangan, peralatan isi rumah yang berserakan dimana-mana, sampai-sampai sebuah Sapu saja sudah terbelah menjadi dua. Avilia sudah menduga nya, ini semua pasti "Pertengkaran"
Entahlah, semakin lama Avilia semakin biasa saja dengan semua yang terjadi didalam rumah itu. Mungkin karena batin nya yang sudah terlalu kebal, atau hati nya yang sudah terlanjur sakit. Yang jelas ada sedikit rasa "Trauma" yang Avilia rasakan terhadap Pernikahan, juga percintaan.
Tidak membenci nya Avilia hanya Takut semua itu terjadi lagi padanya dimasa depan.
"Semoga Masa depanku berakhir dengan indah" Pinta Avilia pada tuhan didalam hatinya.
"Avilia, kau dari mana saja? Kenapa jam segini baru sampai?" Ucap seseorang itu dengan geram nya pada Avilia. Yang ternyata itu adalah Clara, Salah satu karyawan yang bekerja ditoko buku itu. Tepat nya senior Avilia.
"Oh, kak maaf aku telat 15 menit, tadi aku.."
"Alasan saja!" Belum sempat Avilia menyelesaikan ucapannya namun Clara dengan acuh tak acuh memotong ucapannya. Memang disana Clara terkenal dengan sifat nya yang agak Galak. Tetapi itu tidak membuat Avilia merasa Takut. Karena baginya semua manusia pada hakikatnya makhluk sama sama. Tidak perlu sampai ditakuti "Lagipula dia itu sama seperti ku, karyawan yang hanya bekerja disini" Menurut Avilia sih seperti itu.
"Avilia, kenapa kau diam saja, kau tidak mendengarkan ku?" Dengus Clara menajamkan kedua matanya. Rasanya Avilia benar-benar ingin sekali mengambil bola mata itu dan menggelindingkan ke tengah jalan raya. Tapi Avilia pun masih mempunyai hati nurani, Baginya cukup berikan senyuman saja nanti juga lelah dengan sendirinya.
"Aku mendengar nya Kak, Maafkan aku yang tidak bisa menghargai waktu" Ucap Avilia mengasal karena dia pun tidak tahu apa yang baru saja Clara katakan padanya. Karena Celotehannya terlalu merdu untuk didengarkan oleh telinga Avilia.
"Baiklah sebagai hukuman nya, Kau isikan rak-rak buku yang kosong itu dengan buku yang baru saja datang, dan pastikan juga jumlah nya balance nanti kau berikan berkas nya padaku. Mengerti!" Ucap Tegas Clara memerintah Avilia.
"Tapi, bukankah itu tugas Nya Kak Budi"
Heran Avilia, karena Avilia pun sudah mempunyai tugas nya yang harus segera dia selesaikan.
"Kau ini banyak bicara sekali. Budi sekarang tidak masuk, dia sedang sakit, Kau tidak mau membantu ku menyelesaikan tugasnya?" Ketus Clara sembari melipat kedua tangan nya didepan dada.
"Tidak, Aku hanya memastikan saja, Baiklah aku ke belakang dulu menyimpan tas ku" Ucap Avilia berlalu meninggalkan Clara yang masih berdiri ditempat nya sedari tadi.
.
.
.
.
.
.
.
.