
"Avilia sayang" Sapa hangat seorang lelaki itu,
"Avilia, maafkan aku. aku sungguh mencintaimu, Aku selalu merasa nyaman saat berada di sampingmu" Ucap lagi seorang lelaki itu.
"Jika kau memang sungguh Cinta padaku, kenapa kau lebih memilih dia sebagai pelabuhan terakhirmu?" Lirih Avilia diiringi tangis nya yang tertahan.
"Aku mempunyai alasan untuk itu Avilia, Walau memang dia tujuan terakhirku, Tapi hatiku tetap memilih kamu" Lirih lelaki itu, sembari tangannya menyentuh lembut pipi Avilia yang sedikit basah karena Air mata itu namun Avilia dengan cepat menepisnya.
"Semua nya sudah terlambat, Walau berapa banyak pun kau menjelaskan padaku, semua nya sudah tidak berarti apa-apa. Aku mohon, kau pergilah dari hadapanku selamanya, Luka yang kau goreskan terlalu dalam, hingga membutuhkan waktu yang lama untuk meng ikhlas kan mu, aku juga tidak bisa menyalahkan takdir, juga tidak bisa menyalahkan dirimu sepenuh nya, Setengah nya adalah salahku juga karena menyimpan harapan yang terlalu besar padamu" Kini tangis Avilia pecah.
"Avilia, semua bukan salahmu, Maafkan aku, maafkan aku. Aku sungguh mencintaimu, jika aku bisa mengubah garis takdir, aku lebih memilih untuk menghabiskan waktu denganmu disisa hidupku daripada hidup berlama-lama dengan orang yang tidak aku cinta."
"Kak, Kau pasti pernah mendengar bahwa Cinta itu akan tumbuh setelah pernikahan, aku percaya akan hal itu. Kau lihat dia, dia lebih membutuhkan mu daripada aku, dialah yang lebih dulu mencintaimu, bukan aku, bukankah kau lebih lama mengenal dia dari pada mengenalku. Aku yakin didalam hatimu itu tersimpan nama dia, satu yang perlu kau tahu, Kau mungkin bisa menipuku dengan berbagai kata cinta dan kata manismu, tapi kau pasti tidak pernah tahu bahwa perasaan wanita itu lebih peka, Walaupun kau bilang cinta padaku, tapi aku tahu bahwa kau sesungguhnya mencintai dia, kau bilang seperti itu hanya karena kau tidak ingin aku dimiliki oleh orang lain, Kau tidak rela jika aku berbahagia dengan orang lain, tapi apa kau pernah berpikir bagaimana rasanya mencintai orang yang seolah-olah sangat mencintaiku, tapi kenyataannya dia mencintai orang lain, Jangan Egois, dunia ini bukan hanya milikmu saja, Semua orang berhak berbahagia dengan siapapun. kau dengan dia, dan aku bersama pilihanku yang akan lebih pandai menghargai perasaan ku." Kini Avilia benar-benar merasa kacau, Semua kata-kata itu terucap begitu saja dari bibir tipis itu. Kata-kata yang sangat ingin sekali Avilia lontarkan kepada lelaki itu. Avilia tidak habis pikir, apa salah nya sampai-sampai Avilia mendapat perlakuan yang tidak adil baginya.
Dia sangat Kacau, sangat lemah, seperti kehilangan arah dan tujuan, Harapan itu, Harapan yang dia bangun dengan kepercayaan dan dengan rasa Cinta, namun dihancurkan begitu saja oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab, Hanya dengan kata "Maaf" itu tidak akan bisa menyatukan kembali kepercayaan yang telah dia bangun sendiri, dengan susah payah bangkit dari keterpurukan yang hampir membunuhnya secara perlahan. Apa kata "Maaf" itu hanya sekedar kata yang terucap, bukan dari hati yang benar-benar merasa bersalah.
Betapa mudah nya dia Membangun menara cinta itu dan betapa mudah nya lagi dia meruntuhkannya. Lalu dengan rasa yang tidak bersalah meminta untuk kembali, tanpa dia tahu ada rasa trauma yang mendalam, ada rasa hancur yang berbekas, entah kapan itu akan menghilang dengan sendirinya.
.
.
.
.
.
.
.