Trouble With the Past

Trouble With the Past
Episode 24



Pagi itu Avilia terbangun pukul 05.00 pagi, Biasanya dia sering sekali bangun kesiangan, tapi rasanya pagi ini begitu segar. Avilia mengerjapkan kedua matanya, sedangkan tangan nya sibuk mencari kacamata miliknya yang entah semalam dimana ia letakkan. Seketika Avilia merasakan celana nya sedikit basah, Dilihatnya membuat Avilia terlonjak kaget.


"Yaampun kenapa banyak sekali," Dengus Avilia, dan dengan cepat berlari ke kamar mandi.


Sudah hampir setengah jam dia berada didalam kamar mandi, Karena sekaligus mencuci pakaian miliknya, Memang Avilia Terkenal Mandiri, Pernah saat itu Sahabat nya Wilda menyuruh nya untuk mencuci pakaian nya di Laundry Tapi Avilia menolak nya, karena menurut dia "Itu pekerjaan yang Ringan, Jika aku masih bisa melakukannya, kenapa tidak" Ucap nya.


Jam sudah menunjukan Pukul 7.30 Avilia bergegas untuk pergi bekerja, Namun saat Avilia membuka pintu, seseorang tengah berdiri dihadapannya, hingga membuat Avilia sangat terkejut tidak bisa berkata apa-apa.


"A-Ayah," Lirih Avilia tidak percaya dengan apa yang tengah dilihat nya saat ini. Bagaimana tidak, Seseorang yang sangat ia rindukan tengah berada dihadapannya. Rasanya ia sangat ingin sekali menangis dihadapannya, namun rasanya begitu malu menangis dihadapan sosok yang lebih kuat darinya. matanya berkaca-kaca dan dengan cepat dirinya memeluk sosok sang ayah.


"Ayah sejak kapan berada disini?" Tanya Avilia sembari mengusap ujung matanya yang basah karena hampir ingin menangis.


"Baru saja ayah ingin mengetuk pintu, tapi kau sudah membuka nya terlebih dahulu, ikatan sang anak dan ayah memang sangat kuat" Ucap sang ayah diiringi tawa yang ringan.


"Masuklah ayah, aku siapkan minum untukmu,"


Ucap Avilia melemparkan senyum manisnya.


"Tidak usah nak, ayah datang hanya ingin memastikan keadaanmu saja, bagaimana kuliah dan kerja mu? Pasti sangat lelah untuk membagi waktu keduanya, Kau memang putri ayah yang sangat mandiri dan begitu kuat, ayah bangga padamu" Ucapan sang ayah entah mengapa membuat hati Avilia begitu teriris mendengar nya, entah itu rasa Sakit atau rasa terharu. yang jelas, Avilia begitu bahagia melihat sosok sang ayah begitu sehat dan bugar,


"Semua nya Lancar dan baik ayah, Bagaimana keadaanmu dan mamah?" Tanya Avilia seolah berat sekali rasanya untuk menanyakan hal itu.


"Ayah dan mamah sangat baik. Oh ya mamah menitipkan salam untukmu, dia bilang sering-sering lah berkunjung dan menginap disana, lebih baik lagi jika kau tinggal lagi bersama kami" Ucapan ayah terdengar begitu ikhlas. Tapi rasanya Avilia engga sekali untuk tinggal disana kembali.


Avilia sudah begitu nyaman dengan keadaan di kost an nya, terlebih lagi ia lebih menyukai ketenangan, dan lebih nyaman menyendiri. Dia sangat tidak suka akan keramaian apalagi dengan pertengkaran, itu membuat dirinya merasa terluka.


Terkadang Avilia merasa dunia ini sangat tidak adil untuk nya, Kenapa Tuhan begitu tega mematahkan semua yang aku punya. Keluarga ku dan hatiku, Tapi disisi lain Avilia Berpikir, "Mungkin tuhan sayang kepadaku sehingga dia memberikan cobaan yang begitu rumit, dia ingin melihat sampai mana aku bisa bertahan dan melewati nya, karena aku yakin dibalik rasa sakit yang aku dapatkan waktu itu mungkin dimasa depan tuhan sudah menyiapkan bahagia yang akan membuat aku lupa bahwa aku pernah terluka, aku harus terus percaya itu" Lirih nya.


"Nak, kenapa kau melamun? Apa kau sedang sakit?" Panggil sang ayah yang membuat Avilia sadar dari lamunan nya.


"Ti, Tidak ayah, aku baik-baik saja" Ucap Avilia sembari matanya melihat ke arah jam dinding yang berada disamping atas.


"Ayah, seperti nya aku sudah telat untuk bekerja" Lanjut nya.


"Yaampun, ayah lupa kau kan akan bekerja, maafkan ayah nak, mari ayah antar kau pergi ke tempat mu bekerja" Ucap sang ayah yang dibalas anggukan kepala oleh Avilia.


"Terimakasih ayah" Lirih Avilia.


.


.


.


.


.


.