
Kini mereka berdua pun tiba, Andrian mengantar kan Avilia ke tempat kost Avilia dengan mobil nya.
dari sebrang terlihat sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua yang tak lain ialah Rama.
Rama begitu penasaran, siapa lelaki yang mengantarkan Avilia pulang, saat hendak menemui orang itu, mobil Andrian kini sudah pergi terlebih dahulu.
"Avilia!" Sapa Rama.
"Kak Rama, ada apa?" Tanya Avilia yang akan memasuki kost an nya namun tidak jadi karena Rama kini sedang menemui nya.
"Ah itu Senior ku kak" Ucap Avilia kaku.
"Ohhh" Rama hanya membulatkan bibir nya.
"Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan? kalau tidak ada, aku akan masuk kedalam dulu" Kini Avilia merasa dirinya Lemas kembali.
"Tunggu, Avilia apa kau sakit? kenapa wajahmu pucat?" Rama terlihat begitu khawatir.
"Aku hanya tidak enak badan kak, besok pasti akan baik-baik saja" Ramah Avilia sembari menyunggingkan senyum nya.
"Baiklah, kalau begitu lekaslah membaik" Kata Rama sembari mengusap lembut kepala Avilia.
Sejujurnya Avilia tidak begitu menyukai jika ada laki-laki yang menyentuhnya. apalagi bagian sensitif nya, bagian kepala yang membuat Avilia merinding. Entah kenapa.
"Hmmm" Jawab Avilia berdehem sembari dengan pelan menyingkirkan tangan Rama dari kepalanya dan tersenyum kecut.
***
Pagi itu Avilia masih tertidur pulas, Kini terasa tubuhnya semakin lemas, Mata nya terasa Panas, Nafasnya sedikit sesak.
Terdengar dering ponsel yang terletak di bawah bantal, dengan malas Avilia membuka mata dan diraihnya ponsel tersebut, ketika melihat nama yang tertera dilayar ponsel itu dengan cepat Avilia menekan tombol hijau itu.
"Avilia sayang" sapa seseorang dari sebrang sana.
"dari semalam ibu kepikiran kamu nak, apa kau sedang sakit? suaramu terdengar serak" Khawatir sang ibu kepada anak sulung nya itu.
"Avilia hanya tidak enak badan, mungkin terlalu banyak beraktivitas"
"Kalau begitu kau jangan dulu bekerja yaa, istirahat kan dirimu nak, Luangkan waktu untuk beristirahat, dan jangan lupa vitamin mu diminum"
Bawel sang ibu karena merasa khawatir, disaat anak nya sedang sakit justru dia tidak ada disamping nya, bagaimana lagi, ucapnya.
"Iyaa ibu sayang, kebetulan hari ini adalah bagian Avilia libur bekerja" Ucap Avilia sembari tersenyum mendengar celotehan ibu nya itu membuat dirinya merasa lebih baik, paling tidak ibulah alasan dari semua kerja kerasku selama ini, pikir Avilia.
"Nak, kapan kau pulang? Adikmu selalu bertanya padaku, katanya dia merasa kesepian jika tidak ada kamu" Bisik sang ibu.
"Aku tidak tahu Bu, mungkin nanti akhir bulan aku akan mengambil cuti kuliah, dan apakah benar Erina merindukanku?" Avilia kini terlihat menahan tawa, bagaimana tidak saat Avilia pulang sang adik selalu saja mencari gara-gara kepada Avilia hingga membuat mereka bertengkar, Bertengkar namun hanya beberapa menit saja, dan disaat jauh dia malah merindukannya. Memang kelakuan Adik kakak selalu seperti itu. Avilia masih menahan tawanya.
"Erina ini kakakmu menelpon, apakah kau ingin berbicara padanya? bukankah kau bilang kau sangat merindukan nya?" teriak sang ibu kepada Erina karena dikala itu sang ibu sedang berada di ruang tamu dan Erina berada dikamar nya yang tidak jauh dari ruang tamu itu.
"Tidak, siapa yang merindukan kakak?" Ucap Erina sembari berjalan menuju sang ibu. dan mendudukkan tubuh nya disamping sang ibu.
"Benarkah? apa kau tidak merindukan ku? kalau begitu aku tidak akan pulang, Nanti saja tahun depan aku pulang yah Bu?" Canda Avilia disebrang telepon.
"Kenapa begitu? ibu kan sangat merindukan mu kak." Gumam Erina
"Tapi adikku itu tidak merindukan ku, Sedih sekali rasanya adikku satu-satunya malah tidak merindukanku, hiks" Canda Avilia lagi.
"Baiklah, Baiklah aku merindukan mu. aku berbicara seperti itu demi ibu, Cepatlah pulang" Gerutu Erina kepada sang kakak.
Namun sang kakak dan sang ibu hanya tertawa mendengar celotehan si bungsu itu.
Jangan lupa Like dan Coment yaa🤗
terimakasih 😊