Trouble With the Past

Trouble With the Past
Episode 22



Ruang Uks.


Avilia merasakan ada kehangatan saat itu, Seseorang dengan erat menggenggam tangannya.


Seketika itu ia mengerjapkan kedua matanya, dilihat sekeliling, ruangan yang ber cat serba putih, di Sebelah kanan terlihat Sahabat nya yang melemparkan senyuman padanya, disamping nya terlihat Alvin yang tengah merangkul bahu Wilda.


Di bagian kiri Avilia terlihat seseorang yang dengan erat menggenggam jemarinya yang tadinya terasa dingin hingga sekarang merasa kehangatan dan kenyamanan berada disana.


"Avilia, bagaimana keadaanmu?" Tanya Wilda sahabat Avilia,


"Tenang saja perawat bilang, kau hanya kurang istirahat hingga membuat perut mu terasa nyeri tidak seperti biasanya pada saat datang bulan, dan kau juga kekurangan cairan, Pesan perawat tadi kau harus banyak minum air putih" Jelas Wilda sembari mengusap bahu Avilia.


Avilia hanya tersenyum membalas ucapan Sahabatnya tersebut.


"Sayang, ayoo kita keluar, biarkan Avilia istirahat ditemani Andrian" Ucap Alvin yang merangkul bahu Wilda kemudian dengan segera meninggal kan Avilia dan Andrian berdua di ruang UKS.


"Dasar keras kepala!" Ucap Andrian tiba-tiba hingga membuat Avilia melirik tajam kearahnya.


"Kau bicara padaku?" Tanya Avilia yang merasa geram dengan ucapan Andrian.


"Tidak, aku bicara pada tembok itu" Ucap Andrian memalingkan pandangan nya.


"Kak Andrian, Aku baik-baik saja, kenapa kau sampai sekarang masih saja menggenggam tangan ku" Goda Avilia yang menyadari bahwa sejak dari tadi Andrian terus menggenggam tangannya. Seketika Andrian dengan cepat melepas kan genggaman nya. Hingga membuat Avilia Tertawa melihat tingkah nya.


"Kenapa kau tertawa? Apa yang lucu?" Tanya Andrian gugup dan terheran-heran melihat Avilia tertawa.


"Jika boleh jujur aku gemas melihat wajahmu yang memerah itu kak Andrian" Ledek Avilia kembali yang membuat Andrian segera memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


Tiba-tiba terlihat senyum usil dibibir Avilia.


"Awww,, Sakittt, kak Andrian Perut ku sakit sekali" Teriak Avilia yang membuat Andrian terkejut dan terlihat wajah nya kembali panik.


"Apa kau merasa sakit lagi? Apa sangat sakit? Aku panggilkan perawat sebentar" Ucap Andrian dengan nada Khawatir nya. Namun Avilia yang melihat nya langsung tertawa dengan puas nya.


"Avilia! Kau mengerjaiku?" Ucap Andrian yang menahan gegeraman nya.


"Kau lucu sekali, apa kau begitu khawatir nya padaku huh?" Ucap Avilia diiringi tawanya yang kini membuat mata nya sampai berair.


"Memang nya kenapa jika aku khawatir padamu? Hmm" Kini berganti Andrian yang mulai mengerjai Avilia. Andrian membungkukan tubuh nya mendekat kan wajah nya pada wajah Avilia, Jemari nya dengan usil mengelus-elus lembut pipi Avilia yang agak tirus. Avilia yang merasakan sentuhan Andrian kini dirinya merasa begidik merinding,


"Aku mau kamu" Lirih Andrian dengan suara beratnya, yang semakin membuat Avilia merinding mendengarnya. Namun saat Andrian memiringkan wajah nya Avilia dengan cepat menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Menjauh dariku" Ucap Avilia tegas. Terdengar gelak tawa Andrian yang begitu renyah, hingga membuat Avilia terheran-heran melihat nya.


"Haha, Avilia tenang saja, aku tidak akan berani berbuat macam-macam pada wanita jika belum menikahinya, apalagi padamu" Ucap Andrian melemparkan senyuman nya. Yang membuat Avilia terpana melihat nya.


"Sudah puas menatapku? Hmm" Ledek Andrian sembari menyodorkan sebotol jamu yang tadi ia beli.


"Ini minumlah, Supaya kau tidak merasakan sakit seperti tadi lagi" Ucap Andrian.


"Tapi kak, aku tidak suka bau nya" Ucap Avilia memelas, memohon agar Andrian tidak memaksa ia untuk meminum nya.


"Kenapa? Baunya tidak akan membunuhmu, Kau minum lah tutup hidung mu saat meminum nya"


Avilia pun menyerah, percuma memohon beribu kali pun, Andrian tidak akan pernah kalah darinya.


"Baiklah aku akan meminum nya, dasar kau tukang memaksa orang" Ketus Avilia seraya mengambil kasar botol jamu itu dari tangan Andrian. Perlahan ia menutup mata nya dan menutup hidung nya, dalam sekali tegukan jamu itu langsung habis diminum nya.


Avilia sungguh-sungguh ingin sekali memuntahkannya, rasanya begitu mual mencium bau nya. Jika bukan karena Andrian yang memaksa nya sampai kapan pun dia tidak ingin meminum nya.


"Anak pintar" Ledek Andrian sembari mengusap kepala Avilia, Terlihat Avilia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, ia bersusah payah menelan jamu itu agar tidak dimuntahkannya, lalu dengan berat hati Avilia menelan nya sembari menutup matanya rapat - rapat hingga membuat Andrian yang melihatnya tertawa begitu girang.


"Puas kau!" Ketus Avilia menatap tajam Andrian. Namun Andrian hanya membalasnya dengan melemparkan senyuman nya.


.


.


.


.


.


.


Minta like dan Vote nya yah kakah" keceh;)