
Perjalanan untuk menuju stasiun tujuan Avilia membutuhkan waktu 2 jam lamanya.
Mata Avilia kini terlihat mengantuk, ingin memejamkan matanya, namun pikiran nya was-was akan Andrian yang duduk disebelah nya.
Andrian merasakan apa yang Avilia sembunyikan.
"Kau jika ingin tidur, tidur saja, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu, lagipula ini tempat umum mana berani aku mengapa-apa kan mu" Andrian terkekeh melihat Ekspresi Avilia.
"Jadi jika ini tempat sepi kau akan berbuat macam-macam padaku?" Seketika Avilia sedikit menjauhkan tubuh nya.
"Tergantung" Ucap Andrian mengeluarkan seringai nakal nya.
"Tergantung apa?" Avilia mengernyitkan kening nya.
"Tergantung bagaimana dirimu bersikap" mata Andrian lekat menatap Avilia. Ekspresi Avilia terlihat begitu khawatir dan takut akan perkataan Andrian. Hingga membuat Andrian tertawa terbahak-bahak.
Avilia semakin mengernyit heran melihat Andrian yang tiba-tiba tertawa dengan puas nya.
"Kau ini kenapa tidak bisa diajak bercanda Hah?" Andrian terkekeh sembari menggelengkan kepalanya.
"Dasar kau ini! Lagipula Ekspresi mu seperti sedang serius begitu, jadi mana ku tahu kalau kau sedang bercanda" Dengus Avilia merasa kesal kepada lelaki itu.
~~
Setelah satu jam diperjalanan, Avilia tertidur dengan Nyenyak nya, begitupun dengan Andrian. Bahkan Avilia tidak menyadari bahwa kini kepala nya tersandar pada bahu kekar milik lelaki yang duduk disamping nya itu. Mereka berdua saling bergelut dengan mimpi nya masing-masing.
~~
Andrian merasakan bahu sebelah kanan nya menahan beban yang berat. Mata nya mengerjap dan tatapan beralih ke kanan menatap wanita yang saat ini sedang tertidur dengan lelap nya, bahkan kepala nya tersandar pada bahu milik nya. Sekilas membuat Andrian menyunggingkan senyum nya.
Perlahan ia mengangkat sebelah tangan kiri nya, diletakkan nya diatas kepala Avilia kemudian dengan lembut mengelus rambut sebahu yang terurai itu, sedikit menghalangi pemandangan yang jarang sekali Andrian lihat.
Avilia seolah merasakan ada sentuhan lembut dikepalanya hingga membuat dirinya terusik kemudian mengerjapkan kedua matanya. Andrian yang mengetahui itu dengan segera menutup mata nya kembali, berpura-pura tidur lebih tepat nya wkwk.
Avilia seketika menyadari sesuatu, bahwa sejak dia tidur dengan tidak sengaja kepalanya tersandar pada bahu kekar lelaki yang menurut nya menyebalkan itu.
"Nyaman sekali tidur dibahu ku" Seketika suara Andrian membuat Avilia terkejut hingga membuat dirinya sedikit khawatir.
"Apakah Andrian sudah bangun sedari tadi? ****** aku" Batin Avilia kembali meringis.
"Tidak apa-apa, bahu ku memang sangat nyaman bukan? Bahkan sampai satu jam lamanya kau tidak mengubah posisi mu agar memindahkan kepala mu yang berat itu" Andrian terkekeh, mengejek Avilia hingga membuat wajah Avilia merah padam karena nya.
"Menyebalkan!" Dengus Avilia.
~~
Kini mereka berdua sudah tiba di stasiun tujuan Avilia. Ia memakai tas ransel nya yang lumayan berat baginya, membuat Andrian lelaki itu tidak tega melihat Avilia sehingga dengan memaksa ia mengambil tas ransel itu dari Avilia dan segera memakai nya.
"Tidak usah, biar aku saja yang membawanya" Avilia ingin mengambil alih tas ransel milik nya itu namun Andrian malah melarang nya.
"Itu sangat berat Kak, Tujuan kita masih sangat jauh, kita harus menaiki angkutan umum terlebih dahulu untuk sampai di rumah ku" Suara Avilia sedikit melunak. Hingga membuat Andrian yang mendengarnya begitu terenyuh. Baru pertama kali nya ia mendengar suara Avilia yang lembut dan Anggun itu, karena selama ini yang ia dengar adalah suara yang membuat kuping nya sakit mendengar setiap Kata yang keluar dari mulut wanita itu.
"Berapa lama kita menaiki angkutan umum?" Tanya Andrian sembari kaki nya berjalan mengajak nya untuk keluar dari stasiun kereta tersebut.
"Sekitar satu jam, tergantung lalu lintas nya, jika lalu lintas nya macet akan memakan waktu satu setengah jam lamanya" jelas Avilia. Andrian hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
.
.
.
.
.
.
Up lagiš Jangan lupa tinggalkan jejak kalianā¤ļø