
Telepon yang Andrian tuju pun terhubung. Tendengar suara perempuan dari seberang sana.
"Halo, Avilia ini aku Andrian, kau dimana sekarang?" Tanya Andrian, suara nya terdengar begitu tergesa-gesa. Hingga membuat Avilia mengernyitkan dahi nya.
"Aku di stasiun kereta yang berada dekat dengan kos an ku. Ada apa?" Tanya Avilia diseberang sana.
"Jika kereta yang kau tunggu sudah tiba, jangan menaiki nya. Aku segera menuju kesana" Ucap Andrian mematikan telepon nya.
"Apa? Dia akan menyusulku kesini? Ada apa dengan nya tiba-tiba bersikap seperti itu" Avilia merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan Andrian. Bahkan dia menghiraukan ucapan Andrian.
~~
Kini Andrian sudah tiba di stasiun kereta yang diberitahukan oleh Avilia. Ia berjalan dengan cepat, sedikit berlari. Bahkan membuat berbagai pasang mata memperhatikan nya dengan tanda tanya. Namun Andrian tidak memperdulikan mereka semua. Yang ia fokus kan saat itu hanyalah Avilia.
Kereta yang Avilia tunggu sudah tiba, mata Avilia menatap ke kanan dan ke kiri. Ingin menaiki kereta tersebut namun Ia merasa Ragu.
"Tapi jika menunggu kereta yang selanjutnya aku harus menunggu sekitar setengah jam lagi" Dengus Avilia. Ia pun tidak memperdulikan ucapan Andrian yang memerintahkan nya agar tidak menaiki kereta itu.
Avilia memasuki kereta itu, kedua kaki nya membawa dirinya berjalan menyusuri lorong kereta untuk mencari kursi yang kosong, ketika mata nya sudah mendapati kursi kosong tersebut dengan segera ia mendudukan tubuh nya. Meregangkan punggung untuk disandarkan dikursi tersebut.
"Bukan hanya dikampus atau di tempat kerja ku, bahkan ditempat lain pun dia senang sekali mengaturku, memang nya dia pikir dia siapa? Seenak nya saja menyuruh ku ini dan itu. Menyebalkan!" Gerutu Avilia, mata nya tertuju kepada luar jendela.
"Siapa yang menyebalkan?" Suara itu seketika membuat Avilia terlonjak kaget. Suara yang tak asing bagi nya, seketika membuat Mata Avilia teralihkan menatap lekat siapa pemilik suara itu. Dan benar saja, dugaan nya tidak salah lagi bahwa yang mempunyai suara khas dingin itu adalah Andrian.
Andrian terlihat berdiri menatap Avilia dengan kesal. Sedangkan Avilia masih menatap Lelaki itu, membuat dirinya tidak menyangka bahwa lelaki itu kini berada di hadapan nya.
"Kenapa kau diam?" Tanya Andrian, kini ia mulai mendudukan tubuh nya disamping Avilia.
"Siapa yang menyebalkan? Hmm" Andrian masih tak berhenti mendesak Avilia untuk menjawab, karena sedari tadi Avilia masih saja tak menjawab pertanyaan nya.
"Sudah menatap nya? Aku mengira kau benar-benar akan jatuh cinta padaku" Seringai licik itu terlihat diwajah Tampan Andrian.
Saat menyadari akan ucapan Andrian, seketika Avilia dengan cepat mengalihkan tatapannya.
"Percaya diri sekali!" Ucap nya ketus.
"Menemani dirimu" Jawab Andrian menatap Avilia yang saat ini duduk disamping nya.
"Untuk apa menemaniku?" Masih dengan nada yang ketus Avilia bertanya.
"Supaya tidak ada pria lain yang mendekati dan menggodamu" Jawaban Andrian membuat pipi Avilia seketika bersemu merah.
"Tolong jangan seperti ini, sikap mu malah mengingatkan aku padanya" Gumam Avilia dalam hatinya, Ekspresi Avilia seketika saja berubah menjadi datar.
"Jadi kita mau kemana?" Tanya Andrian, menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi didalam kereta tersebut.
"Ke rumah orang tua ku, kau yakin ingin ikut bersama ku? Rumah ku itu di kampung, sedangkan kau terbiasa tinggal di kota, aku tidak yakin kau akan betah disana untuk beberapa hari ini" Avilia terkekeh.
"Kau jangan pandang aku sebelah mata, aku juga dulu dilahirkan dikampung. Ibu ku adalah seorang gadis desa yang tinggal dikampung, sedangkan Ayah ku tinggal di kota, dan sekarang mereka berdua menikah dan terlahirlah aku. Jadi kau jangan mengira Orang kota seperti ku tidak akan betah tinggal dikampung. Aku akan suka tinggal disana selagi bersama mu" Lagi-lagi ucapan Andrian membuat pipi Avilia bersemu merah. Rasanya ingin sekali Avilia melempar lelaki itu keluar supaya tidak membuatnya salah tingkah seperti ini.
"Benarkah? Jadi kau pernah tinggal dikampung?" Tanya Avilia, kini dirinya memberanikan diri untuk menatap Andrian.
"Bukan pernah, tetapi sering. Setiap liburan sekolah aku sering dibawa ke kampung dimana ibuku tinggal, dan aku menyukai itu, bahkan membuat aku tidak ingin kembali lagi ke kota. Karena aku sangat menyukai keterangan, aku tidak menyukai kebisingan. Menurutku disana Aku mendapatkan semua itu, ketenangan dan kedamaian" Jelas Andrian dengan panjang lebar. Avilia menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Sama sepertiku, dia juga tidak menyukai kebisingan" Gumam Avilia.
.
.
.
.
.
Halo, akhirnya Up lagi😍 Jangan lupa Like dan Vote nya ya manteman😊🤗