
Kini Andrian membawa Avilia ke sebuah taman disana terdapat Danau yang begitu luas, di sekitaran danau terlihat beberapa perahu yang berbentuk bebek, angsa, hingga yang berbentuk mobil. di area taman terdapat banyak permainan anak-anak, bukan hanya anak-anak tapi orang dewasa juga bisa menaiki nya seperti Ayunan, hingga jungkat jungkit. Lalu terdapat Rumah Makan Khas Sunda yang berada di pertengahan danau.
Avilia terheran-heran juga terkagum-kagum melihat pemandangan sekitar, Banyak nya pohon-pohon hijau yang membuat suasana yang awalnya begitu terik akibat panasnya matahari hingga terasa begitu sedikit sejuk, dengan senang nya ia melihat gelombang-gelombang air di atas danau berair hijau itu. Melihat betapa asyik nya pasangan muda yang menaiki perahu yang berbentuk angsa itu,
Andrian mengajak Avilia untuk mendudukkan tubuh nya di sebuah kursi besi panjang yang terletak dibawah pohon besar dan menghadap ke arah danau.
Avilia masih tidak berpaling pada pandangan nya sehingga pandangan nya kini tertuju kepada pasangan muda yang tengah menggendong seorang bayi yang sangat lucu, Avilia sangat menyukai seorang bayi. bahkan terkadang ia selalu berpikiran bagaimana nantinya jika dia mempunyai seorang bayi yang imut dan lucu. sangat menggemaskan.
Andrian menatap Avilia, ia sadar bahwa Avilia tengah memandang pasangan muda sedang menggendong seorang bayi yang menggemaskan.
"Apa kau ingin segera mempunyai seorang bayi?" Tanya Andrian kepada Avilia. Tetapi Avilia masih tidak berpaling dari pandangan nya itu.
"Iyaa" tanpa sadar Avilia refleks mengangguk an kepalanya, hingga ia tersadar pada pertanyaan Andrian barusan.
"Hah! kau tadi bilang apa?" Tanya Avilia terkaget dan tersipu menahan malu dihadapan Andrian.
"Aku bilang, apa kau ingin mempunyai seorang bayi?" Ucap kembali Andrian.
"Ma.Mana mungkin, menikah saja belum" Jawab Avilia gugup, entah mengapa dia merasa hatinya begitu berdebar mendengar Andrian bertanya seperti itu.
"Kenapa muka mu jadi merah seperti itu," Ucap Andrian menahan tawanya.
"A, Aku.. Aku belum berpikir sejauh itu" Jawab Avilia gugup.
"memang nya umur mu berapa?" tanya Andrian masih terus menatap lekat Avilia yang tidak memandang nya.
"dua puluh satu" Lirih Avilia.
"Heyy, umur mu sudah terbilang cukup untuk menikah, Kau lihat pasangan muda yang menggendong seorang bayi itu, perkiraan ku wanita itu berumur 20 tahun dan lelaki itu 26 tahun tapi mereka sudah mempunyai buah hati, Apa kau tidak ingin seperti mereka?" Tanya Andrian dengan mencengkeram kedua pundak Avilia, kini tatapan mereka bertemu.
Mata sayu itu, Terlihat seperti menyimpan begitu banyak beban disana, Andrian tidak tega melihat Avilia dan dengan segera melepaskan cengkeramannya.
"Aku,, Aku mempunyai alasan sendiri" Lirih Avilia yang langsung menundukkan kepalanya.
Kini kedua nya Terdiam, begitu ramai disana tetapi diantara kedua nya terasa begitu sepi. Avilia menyadari Suasana itu yang begitu sunyi bagi mereka berdua.
"Kak Andrian, Apa yang tadi di restoran itu Pacarmu?" Tanya Avilia memecah keheningan yang mereka ciptakan tadi.
"Tepatnya Mantan Pacarku," Lirih Andrian menatap lurus danau yang berada dihadapannya itu, tangannya usil mengambil sebuah batu kecil di tanah berumput hijau yang ia pijaki lalu melemparkannya ke danau dengan sekuat tenaga sehingga menghasilkan gelombang kecil Disana, Avilia menatap Andrian yang terlihat tengah memendam kekecewaan yang begitu dalam. Dia sama sekali tidak berani untuk bertanya lagi,
"Pasti mood nya sangat Kacau, aku tidak berani bertanya, Mungkin lebih baik aku menunggu dia untuk menceritakannya sendiri tanpa diminta" Lirih Avilia bercengkrama dengan hatinya.