
"Dia itu mantan kekasihku, Aku sudah menjalin hubungan dengan dia sekitar 5 tahun, hubungan kita baik-baik saja sebelum akhirnya aku pergi ke luar negri karena tuntutan dari orang tua ku untuk belajar disana. Tapi setelah lama diluar negri akhir" itu sikap nya berbeda dari biasanya, dan aku mendapat kabar dari Alvin bahwa dia sedang berkencan dengan pria lain, awalnya aku tidak percaya, tetapi setelah Alvin memberikan bukti nya padaku, aku sedikit muak dengan wanita itu, bagaimana bisa 5 tahun lamanya dengan mudah dia berselingkuh di belakang ku." Jelas Andrian menutup wajah nya dengan kedua telapak tangannya, Avilia merasa kasihan melihat Andrian dia mengerti dengan apa yang Andrian alami, bahkan bukan hanya dia saja yg mempunyai masa lalu yang begitu pahit. Andrian juga merasakannya.
"Tenanglah, Kau harusnya bahagia bahwa Tuhan memperlihatkan bagaimana tidak baik nya mantan kekasihmu itu, Kau harusnya bersyukur sudah dijauhkan dari orang sepertinya, Yakin saja Tuhan sudah menyiapkan yang terbaik untukmu, kelak kau akan lupa bagaimana sakitnya masalalu mu karena bahagia nya masa depan mu" Ucap Avilia menenangkan Andrian dan mengusap punggung kekar milik Andrian,
Andrian tersentak dengan ucapan Avilia, terdengar begitu dewasa, bagaimana bisa dia yang umur nya lebih tua dari Avilia tapi pemikiran nya kalah dewasa dari Avilia. Andrian menatap lekat mata sayu itu.
"Kenapa? Kau heran aku bisa mengucapkan kata-kata seperti itu? Kak Andrian kau harusnya tahu terkadang Luka lah yang mendewasakan kita" Avilia Memperlihatkan senyum manis nya pada Andrian, tapi Andrian tetap tidak bergeming menatap Avilia.
"Heyy, Kau terpesona yaa padaku? Menatap ku sampai segitu nya, dari pada kau terus nge galau lebik baik kita naik perahu bebek di danau itu" Avilia tertawa dengan renyah, lalu bangkit dari duduk nya.
Andrian hanya menatap punggung Avilia yang tengah berjalan menjauh darinya, lalu menoleh menatap Andrian, "sampai kapan kau akan duduk disitu dan terus menatapku seperti itu, bagaimana jika kau terpesona olehku dan jatuh cinta padaku? Bisa repot aku" Canda Avilia diiringi tawa nya yang meledek
Terlihat seringai licik dari sudut bibir Andrian, dengan cepat dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Avilia, mendekat hingga membuat Avilia terkejut,
"Apa aku begitu terbawa suasana sampai-sampai tidak menyadari kak Andrian berdiri dan begitu dekat denganku" Lirih hati Avilia
Avilia berjalan mundur tetapi Andrian semakin mendekat, hingga Avilia tidak sadar bahwa dia sudah bersandar pada sebuah pohon besar. Kemudian Andrian mendekat kan wajahnya pada Avilia hingga jarak wajah antara kedua nya hanya terhalang beberapa senti saja.
Goda Andrian lalu menyentuh lembut hidung mancung nya Avilia,
"Kak, Kak Andrian, apa yang ingin kau lakukan? ini tempat umum kak," Ucap Avilia dengan gugup nya dan jantung yang berdebar dengan hebat nya.
"Lalu mengapa jika ini tempat umum? Apa kau ingin aku melakukan sesuatu ditempat yang sepi?" Kini Bibir Andrian berada didekat telinga Avilia hingga nafasnya membuat Avilia begitu merinding.
"Kak, Jauhkan wajahmu dariku, atau."
"Atau apa?" belum sempat Avilia menyelesaikan ucapannya Andrian memotong nya dan segera menjauhkan tubuh nya dari Avilia lalu bergegas pergi meninggalkan Avilia yang masih menganga melihat sikap Andrian yang tiba-tiba berubah ketus.
"Bukankah tadi kau mengajak ku untuk menaiki perahu bebek itu? kenapa kau malah diam saja" Teriak Andrian Yang membuat Avilia sedikit geram,
"Aku diam gini karena sikapmu barusan!" Gerutu Avilia yang sedikit terdengar oleh Andrian. Dengan Cepat Avilia berjalan mendahului Andrian,
"Gemas sekali," Ucap Andrian menahan tawanya.