Tokyo Revengers: Why Me?

Tokyo Revengers: Why Me?
Bagian 7



...Rindou x Reader...


...Karakter milik Ken Wakui...


...----------------...


Kejadian tadi membuatnya tak percaya, Koko yang melihat dengan mata kepalanya sendiri hanya bisa terdiam setelah diobati oleh Sanzu karena luka-luka dari pecahan kaca.


"oi.. kau kenapa?" tanya Sanzu pada Koko yang bersandar dikursi kerjanya sambil melihat-lihat kelangit ruangannya.


"Sanzu, apa kau percaya dengan hal mistis? "


Sanzu menaikkan alisnya, dia tak paham dengan dengan kata-kata Koko.


"entahlah." Ucap Sanzu mengedikkan bahu.


"awalnya aku tidak pernah percaya dengan hal seperti itu, tapi setelah melihat kejadian tadi sungguh membuatku merinding." ucap Koko tersenyum miris.


"ya, mungkin kalau aku yang melihat juga akan kaget. Tapi aku gak peduli sih! mati ya mati saja."


Koko memandang lukisan kuno yang kini ditutup dengan kain dengan segel mantra yang [name] berikan.


Flashback


[name] menceritakan kejadian tadi kepada Mikey beserta eksekutif lainnya berkumpul di aula biasa mereka berkumpul. Mereka sungguh terkejut terutama [name] menyebutkan nama seseorang yang terlibat yaitu Kurokawa Izana.


Atas izin Izana, [name] menceritakan tentang diri Izana selama ini yang selalu mengawasi Mikey beserta mantan rekannya. Ekspresi Mikey saat itu tak dapat dijelaskan, dia hanya menunduk tanpa berekspresi. Bahkan Kakucho tersenyum miris ketika rajanya tidak mendapat ketenangan.


kembali ke masalah Rindou, [name] sedang diobati oleh Ran di ruangannya, dia hanya bisa meringis karena perih akibat luka pecahan kaca tadi.


"Terima kasih sudah mau membantu adikku."


"tidak apa-apa Ran-san, ini sudah menjadi tugasku."


"padahal aku seorang kriminal, tetapi malah dibantu olehmu yang bisa saja sewaktu-waktu bisa ku bunuh."


"ya mau bagaimana lagi, Ran-san. Aku memang sudah terlibat dan tidak bisa mundur."


Rindou dan Izana yang mendengar percakapan itu, membuat diri keduanya merasa lemah tidak berdaya. Rindou berpikir jika musuhnya adalah manusia mungkin Rindou mampu mengalahkan nya dengan segala cara, tetapi yang dihadapinya saat ini adalah sosok roh jahat dan itu bukan kapasitas dirinya untuk bisa melawan. sedangkan Izana sendiri merasa dirinya bukanlah sosok yang kuat, dia hanya jiwa tersesat yang tidak dapat tenang karena hukuman dari Tuhan.


Datanglah Takeomi keruangan Ran, dia melihat kondisi gadis itu. Bagaimanapun, Takeomi merasa bertanggungjawab atas insiden yang menimpa gadis yang tidak ada urusannya dengan organisasi ini. Dia merasa kasian pada [name] yang mengingatkan dirinya pada adik perempuan nya.


"apakah kau baik-baik saja, nona."


"aku baik, hanya luka goresan saja."


namun pandangan Takeomi tertuju pada leher [name] yang terdapat bekas telapak tangan di lehernya.


"Ran, tutupi bekas cekikan itu agar orang lain tak curiga pada kita."


"tidak, biar aku saja yang melakukannya." ucap [name] yang menahan tangan Ran.


"baiklah." ucap Ran.


Ran memberikan perbannya dan [name] meminta Ran untuk mengambilkan cermin. [name] membalut sendiri bekas cekikan itu, Rindou hanya memperhatikan setiap gerak gerik gadis itu.


Rindou memikirkan dirinyalah yang membalutkan perban itu sambil berhadap-hadapan dengan [name]. kemudian dia tepis, dan kini wajahnya memerah, ditutupi oleh telapak tangannya.


"sial apa yang aku pikirkan!" gumam Rindou.


Izana yang melihatnya tersenyum dengan tingkah Rindou yang sudah dia duga Rindou menyukai gadis itu.


setelah [name] selesai, [name] kembali duduk di kursi ruangan Ran bersama Takeomi.


"Ran-san, ehm.. bisakah kau sampaikan sesuatu pada Koko-san?"


"ya, boleh. Apa itu?"


"Tolong sampaikan padanya, tolong lukisan itu tutupi oleh kain dan tempelkan kertas mantra ini dilukisan itu." ucap [name] memberikan kertas mantra yang dia ambil dari tas kecilnya.


"baiklah, aku akan sampaikan pada Koko."


"oh ya satu lagi, bolehkah temanku melihat lukisan itu secara langsung?"


"huh! baiklah, aku akan katakan itu pada Koko. Jika dia mengizinkan aku akan membawakannya untukmu."


"Terima kasih." ucap [name].


Flashback End


...****************...


[name] sadar akan perubahan Rindou yang menghindarinya, dia sangat sedih. hatinya sakit, tetapi dia tak menunjukkannya dan lebih memilih bersikap biasa dengan menyibukkan diri.


[name] yang bekerja di gudang supermarket saat ini, kini ditemani Izana. padahal [name] menyuruh Izana pergi dan tidak mengganggu dirinya saat bekerja. Tapi siapa yang peduli, toh pikir Izana dia tidak terlihat. sampai akhirnya Izana membuka suara.


"kau menyukai Rindou kan? "


[name] yang mengangkat barang terhenti. pikirannya kalut, entah harus menjawab apa.


"diam, berarti iya." ucap Izana lagi yang menopang dagu.


[name] hanya bisa berpura-pura menyibukkan diri dengan mengabaikan Izana yang terus bicara.


"aku sarankan, seharusnya kalian saling jujur sebelum datang penyesalan."


Izana berdiri "karena hidup itu sekali, walaupun urusan cinta itu sulit dimengerti." kemudian menghilang.


[name] hanya bisa duduk termenung, dia tak habis pikir bisa menyukai Haitani Rindou yang notabene nya merupakan seorang kriminal yang saat ini menjadi client nya.


waktu menunjukkan tengah malam, waktunya [name] pulang bekerja. saat sampai di apartemennya, dia tidak melihat siapapun. Biasanya dia akan melihat Rindou yang duduk lesehan dilantai sambil menopang dagu.


[name] menghela nafas, dia harus terbiasa dan kembali ke awal lagi saat dia tinggal sendiri di apartemennya. [name] pun membersihkan diri dan bersiap untuk tidur karena besok ada ujian semester pukul 9 pagi.


Tak lama, Rindou kembali ke apartemen [name]. Dia melihat [name] sudah tidur pulas dikasurnya, Rindou mengelus rambut gadis itu dengan penuh sayang.


"aku benar-benar menyukaimu tapi aku tak tahu harus berbuat apa." senyumnya miris.


...****************...


pagi pun tiba, [name] bersiap kuliah. Saat akan pamit, dia teringat Rindou tidak ada karena menghindarinya. Jadi dia memutuskan untuk pergi saja tanpa mengatakan apapun.


Rindou, termenung di rooftop rumah sakit. Dia berfikir apakah ini sudah benar dengan menghindari [name] selama berhari-hari. tapi ketika melihat [name] terlihat sikapnya biasa saja, hatinya meragu. apakah [name] tidak menyukai dirinya? pikirnya begitu. Tetapi jika dia diam saja dan mengabaikan [name] rasanya itu bukanlah hal gentle bagi dirinya. jadi Rindou memutuskan untuk bersikap seperti biasa terhadap [name], soalnya dia harus focus penyelamatan dirinya sendiri.


Izana selalu memperhatikan dua sejoli itu. Dia hanya bisa menghela nafas, pikirnya mereka ini adalah pasangan bodoh, pikirnya lagi apa susahnya tinggal bilang saling suka tanpa harus saling menyakiti satu sama lain. Andai saja Rindou bisa melihat dirinya, sudah Izana pastikan akan memerintahkan Rindou untuk mengatakannya secara langsung. kemudian dia baru teringat temannya [name] yang bernama Ruki, Izana akan menemui orang itu sekedar untuk menceritakan apa yang terjadi pada [name] dan Rindou.


"hahaha... " Ruki tertawa ketika mendengar cerita Izana menceritakan kisah cinta temannya, [name]. ya, Izana saat ini ada ditempat Ruki untuk mendengar pendapatnya.


"apa kau tidak akan bilang sesuatu pada [name]."


Ruki berfikir, pasalnya gadis itu terlalu bodoh dalam urusan cinta.


"ya nanti aku akan menceramahi nya sih, agar dia sadar dengan perasaan nya."


Izana bisa bernafas lega.


"oh ya, bagaimana lukisan itu." tanya Ruki


"[name] sudah menempelkan kertas mantra dilukisan itu. saat ini belum menunjukkan tanda-tanda apapun dilukisan itu." jawab Izana.


"sebenarnya, kita harus segera mensucikan dan menyegel roh jahat itu sebelum roh jahat itu makin kuat dan mengambil jiwa Rindou-san." kata Ruki sambil menyapu dedaunan di kuilnya.


"nanti aku akan sampaikan pada [name], biar dia mempercepat proses itu."


"ok, jangan lupa katakan padanya. sebaiknya lukisan itu bawalah ketempatku. setidaknya saat melakukan penyucian dan menyegel roh jahat itu tidak ada kekacauan pada orang awam yang ada disekitar."


"baik. aku pergi dulu, Ruki."


Ruki mengangguk dan tersenyum ketika Izana berpamitan.


[name] baru saja pulang kuliah, dia begitu lelah karena selesai ujian semeter. saat membuka pintu, dirinya melihat Rindou yang sedang tiduran dikasur [name]. [name] merasa canggung ketika akan menyapanya, jadi dia urungkan.


"kau sudah pulang? "


"ah.. iya." jawab [name] yang menggaruk pelipisnya.


[name] merapikan buku-buku kuliahnya.


"[name], setelah aku kembali ke tubuhku. Bolehkan aku menemui?"


[name] berhenti merapikan, dia tidak tahu harus berkata apa. [name] tidak bisa menarik perjanjiannya dengan Mikey.


"ah sudahlah lupakan, anggap saja aku tidak bicara apa-apa." ucap Rindou lagi sambil berbalik badan.


[name] hanya bisa mengeratkan tangannya pada buku yang dipegangnya dan dia tersenyum miris.


......................


[03-03-2022]