Tokyo Revengers: Why Me?

Tokyo Revengers: Why Me?
Book 2 Bagian 4



Rindou x Reader


Karakter milik Ken Wakui


......................


"Sa.. Sanzu-san? Kau disini. "


"Ya, kebetulan sekali ya kita bertemu. " Ucap Sanzu sambil senyum misterius.


"Apa benar kebetulan? " Batin [name] sedikit curiga.


[Name] buang jauh pikiran negatif nya dan berusaha mencoba berfikir positif saja, dia hanya bisa menanggapi Sanzu dengan senyuman saja sebagai basa basi.


"Aku tak menyangka kau akan jadi kekasih dengan Rin. " Ucap Sanzu yang santai.


"Ya aku juga tak menyangka. " Ujar [name] yang sebenarnya sudah malas menanggapi Sanzu disamping nya.


"Kau masih marah padaku soal kemarin? " Ucap Sanzu.


"Kau pikir saja sendiri Sanzu-san.  Padahal aku berniat baik padamu tapi kau sendiri yang membuatku marah." Ketus [name] memutar bolanya malas.


Sanzu tahu gadis ini marah padanya, jawaban yang setiap kali dia lontarkan pun juga sangat ketus. Bahkan saat ini [name] terlihat sangat waspada terhadap nya.


Suasana pun hening,  tak ada pembicaraan apapun. [name] sendiri kembali memandang arah luar, menikmati perjalan pulang.


Sanzu hanya memperhatikan gadis disamping nya. Dia mulai tersenyum misterius,  pikiran jahat mulai memasukinya. Entah apa yang akan dia rencanakan untuk merusak hubungan asmara rekannya itu. Memang terbilang jahat,  tapi ini adalah cara pintas untuk mendapatkan nya.


.


[Name] sampai di tempat pemberhentian yang dituju, hatinya lega ketika dia turun dari bus. Sungguh, jika [name] dekat dengan Sanzu hanya membuatnya takut dan trauma.


[Name] sendiri memang sengaja menjauhi orang no 2 dari Bonten itu,  dia tak mau berurusan lagi.


[Name] turun, kemudian dia berjalan menuju ke rumah keluarga Haitani.


Namun [name] tak menyadari ternyata Sanzu mengikutinya, dia sudah siap dengan sapu tangan yang sudah dilumuri obat bius.


[Name] di bekap, dia berontak memukul lengan sang pelaku. Namun pandangannya mengabur dan mulai menggelap. Tubuhnya tak bertenaga dan mulai tak sadarkan diri. Sanzu membopong [name] yang tak sadarkan diri.


Mobil hitam Sanzu sudah terparkir di tempat lain, Sanzu memasukinya ketika anak buahnya membukakan pintu mobilnya bersamaan dengan tubuh [name] yang tidak sadarkan diri. Dia tersenyum kemenangan.


............


Rindou yang baru saja pulang,  tak dapat melihat [name] dikamarnya. Bukankah dia akan pulang sore nanti dari rumah Ruki?  Pikir Rindou ketika [name] memberikan pesan pada nya melalui alamat e-mail di ponselnya.


Rindou mencoba menelpon nomor ponsel [name] tapi dia tak mengangkatnya bahkan malah dimatikan begitu saja.


Ini aneh pikir Rindou, [name] tak biasanya seperti ini. Dia sungguh khawatir, perasaan nya mulai tidak enak.


Mau tak mau dia mencoba menelpon Ruki,  menanyakan pada nya apakah [name] masih disana.


"Ruki, apa [name] ada disana?" Tanya Rindou yang mulai panik.


"[Name]? Padahal tadi sore dia sudah pulang,  Rindou-san. " Jawab Ruki yang menghentikan kegiatan menulis dikamarnya.


"Tapi dia tidak ada dirumah. Perasaanku juga tidak enak" Ujar Rindou.


Ruki mengernyit, seketika merasakan  hal yang sama dengan Rindou.


"Apa Rindou-san sudah menghubungi nomor ponselnya? " Tanya Ruki


"Sudah, tapi dia tak mengangkat nya. " Jawab Rindou


"Ya sudah,  aku akan cari sekitar sini. Bila perlu aku akan kerumah orangtuanya, mungkin saja dia kesana. "


"Baiklah..  Aku tunggu kabar baik darimu. Aku juga akan mencari nya disekitar sini. "


Rindou menutup telepon nya. Disana ada Ran yang baru saja pulang dengan keadaan setengah mabuk.


"Rin, kau akan kemana? "


"Aku akan mencari [name],  dia belum pulang nii-san. "


Ran mengernyitkan dahinya,  tak biasanya gadis itu tak pulang.


Biasanya [name] selalu ada setiap kali dia dan Rindou pulang. Terkadang gadis itu membuatkan makanan rumahan untuk mereka berdua, ketika Ran dan Rindou pulang cepat dari perkerjaan nya. Meskipun terkadang Rindou melarang nya untuk melakukan itu. Tapi gadis itu selalu keras kepala melakukannya karena rasa tidak enaknya sudah menetap di rumah mereka.


"Aku akan ikut mencarinya,  Rin. "


"Tidak perlu nii-san, kau terlihat mabuk. Istirahat saja biar aku yang mencarinya. "


"Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa hubungi aku. "


Rin mengangguk dan segera pergi keluar rumah untuk mencari [name].


Ran ikut cemas, biarpun Ran sering bermain perempuan tapi dia tak berani mempermainkan [name]. Baginya [name] adalah penyelamat adiknya. Dia sudah menganggap [name] sebagai keluarganya.


...***...


[Name] sadar, pandangan matanya masih menyesuaikan karena dia baru saja terbangun. Tapi dia tak bisa bergerak bebas,  tangan dan kakinya terikat bahkan mulutnya disumpal oleh sebuah lakban hitam.


Dia berusaha melepaskan diri, namun tak bisa, dirinya terikat di sebuah kursi bahkan [name] tidak dia mengenal tempat keberadaan nya sekarang.


Dia disekap di sebuah kamar, penerangannya pun terlihat tidak terlalu terang, perasaan takut pun muncul dalam dirinya.


[Name] sadar ada seseorang yang masuk ke kamar ini, namun pandangannya belum jelas karena cahaya lampu yang redup.


"Ternyata kau bangun juga ya. " Seringai Sanzu sambil membawa wine ditangannya.


[Name] tak dapat bicara, mulutnya tertutup lakban yang menempel, dia hanya bisa bersuara tak jelas, ditambah dia hanya berusaha menggerakkan tangannya yang ingin bebas. Ketika dia sadar siapa yang mendekat [name] kaget dihadapan nya adalah Sanzu Haruchiyo.


Sanzu berdiri dihadapan [Name] pun menunduk,  dia membelai gadis itu. Kemudian dia mengambil sesuatu dari sakunya yaitu sebuah obat yang sering dia konsumsi sebagai pemacu adrenalin nya.


[Name] sendiri hanya bisa menyaksikan Sanzu meminum sesuatu dari sakunya, dan itu adalah sejenis obat terlarang yang dia sambung dengan meminum wine ditangannya.


Benar saja,  sanzu menjadi seperti orang mabuk bahkan terlebih seperti sikap seorang psikopat. Dia mulai menyeringai menakutkan,  inilah yang [name] takutkan.


"Ayo kita bersenang-senang [name]!  Kita habiskan malam ini berdua. " Kata Sanzu yang mulai mengapit dagunya [name].


[Name] hanya bisa berontak, berusaha agar Sanzu tak menyentuh dirinya.


ketika dia memandang ke arah lain. Dia melihat sesosok roh gadis remaja yang melihat dirinya. Pandangan gadis itu ingin menolongnya, tapi dia tak bisa karena menembus.


Mata [name] tertuju padanya meminta tolong, tapi sosok itu tak dapat melakukan apapun. Dia hanya bisa menjatuhkan objek barang saja. Terlintas ide dari sosok roh gadis itu, dia akan mengelabui Sanzu. Dia keluar kamar Sanzu dan menjatuhkan barang yang ada seolah-olah ada seseorang yang masuk ke mansionnya Sanzu.


Sanzu merasa terganggu dengan kegiatannya bersama [name], dia mendengar suara keributan diluar kamarnya, dia kesal. Sanzu pun keluar mengambil pistolnya, dia ingin mencari dan menembak orang yang telah mengganggunya.


"Cih menganggu saja! " Ujar Sanzu.


Sosok gadis roh remaja itu secepatnya mengambil pisau cutter yang terdapat dilaci. Ini adalah kesempatannya untuk menolong [name] saat Sanzu mencari orang yang mengganggunya.


Bagi orang yang tak bisa melihatnya benda itu akan terlihat melayang, tapi bagi [name] yang melihat sosoknya itu adalah penyelamatnya.


"Haruchiyo,  memang gila. Kenapa kau bisa terjebak dengan dia disini?" Kata sosok roh gadis yang warna matanya sama seperti Sanzu Haruchiyo.


"Dia membius ku dan membawaku kesini. "


"Haruchiyo benar-benar tak waras. cepat ikuti aku, sebelum dia kembali dan mengerahkan bodyguard nya untuk menangkapmu. "


[Name] merapikan pakaiannya setelah itu dia mengikuti sosok roh gadis remaja itu. Sebab, sosok roh gadis remaja itu sangat tahu lokasi rumah ini. Dia menunjukkan arah jalan keluar tanpa ketahuan penjaga dirumah ini.


Sanzu kembali ke kamarnya, saat melihat [name] sudah tidak dikamarnya dia terkejut. Sanzu melihat tali yang sudah terpotong oleh cutter yang tergeletak di lantai berserakan, bahkan tas milik [name] pun sudah tidak ada.


"Cih sial! "


Sanzu segera mencarinya dan mengerahkan anak buahnya untuk mencari dan menangkap [name].


.


[Name] berlari mengikuti sosok gadis remaja yang melayang, dia menunjukkan arah paling aman untuk keluar dari mansionnya Sanzu.


[Name] pun bersembunyi dibalik pohon dekat pintu gerbang keluar mansion.


"Disana ada 2 penjaga,  apa kau bisa bela diri? " Tanya sosok gadis itu.


"Bisa,  tapi tidak op. "


"Bagus, setidaknya kamu bisa menghajar mereka. Nanti aku akan membantu dengan objek yang ada disini. "


[Name] mengangguk mengikuti ide gila sosok roh gadis remaja ini, dia akan melawan 2 penjaga yang berbadan besar.


"Sekarang! " Teriak sosok roh gadis remaja itu.


[Name] berlari,  dua penjaga itu melihat [name] dan akan menangkapnya. [Name] melakukan tendangan pada bagian wajahnya, kemudian menghajar pria yang satunya. Sedangkan Sosok roh gadis remaja itu melayang kan sebuah tongkat besi yang terletak dipos penjagaan yang tergeletak begitu saja. Dia memukul dari belakang, sehingga penjaga itu tersungkur.


"Oi.. menunduk! " Teriaknya.


[Name] menunduk,  kemudian sosok roh gadis remaja itu melayangkan tongkat besi dan mengenainya. dua penjaga itu tidak sadarkan diri. 


"Ayo cepat, sebelum Haruchiyo sampai sini. "


[Name] berhasil melarikan diri,  dia berlari mengikuti sosok roh gadis remaja yang menunjukkan ke tempat keramaian.


........  ...


"Ah beneran ini melelahkan!!!  " Teriak [name].


"Jangan mengeluh! Apa kamu mau tertangkap Haruchiyo. "


"Kamu enak melayang!  Aku kan berlari! "


Sosok roh remaja gadis itu hanya memutar bola matanya.


Suasana malam nampak sepi, seperti nya hari sudah tengah malam. Mobil yang melintas pun sudah jarang. [Name] tak tahu harus bersembunyi dimana lagi, dia sudah lelah. Saat ini dirinya hanya bisa sembunyi digang sepi. Untung saja disana tak ada orang, malah yang ada [name] melihat aktivitas astral digang tersebut bagi orang awam mungkin ini menakutkan tapi [name] sendiri sudah biasa melihat seperti itu.


Mereka, mahluk-mahluk itu berusaha ingin berkomunikasi dengannya, namun [name] sendiri tak menanggapi nya.


Sedangkan sosok gadis remaja itu melihat keadaan sekitarnya, tak lama dia melihat mobil yang melintas dan segera memberitahukan pada [name].


"Eh itu ada mobil yang melintas, coba kau berhenti kan dan minta tolong. "


[Name] mau tidak mau menuruti sosok gadis ini,  daripada dia tertangkap psikopat gila itu.


[Name] berhenti ditengah-tengah menghalangi lajunya mobil yang melintas.


.


Chifuyu yang sedang mengobrol dengan Kazutora terkejut melihat seorang gadis yang berada ditengah-tengah menghalangi laju mobil mereka.


"Kazutora cepat rem! " Teriak Chifuyu.


Kazutora mengerem mendadak,  mobil mereka hampir saja menabrak [name].


"Cih!  " decak Kazutora kesal.


Kazutora dan Chifuyu pun turun,  memeriksa siapa gadis itu. Kazutora sungguh ingin memarahi orang itu.


"Kau ingin mati ditabrak mobil kami? " Emosi Kazutora.


[Name] ingat mereka berdua,  mereka yang tadi siang berkunjung ke kuil tempat Ruki. Begitupun dengan Chifuyu yang ingat dengan [name] yang ditolongnya tadi siang dikuil.


"Tidak! Aku tidak mau ditabrak olehmu. Aku hanya ingin minta tolong.  Tolong aku! Aku dikejar penjahat! "


"Heh? Penjahat? Kau serius? " Ketus Kazutora sambil melihat penampilan [name] yang terlihat seperti dikejar sesuatu.


"Aku serius!  Kau pikirkan saja, mana ada orang nekat berhentiin mobil yang melintas kek gini. " Kesal [name]


"Sudah kazutora. ayo cepat kau naik saja nona. " Ajak Chifuyu


"Terima kasih, tuan!" Ucap [name] membungkuk.


"Chifuyu kau serius akan membawa dia. " Tanya Kazutora.


"Iya, seperti nya gadis ini tidak berbohong. Lihat saja penampilannya seperti terjadi sesuatu" Jawab chifuyu yang memerah melihat tanda merah dileher gadis didepannya.


Kazutora hanya menghela nafas dengan keputusan Chifuyu. Mau tak mau dia hanya menurutinya saja.


Mereka pun masuk mobil yang dikendarai Kazutora. Chifuyu berada didepan dengan Kazutora sebagai pengemudinya. Sedangkan [name] di belakang bersama sosok seorang gadis, dan sosok lain yaitu sosok remaja laki-laki, berambut hitam panjang yang dilihatnya tadi siang di kuil.


"Kita bertemu lagi ya cewek absurd. "


"Kyaaa... Setan gondrong!"


"Cih siapa yang kau panggil setan gondrong,  sialan! "


Kazutora dan Chifuyu berbalik karena  mendengar berteriak dan bertingkah aneh dibelakangnya.


"Kau berisik. " Ujar kazutora.


" Maaf" Ucap [Name].


Sosok roh remaja lelaki itu tertawa puas,  [name] hanya berwajah masam.


"Baji kau tak sopan terhadap perempuan. "


"Hah?  Senju? Kau Akashi Senju kan?"


[Name] cuma memperhatikan mereka berdua, karena didepan masih ada Chifuyu dan kazutora. [Name] tidak mau dianggap tak waras oleh mereka berdua jika ikut berkomunikasi dengan kedua roh ini.


Pikiran [name] hanya berkata ternyata dua roh beda gender ini saling mengenal.


" Ternyata kau juga mati ya! "


"Tak perlu kau perjelas,  Baji Keisuke. "


..........


[09-04-2022]