
Rindou x Reader
Karakter milik Ken Wakui
......................
Sanzu mengingat kejadian dimana Mikey, Rajanya telah menangis dan mentalnya kembali kambuh. dia sungguh tak terima atas apa yang [name] lakukan pada sang raja yang dihormatinya. dia tahu sekarang [name] adalah kekasih Rindou, tapi dia tak peduli. Dia akan tetap memberi pelajaran pada gadis pemilik kekuatan supranatural itu.
Benar saja, Sanzu membuat perhitungan dengan gadis itu. Sanzu memang belum turun tangan, namun dia menyuruh anak buah nya untuk menangkap gadis itu.
.
[Name] baru saja pulang dari kampusnya, tiba-tiba 3 orang berpakaian jas dan berbadan besar menghadangnya. Mereka menyuruh [name] ikut, otomatis [name] merasa aneh serta takut dengan mereka. [Name] bukan nya tak berpengalaman dalam bertarung, tapi lawan [name] kali ini adalah manusia dan dia tak berpengalaman melawan mereka. [Name] cenderung menghindar dari perseteruan dengan sesama manusia, bukannya dia pengecut tapi dia tidak ingin mencari musuh. Sudah cukup hidup nya susah, ditambah berseteru dengan manusia lain jadi tambah susah itulah pikirnya.
"Baik-baik aku akan ikut, tapi kalian tidak akan apa-apain aku kan. " Ucap [Name] dengan nada yang polos.
"Tenang nona, bos kami hanya ingin bertemu denganmu saja. "
Mau tak mau dia ikut, daripada harus melawan mereka. [Name] menaiki mobil ke 3 orang itu. Sebenarnya hatinya sangat was-was dan waspada.
Membutuhkan waktu setengah jam, akhirnya mereka sampai di sebuah gedung tak terpakai. Ketika sampai, [name] disuruh turun dan mengikuti mereka ke ruangan bosnya.
Sepanjang perjalanan memasuki gedung untuk menemui bos mereka. [Name] melihat banyak mahluk astral didalamnya. Setiap sudut ruangan yang dilaluinya terlihat seperti tempat pengeksekusian. Itulah yang ditunjukkan oleh mahluk astral disana. [Name] melihatnya saja miris dan mual dengan pemandangan penyiksaan bahkan lebih kejamnya pembunuhan hingga pemutilasian sang korban seperti reka adegan pada film psikopat.
[Name] hanya bisa menutup wajahnya dengan buku tebal yang dibawanya sambil melihat ke arah lain yang lebih aman karena sungguh mengerikan baginya. Anak buah sanzu yang melihat gerak-gerik gadis itu hanya memandang nya aneh.
Sampailah pada ruangan sang bos, salah satu perwakilan nya melaporkan kedatangan mereka sesuai perintah.
"Bos kami sudah membawanya. "
"Baguslah, suruh dia masuk. "
" Baik, bos"
[Name] pun masuk bersama perwakilan anak buah sanzu tadi.
"Kau pergilah. "
Anak buah Sanzu pun keluar, kini hanya [name] dan sang bos didalam.
[Name] tidak bisa melihat siapa orang itu karena orang tersebut hanya duduk membelakangi nya.
Ketika berdiri dan berbalik, dengan katana yang sudah dipegangnya. tiba-tiba saja [name] diserang, tapi dia reflek menghindar dan menjadikan buku kuliahnya yang tebal menjadi tameng. Katana itu menancap dibuku [name], dengan posisi nya seperti orang yang sedang berlutut serta kepala name menyamping untuk menghindar bilah katana.
.
"Hahaha... Ternyata kau bisa menghindar ya [name]." Ucap sanzu dengan menunjukkan seringai nya.
[Name] membola matanya, tak percaya bahwa Sanzu yang menyerangnya secara mendadak.
"Apa maksud dengan semua ini, Sanzu-san? " Kesal [name] yang masih mempertahankan posisinya.
"Apa ya? Mungkin memberimu pelajaran, atau bisa jadi mengujimu. Bukankah kau ahli petarung yang menggunakan senjata sepertiku, bukan?" Ucap Sanzu mengejek.
[Name] masih dalam posisi bertahan, dengan bilah pedang sanzu menembus buku tebal itu. Mau tidak mau, dia harus melawan sanzu daripada dia harus mati ditusuk katana tajam itu.
[Name] menghempaskan katana yang menancap pada buku tebal itu hingga lembaran-lembarannya terurai. Itu adalah salah satu untuk mengecoh Sanzu dan benar saja Sanzu sempat terdorong kebelakang. Ketika ada kesempatan dia menendang perut Sanzu. Sanzu tak bisa menghindar dan terkena tendangan gadis didepannya yang tidak main-main.
[Name] berusaha melarikan diri setelahnya, dia tahu dia tidak akan menang.
Sanzu yang memegang perutnya sedikit tertawa seperti seorang pshyco, dia tertarik dengan kemampuan gadis ini.
Namun Sanzu sadar [name] akan lari darinya, dia tak kalah cepat dari [name] dan Sanzu menarik rambut [name]. Dia menjambak rambut [name].
.
"Kau tidak akan bisa lari dariku, hm? "
"Lepaskan aku sanzu-san! apa salahku? "
"Kau ingin tahu apa salahmu? cih..Dengar! Gara-gara kau rajaku jadi aneh dan sensitif. Kau menujukkan hal-hal yang tak masuk akal sialan! Seharusnya kau dari awal ku bunuh saja. "
Kepala [name] terasa sakit seolah kulit kepalanya akan terlepas karena ditarik oleh Sanzu. [Name] gemetar ketakutan dan ingin menangis. Jika lawannya mahluk astral, [name] masih bisa melawan bahkan menghabisinya dengan mantra. Tapi jika lawannya manusia, mantra itu tidak akan pernah mempan.
.
[Name] merintih kesakitan sambil memegang tangan Sanzu untuk minta dilepas. Airmatanya keluar karena Sanzu menariknya begitu kuat.
"Kalau kau ingin lepas dariku? Serius lah bertarung denganku. Bukankah kau pandai menggunakan senjata sepertiku bukan? " Bisik Sanzu ditelinga [name].
[Name] menjerit kesakitan, dia masih memegang tangannya sanzu.
"Aku tidak bisa, aku tidak bisa melukai ataupun membunuh manusia Sanzu-san. "
"Kau naif, apa perlu ku penggal kepalamu sekarang. " Ucap Sanzu yang marah dan merasa diremehkan.
Sanzu menenpelkan bilah katana dileher [name] hingga leher [name] sedikit tergores akibat pergerakan [name] yang memberontak. Darah keluar dari luka goresan itu.
[Name] menutup mata, dia sungguh takut bercampur sakit karena perlakuan kasar Sanzu.
"Cepat! lawan aku, atau kau akan mati dengan katana kesayanganku ini. " Ucap Sanzu yang bernada datar makin menempel di kulit leher [name] yang sudah mengalir darah disekitar lehernya sampai merembes ke pakaiannya.
[Name] terpaksa harus melawan, dia mengangguk menyetujui keinginan Sanzu.
"Ba.. Baik Sanzu-san. "
"Bagus."
Akhirnya Sanzu melepaskannya, [name] sedikit bernafas lega, mengusap air matanya dan rambutnya yang tadi terikat kini harus berantakan karena ulah Sanzu. Bahkan [name] tidak sempat mengobati luka goresan yang menganga dileher nya. Walaupun terasa sakit, tapi dia harus menahannya sampai selesai.
Sanzu berjalan menyeret [name] untuk memilih senjata yang tersimpan di pojok ruangannya untuk di pakai gadis itu. Kemudian memilih senjata belati yang tersimpan disana.
"hanya itu? " remeh Sanzu.
[Name] mengambilnya dengan gemetaran, sebab dia tak pernah bertarung dengan manusia apalagi membunuh manusia. Ditambah harus melawan manusia sekelas Sanzu Haruchiyo yang terkenal sadis dan tak kenal ampun. [Name] sudah pasrah jika dirinya harus mati hari ini jika dia kalah.
.
"Ayo maju anggap saja aku adalah mahluk yang selalu kau lawan itu. Jika kau bisa melukaiku, maka aku akan menyerah. " Ucap Sanzu menatap meremehkan.
[Name] memperlihatkan posisi dalam teknik beladiri yg menujukkan kuda-kuda ketika memegang pisau belati yang pernah dipelajarinya. Sanzu yang melihatnya menyeringai, dia siap menerima serangan gadis itu dengan bersiap menggunakan Katana yang dipegangnya.
Pertarungan kedua nya pun mulai, [name] mulai mencabut belati itu dari sarungnya. [Name] menyerang Sanzu, tapi dia dapat menghindar dari serangannya dengan mudah. Sanzu mengangkat katana nya untuk menahan serangan [name] dan menghempaskan nya. Tak tinggal diam Sanzu juga membalas serangannya.
Melihat itu [name] melakukan pertahanan agar katana Sanzu tak mengenainya, dia terdorong beberapa langkah. Perbedaan kekuatan jelas terlihat, Sanzu lebih kuat dan lebih berpengalaman dalam pertarungan.
Saat menyerang ke sampingan nya, [name] mencoba menghindar, bilah katana nya berhasil sedikit memotong rambutnya yang terurai.
"Kau hebat bisa menghindari serangannya dengan belati itu, biasanya mereka tak akan bisa menghindari serangan ku tadi dan langsung mati terbunuh." Ujar Sanzu yang melihat bilah katana nya dan tersenyum seperti pshyco.
[Name] memang merasa terpojok, dia harus berkonsentrasi. Pertarungan ini menyangkut hidup dan matinya.
"Cukup! Kau jangan mempermainkan ku Sanzu-san. " Ucap [name] mengeratkan gagang belati yang dipegangnya. Dia sungguh marah dengan perlakuan Sanzu yang kejam seperti ini.
[Name] kembali menyerang, Sanzu kembali menghindar. [Name] mencari celah untuk mengalahkan Sanzu. Tak ada cara lain lagi, [name] akan melakukan hal nekat. Jujur saja [name] merasa lelah, seluruh badannya sudah sakit karena terdapat luka sayatan serta lehernya juga bahkan stamina nya juga menurun. Perbedaan pengalaman [name] dan Sanzu pun sangat kentara.
Benar saja [Name] nekat menahan serangan katana Sanzu dengan tangan kosong. Dia berusaha menyingkirkan katana itu dengan kedua tangannya. Kedua tangan nya kini terluka dan bercucuran darah tetapi [Name] berhasil menyingkirkan katana Sanzu dan menendang wajah Sanzu secara telak hingga terlempar ke belakang meja.
Sanzu terluka, dari wajahnya bersimbah darah serta terdapat luka lebam akibat tendangan keras [name]. Sanzu tertawa kesetanan. Dia tidak menyangka gadis ini melakukan hal nekat seperti itu bahkan bisa membuat dirinya terluka.
Sanzu bangkit dan menghampiri [name], namun [name] berjalan mundur dan jatuh terduduk. Dia pasrah jika Sanzu membunuhnya sekarang sebab [name] sudah tidak kuat melawan.
Kini [name] dan Sanzu bertatap muka, dia masih menyeringai. Sanzu mengapit dagunya [name] dan mengelus pipi serta bibir gadis itu. Sanzu berani memberi kecupan si bibir gadis ini.
[name] terkejut, dengan ciuman dadakan ini. Dia tak bisa menampar Sanzu karena lengannya yang terluka.
"Huh! Aku kalah. Pantas saja Rindou menyukaimu, kau benar-benar gadis yang sulit diprediksi. Aku jadi menyukaimu."
"lepaskan! Kau sudah keterlaluan Sanzu-san! " Ucap [name] menepis kasar tangan Sanzu dan mendorongnya.
[name] segera bangkit, dia membereskan barang-barangnya yang berceceran dilantai meskipun [name] harus menahan sakit dari luka-luka yang ditimbulkan bertarung tadi.
"Ya.. Ya aku tahu. Tapi bagaimana ya, aku tidak terlalu peduli sih! ." Senyumnya menyeringai.
"Kau gila Sanzu-san! " Ucap [name].
"Ya terserah, yang jelas aku sungguh tertarik padamu. Oh ya, jika kau bosan dengan Rindou kau boleh menemuiku. " Ucap Sanzu yang memainkan rambut [name]
"Kau sangat gila!" Ucap [name] yang menepis tangan Sanzu, dan name segera pergi dari gedung kosong itu.
.
Hari menunjukkan malam, [name] tidak lagi melakukan kerja part time karena Rindou yang melarang semua itu. [name] saat ini sedang berada rumah sakit, dia diantar oleh seorang pria bertato naga di pelipisnya. Pria yang bernama Ryuuguji Ken dengan panggilan draken ini membantu [name] dijalan. Draken awalnya melihat [name] terlihat berantakan dengan jalan sempoyongan, dia melihat luka lehernya dan luka-luka ditubuhnya serta kedua tangannya berceceran darah. pikir Draken, gadis itu adalah korban penganiayaan dan harus segera mendapat pertolongan.
"Terima kasih Draken-san karena sudah mengantarku ke rumah sakit. " Ucap [name] ber-ojigi.
"Sama-sama, bagaimana dengan luka-lukamu? " Tanya Draken.
"Luka-luka ku sudah diobati, bahkan luka dileherku juga sudah diobati dan di telapak tanganku sedikit dijahit. " Jawab [name] sambil memperlihatkan kedua tangannya yang sudah diperban.
Sebenarnya Draken ingin menanyakan kenapa gadis ini mendapatkan luka seperti itu, apakah gadis ini adalah korban penculikan yang melarikan diri? Pikir Draken. Namun, dia urungkan karena merasa tidak enak jika Draken menanyakannya langsung. Takut-takut gadis ini menjadi trauma.
"Aku harus pulang, Draken-san. Sekali lagi Terima kasih. "
"Ayo aku antar, sudah malam. Tidak baik untuk gadis sepertimu berjalan dimalam hari. "
Draken menarik gadis itu, dia memang tidak tega melihat [name] pulang dengan keadaan yang tidak baik seperti itu.
Di depan parkiran rumah sakit, Draken menyuruh [name] duduk dibelakang motornya.
"Tunjukkan dimana arah rumahmu." Ucap Draken yang memboncengi [name].
[Name] mengerti, dia menujukkan arah apartemennya dan tak lama sampailah di sebuah apartemen [name].
[Name] turun dari motornya Draken dan kembali mengucapkan terima kasih padanya. Draken mengangguk, dan pamit pergi setelah sampai dikomplek apartemen [name].
.
[Name] masuk apartemen itu. Tangisnya pecah saat dikamarnya. Dia menangis sendirian, dia sungguh takut tapi dia tidak berani melaporkan kejadian tadi kepada polisi sebab yang ada malah orang terdekat [name] yang akan menjadi korban kesadisan Bonten bahkan dia tak berani mengatakan ini pada Rindou kekasihnya.
Bahkan [Name] juga menyembunyikan keterkaitan nya dengan Bonten pada orangtuanya, cukup Ruki teman kecilnya saja yang tahu itu karena hal penyelamatan Rindou waktu itu. Semua itu hingga menjadi bumerang bagi dirinya saat ini.
Yang lebih parah nya, [name] mencintai Rindou yang merupakan eksekutif Bonten, bahkan [name] sendiri adalah kekasihnya Rindou saat ini. Masalah pun bertambah rumit ketika Sanzu mengatakan hal seperti tadi siang, dia sungguh takut dengan sifatnya yang seperti psycho hingga melukai dirinya.
[Name] memeluk lututnya menangis tersedu-sedu sambil bersandar pada tempat tidurnya.
"Tuhan, cobaan apa lagi untukku? " Isak nya.
...*******...
Sanzu baru saja datang ke markas dengan wajah yang babak belur yang sudah diobati. Kakucho yang sedang meminum wine nampak memperhatikan kedatangan Sanzu yang terlihat dalam mode psycho. Dia ikut berkumpul bersama Kokonoi, Mochizuki, Takeomi dan Kakucho minus Mikey dan Haitani bersaudara.
"Ada apa dengan wajahmu? " Tanya Takeomi.
"Aku habis bersenang-senang tentunya. " Ucap Sanzu yang menuangkan wine di gelas kosong.
"Apa kau bertarung dengan musuh sampai seperti itu? " Tanya Kakucho
"Ah.. Tidak. Justru aku bertarung dengan orang yang menarik perhatianku. " Jawab Sanzu yang mengeluarkan obat terlarang dari saku nya dan menelannya bersama wine.
"Oh ya? Siapa? " Tanya Takeomi.
"Itu rahasia." Ucap Sanzu. Kemudian dia meminum lagi wine dari gelas yang dipegang nya.
Kokonoi dan Mochizuki hanya memperhatikan percakapan mereka berdua sambil meminum wine. Mereka berdua sudah tahu kegilaan rekannya itu.
......................
[01-04-2022]